Translate

Monday, December 14, 2015

KEIMANAN



PESAN RASULULLAH TENTANG KEIMANAN

Tugas Mandiri
Mata Kuliah   :  Hadis
Disusun oleh :
Nama              : DWI ANDIKA
NIM                : 023153038
Ruang             : SIYASAH B I
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
PROGAM STUDI HUKUM TATA NEGARA ( SYASAH )
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SUMATRA UTARA

KATA PENGANTAR
  Alhamdulillah, Puja dan Puji hanya layak tercurahkan kepada Allah SWT. , karena atas limpahan karunia-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam. Manusia istimewa yang seluruh perilakunya layak untuk diteladani, yang seluruh ucapannya adalah kebenaran, yang seluruh getar hatinya kebaikan. Sehingga Penulis dapat menyelesaikan tugas mandiri ini tepat pada waktunya.

     Saya salaku penulis sangat tertarik untuk mengajukan Judul:
PESAN RASULULLAH TENTANG KEIMANAN

  Banyak kesulitan dan hambatan yang saya hadapi dalam membuat tugas mandiri ini tapi dengan semangat dan kegigihan serta arahan, bimbingan dari berbagai pihak sehingga saya mampu menyelesaikan tugas mandiri ini atau makalah  ini dengan baik, oleh karena itu pada kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada :
  • Dua orang  istimewa yaitu Mamah dan Papa saya yang selalu menjadi inspirasiku, serta mencurahkan kasih sayang tanpa pamrih.
  • Bapak Prof. Dr.Nawir Yuslem, MA. Selaku dosen dengan mata kuliah Hadis. Semoga ilmunya berkah dan menjadi aliran amal hingga kelak di Barzakh Amin.
  • Irma yaitu  kakak saya, yang sudah memberikan motivasinya kepada saya dan teman – teman kelas SIYASAH B I
  Sya menyimpulkan bahwa tugas mandiri atu makalah ini masih belum sempurna, oleh karena itu saya menerima saran dan kritik, guna kesempurnaan tugas mandiri atau makalah ini dan bermanfaat bagi saya dan pembaca atau pendengar pada umumnya.


                                      

UIN SU , September 2015
    Penulis : Dwi Andika

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………………………………………………………………………………………   i
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………….   i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………   iv
BAB I      PENDAHULUAN…………………………………………………………………………..   1
1.      LatarBelakang………………………………………………………………
2.      RumusanMasalah…………………………………………………….
3.      Tujuan penulisan...........................................................................

BAB II     PEMBAHASAN……………………………………………………………………………..  
  1. Pengertian hadis..............................…………………………………………………..
  2. Topik inti hadis…………………………………………………………….
BAB III     KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………………………..  

DAFTAR  PUTAKA………………………………………………………………………… 











BAB I
  PENDAHULUAN

1.      LATAR BELAKANG


Sebenerya. sebelum kta mempelajari Hadis terlebih dulu kita belajar Ulumul Hadis kenpa sya mengatakan sedemikian karna, Ulumul Hadis merupakan salah satu disiplin ilmu agama yang sangat penting terutama sekali untuk mempelajari dan menguasai hadis secara baik dan tepat.m. dilihat dari fungsinya, Ulumul Hadis mempuyai peran penting terhadap Hadis, seperti halnya kedudukan Ulumul Qur’an terhaadap Al-Qur’an. dengan demikian Hadis dengan Ulumul Hadis sangat erat hubungan keduanya

Secara terminologis, para ulama, baik muhaditsin, fuquha, ataupun ulama-ulama, merumuskan pengertian Hadis secara berbeda-beda. Perbedaan pendapat atau pandangan tersebut lebih di sebabkan oleh terbatas dan luasnya objek tinjauan masing-masing, yang tentu saja mengandung kecenderungan pada aliran ilmu di dalamnya
Perbedaan pandangan trsebut kemudian memelihara dua macam pengertian Hadis, yakni pengertian terbatas dan pengertian luas. Dengan demikian, menurut ulama Hadis, esensi Hadis adalah segla berita yang berkenaan dengan sabbda, perbuatan, taqrir,dan hal ikhwal Nabi Muhammad SAW. Yang di maksut ikhwl adalah segala sifat dan keadaan peribadi Nabi Muhammad SAW.   
Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya, Alquran dan Hadis, tampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti-feodalistik, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia dan bersikap positif lainnya.
Menurut Fazlur Rahman secara eksplisit dasar ajaran Alquran adalah moral yang memancarkan titik beratnya pada monoteisme dan keadilan social, dapat dilihat misalnya pada ajaran tentang ibadah yang penuh dengan muatan peningkatan keimanan, ketaqwaan yang diwujudkan dalam akhlak yang mulia.
Nilai suatu ilmu ditentukan oleh kandungan ilmu tersebut. Semakin besar nilai manfaatnya, semakin penting ilmu tersebut untuk dipelajari. Ilmu yang paling utama adalah ilmu yang mengenalkan kita kepada Allah SWT, Sang Pencipta. Sehingga orang yang tidak kenal Allah SWT adalah orang yang bodoh, karena tidak ada orang yang lebih bodoh dari pada orang yang tidak mengenal penciptanya.






Allah menciptakan manusia dengan seindah-indahnya dan selengkap- lengkapnya bentuk dibanding dengan makhluk/ciptaan yang lain. Kemudian Allah bimbing mereka dengan mengutus para Rasul-Nya (menurut hadis yang disampaikan Abu Dzar bahwa jumlah para Nabi sebanyak 124.000 orang, namun jumlah yang sebenarnya hanya Allah saja yang mengetahuinya), semuanya menyerukan kepada tauhid (diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam At Tarikhul Kabir 5/447 dan Ahmad dalam Al Musnad 5/178-179). Sementara dari jalansahabat Abu Umamah disebutkan bahwa jumlah para Rasul 313 (diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Maurid 2085 dan Ath-Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabir 8/139) agar mereka berjalan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta melalui wahyu yang dibawa oleh Sang Rasul. Orang yang menerima disebut mukmin, orang yang menolaknya disebut kafir serta orang yang ragu-ragu disebut munafik yang merupakan bagian dari kekafiran.
Begitu pentingnya aqidah ini, sehingga Nabi Muhammad Saw, penutup para Nabi dan Rasul membimbing umatnya selama 13 tahun ketika berada di Makkah dengan menekankan masalah aqidah ini, karena aqidah adalah landasan semua tindakan, bahkan merupakan landasan bangunan Islam. Oleh karena itu, maka para dai dan para pelurus agama dalam setiap masa selalu memulai dakwah mereka dengan tauhid dan pelurusan aqidah

2.       Rumusan masalah

Disini ada tiga pokok masalah yang saling berkaitan satu sama lain yaitu

a.       Iman, Islam,Ihsan, dan hari Kiamat
b.      Berkurangya Iman dan Islam karena berbuat maksiat dan
c.       Rasa malu adalah sebagian dari Iman

3.      Tujuan penulisan

Tujuan penulisan makalah adalah memberikan penjelasan mengenai hubungan antara, Iman, Islam,Ihsan, dan hari Kiamat, Berkurangya Iman dan Islam karena berbuat maksiat, dan Rasa malu adalah sebagian dari Iman serta implementasinya dalam kehidupan sehari-hari selain itu juga untuk memenuhi tugas  kajian Hadis  islam ini.










BAB II
 PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN HDIS

1.      Pengertian Hadis secara Etimologis
Menurut Ibn Manzhur,kata ‘Hadis’ berasal dari bahasa Arap,yaitu al-hadis, jamaknya al-hadis, al-haditsan,dan al-hudsan. Secara Etimologis, kata ini memiliki banyak arti, di antaraya al-jadid (yang baru), lawan dari al-qodim (yang lama) dan al-khobar,yang berarti kabar atu berita.[1]
Di samping pengertian tersebut,M.M. Azami mendefenisikan bahwa kata ‘Hadis’ (Arab: al-hadits), secara etimologi (lughawiyah) berarti komunikasi’,’kisah’, ‘percakapan’: religius atau sekular,historis atau kontenporen.[2]
      Dlam Al-Qur’an, kata hadis di gunakan sebanyak 23 kali.
Berikut ini beberapa contohya :
a.      Komuni kasi religius : risalah atau Al- Qur’an.

Allah SWT. Berfirman yang artinya,
Allah Ta’ala menurunkan secara bertahap hadis (risalah) yang paling baik dalam bentuk kitap ( Q.s. Az-zumar [39]:23)
                        Dan firman-Nya lagi,
Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan hadis(Al-Qura’an) ini. (Q.s. Al-Qolam [68]: 44 )
b.      Kisah tentang suatu watak sekular atu umum

Allah SWT. Berfirman yang artinya
Dan apa bila kamu melihat orng-orang memperolokolokan ayat-ayat kami, ttingalkan lah mereka sehinga membicarakan hadis (perkataan) yang lain. ( Q.s. Al-an’am [6] :68)        
   
Dari penjelasan di atas bisa kita simpulkan bahwa Hadis telah di gunakan dalm Al-Qur’an salm arti ‘kisah’ ‘komunikasi’, atau ‘risalah’, religius maupun sekular, dari suatu masa lampau atau masa kini






2.      Pengertian hadis secara terminologis

Secra terminologis, para ulama, baik muhaditsin, fuqoha, ataupun ulama ushul, merumuskan pengertian hadis secara berbeda-beda. Perbedaan pandangan tersebut lebih disebabkan oleh terbatas dan luasnya objek tinjauan masing-masing, yang tentu saja mengandung kecenderungan pada aliran ilmu yang di dalamnya.[3]
Ulama Hadis mendefinisikan hadis sebagai berikut,
Segala sesuatu yang diberitakan oleh Nabi Muhammad SAW.,baik berupa sabda,perbuatan,taqrir,dan sifat-sifat maupun hal ihwal Nabi,4[4]
            Menurut istilah ahli Usul Fiqih, Pengertian Hadis adalah,
            Hadis adalah segala sesuatu yang di sandarkan kepada Nabi SAW, selain Al-Qur’an Al- Karim,baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Nabi yang bersangkut paut dengan hukum syara’.[5]
            Adapun menurut istilah para fuqoha, Hadis adalah
            Segala sesuatau yang di tetapkan Nabi SAW. Yang tidak bersangkut paut dengan masalah-masalah fardu atau wajib.[6]
            Perbedaan pendapat tersebut kemudian melahirkan dua macam hadis, yakni pengertian terbatas dan pengertian luas.[7] Dan pengertian hadis secara terbatas, sebagai mana di kemukakan oleh fumhur Al-Muhaditsin, adalah,
“ Suatu yang di nisbatkan kepada Nabi SAW. Baik berupa perkataan, pernyataan,(taqrir) dan sebagainya,[8]
            Dengan demikian, menurut ulama Hadis, esendi hadis adalah segala berita yang berkenaan dengan sabda, perbuatan, taqrir, dan hal ikhwal Nabi SAW. Yang di maksut hal ikhwal adalah segala sifat dari kebiasaan Nabi SAW.
            Adapun pengertian Hadis secara luas, sebagai mana di katakan Muhammad Mahfudz At-Tirmizi, addalah,
“Sesunguhnya Hadis bukan hanya di marfukan kepada Nabi SAW.  Melainkan dapat pula di sebutkan pada yang maukuf (dinisbat kan pada perkataan dan sebaganya dari sahabat) dan maktu’(di nisbatkan kepada perkatan dan sebagainya dari tabiin).[9]



B.     TOPIK INTI

1.      Pengertiaan Iman, Islam, Ihsan, dan Hari Kiamat.
Sebelumya, empat masalah ini saling berkaitan satu sama lain, karna seseorang tidaklah cukup hanya .enganut Islam saja tampa mengiringya dengan Iman. Begitu pulu sebaliknya Islam tampa iman tidak lah berarti. Akan tetpi Iman dan Islam juga belum cukup karna harus di barengi Ihsan supaya segala amal ibadahnya mendapat nilai atau berpahala di sisi Allah SWT. Dengan demi kian,ia akan mendapatkan hasilnya, yaitu mendapat pahala dari ibadahnya, baik di dunia, dan terutama di hari kiamat kelak, yang tidak ada seorang pun mengetahuinya kapan terjadinya kecuali Allah SWT.
a.       Iman
Iman ada lah percaya kepada Allah SWT., para malaikat-Nya, berhadapan dengan Allah,percaya kepada para Rosul-Nya,dan percaya kepada hari berbangkit dari kubur, yaitu hari kiamat. Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT:
Yang artinya
“ Rosul itu mempercayai apa yang di turunkan kepadanya dari Tuhanya. Begitu pula orang-orang yag beriman.semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rosul-Rosulnya-Nya. Dan mereka berkata, “Kami mendengar dan kam taat, (kami mengharap) ampunan-Mu, dan kepada engkau-lah kami kembali”
                                                                                          (Q.s.Al-Baqarah: 285)
      Secara sinkat dapat dijelaskan bahwa Iman artinya kepercayaan, yang intinya percaya dan mengakui bahwa Allah itu ada dan Esa, Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusa-Nya.
      Dalam Hadis lain, seperti yang diriwayatkan oleh Kahmas dan Sulaiman At-Tamimi, disebutkan pada beriman kepada Qadha dan Qadar Allah, baik yang buruk maupun baik.[10] Dengan demikian, jumlah rukun iman, menurut sebagian besar ulama, adalh enam
      Keimanan dipandang sempurna, apabila ada pengakuan dengan lidah, pembenaran dengan hati secara yakni dan tidak bercampur keraguan, dan dilaksanakan dalam perbuatan sehari-sehari, seta adanya pengaruh terhadap pandangan hidup dan cita-citaya
      Dalam Al-Qur’an dijelaskan tentang kewajiban, sikap, dan tingkah laku seorang yang beriman dlam kehidupanya. Selain itu, laku seorang yang beriman dalam kehidupanya. Selain itu, diterangkan pula dengan jelas tentang pahala dan kebahagiaan yang akan diterimanya.



Diterangkan dalam ayat Al-Qur’an yang artinya,
“Sesunghnya bereuntunglah orang –orang yang beriman, (yaitu) orang orang yang khusyuk dalam sholatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluanya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.”
                                                                                          (Q.s.Al-Mu’minun:1-6)
Surat lain juga menjelaskan bahwasanya
“Sesunguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apa bila di sebut nama Allah gemetar lah hati mereka, dan apa bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya,bertambah lah iman mereka (karenaya) dan kepada tuhan lah mereka menfkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka”
                                                                                          (Q.s. Al-Anfal:2-3)
       Dengan demikian, iman saja tidaklah cukup ,tetapi harus di sertai berbagai amal saleh agar mendapat karuniya-Nya sbagai pahala bagi mereka yang menaati-Nya. Sebaliknya, bagi mereka yang menyombongkan diri dan enggan beribadah kepada-Nya, ia akn mendapat siksa Allah (Q.s. 4:172). Bahkan jika dalam suatu negara banyak penduduk yang mndustakan berbagai ayat Allah negri itu akan mendapat azab-Nya.(Q.s.7:96)
      Di samping itu,Iman dapat diibaratkan sebagi makanan rohani jiwa yang kosng dari iman akan lemah dan hampa sebagai mana jasad yang tidak di beri makan. Dengan demikian, iman erupakan inti kehidpan batin dan sekali gus menjadi penyelamat dari siksa abadi di akhirat kelak.
b.      Islam

Islam adalh yang dibawa oleh para utusan Allah SWT. Dan di sempurnakam pada masa Nabi Muhammad SAW. Yang memiliki sumber Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Sebagai petunjuk bagi manusia sepanjang masa. (Q.s. 48, dan 5:3)
Dalam Hadis di atas di jelaskan bahwasanya islam hanya menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, mendirikan shalat, membayar zakat yang di fardhukan, dan berpuasa di bulan ramadhan. Dalam Hadis lain,di tambah satu rukun lagi, yakni menunaikan ibadah Haji bagi yang mampu, sebagai mana di nyatakan dalam hadis:         
Yang artinya,
“dari ibnu Umar r.a, ia berkata, rasulullah SAW. Bersabda, “islam didirikan atas lima perkara, yakni bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah SWT. Dan sesungguhnya Nabi Muhammad SAW. Adalah utusan-Nya; mendirikan Shalat; menunaikan Zakat; melaksanakan ibadah Haji (ke Baitullah); dan berpuasa di bulan ramadhan”(H.R. Al-Bukhari)
            Islam itu adalah kepatuhan menjalan kan perintah Allah dengan segala keikhlasan dan kesunguhan hati. Hal itu sesuai dengan arti kata islam, yakni penyerahan. Seorang muslim harus menyerahkan dirinya kepada Allah secara total karna memang manusia di ciptakan Allah untuk megabdi kepadan-Nya.
            Islam adalah agama yang benar dan hanya islam lah agama yang di terima di sisi Allah SWT.
 Di dalam Al-Qur’an di jelaskan yang artinya,
            “Sesungguhnya agama yang benar, pada sisi Allah (adalah) agama islam”
(Q.s. Al-Imran:19)
Dan di ayatlain juga di jelaskan yang artinya’
            “Barang siapa yang mencari agama selain Islam,maka sekali-kali tidak lah akan diterima (agama itu) darinya,dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”
                                                                                                            (Q.s. Al-Imran:85)\
Meskipun telah jelas bahwa islam yang benar, tetap saja banyak dari manusia yang tidak mengikutinya. Hal itu antara lain karna Allah tidak memberikan petunjuk kepadanya sehinga hatinya menjadi gela. Di samping itu. Karena mereka tidak mau berusaha untuk mengimani-Nya dan memeluk islam sehinga Allah SWT. Memberikan siksa-Nya.          (Q.s.6: 125:17)
 Orang-orang islam adalah orang-ornag pilihan yang telah di beri petunjuk oleh Allah SWT. Sehinga tidak menyimpang dari kebenran dan mengikuti jalan-Nya yang lurus.
Sebagai agama terakhir yang sempurna, umum, dan kekel, Islam di lengkapi dengan peraturan, bimbingan, dan petunjuk yang di perlukan oleh manusia yang senantiasa mengalami perkembangan dan oerubahan. Islam mengatur hubungan antara makhluk dan manusia dan juga antara manusia dan alam semesta.
Islam menentukan dan mengatur cara mengabdi kepad Allah SWT. Menurut cara yang di ridoi-Nya. Ibadah dalam islam antara lain bertujuan untuk merekatkan dan mendekatkan hubungan antara mkhluk dengan khalik, supaya manusia senantiasa mendapat karunia dan rido-Nya
Dalam hubungan dengan sesama manusia, Islam pun mengatur sikap hidup dan tingkah laku yang baik, dalam lingkungan yang kecil maupun dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas. Dalam lingkunganya, telah diatur pula hubungan dengan anggota msyarakat yang berbeda agama, bahkan yang tidak beragama sekalipun. Semuanya bertujuan agar tercipta hubungan yang baik yang harmonis antar sesama manusia
Islam pun mengatur hubungan manusia dengan alam dan hewan.manusia haruslah memperlakukan hewan secra wajar, begitu pula dalam mengeksploitasi alam harus mengaturnyasedemikian rupa sehinga tidak merusak lingkungan dan tercipta lingkungan yang asri sehinga tidak merusak lingkungan dan memberikan ke bahagiaan serta kesejahteraan bagi manusia .
 Secara singkat, dapat di jelaskan bahwa islam mengatur segala aspek kehidupan, baik yang brkenaan dengan kepercayaan, ibadah, moral,sosial, ekonomi, kebudayaan, pemrintahan, hubungan internasional serta pandangan dan sikap hidup terhadap alam semesta.
 Namun dengan demikikaan, semuanya bergantun pada umat islam itu sendiri, apakah mereka mau mengikuti aturan-aturan yang sudah di buat islam yang akan membawanya ke pada kebahagiaan di dunia, yakni dapat menguasai dunia, dan memperoleh kebahagiaan di akherat, atau sebaliknya mendapat kehinaan dan kesengsaraan di dunua dan di akhirat.      (Q.s. 24: 55)
c.       Ihsan
Ihsan secara bahasa adalah berbuat kebaikan sebagai mana dinyatakan dalam ayat Al-Qur’an yang artinya,
            “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ke bajikan,.....”
(Q.s. An-Nahi: 90)
Dalam arti khusus, ikhsan sering di samakan dengan akhlak, yaitu sikap atau tingkah laku yang baik menurut islam. Dan terkadang pula di artikan sebagai suatu kesempurnaan.
            Adapun ikhsan menurut syari’at, telah di rumuskan oleh Rasulullah SAW. Dalam hadis di atas, yaitu “menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu melihat-Nya,ketahuilah bahwa Allah maha Melihat”
            Peryataan “Menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya”, mengandung arti bahwasanya dalam menyembah kepada-Nya, kita harus bersunguh-sunguh, serius, dan penuh ke ikhlasan, serta melebihi sikap seorang rakyat jelata ketika menghadapi raja. Dalam hati harus di tumbuhkan keyakinaan bahwa Allah seakan-akan berada di hadapan mu, dan Allah melihat dirimu.
 Sedangkan pernyataan “Jika engkau tidak dapat atau mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihat mu”  Maksutnya kita harus merasa bahwa Allahselamanya hadir dan menyaksikan segala perbuatanya
Menurut imam An-Nawawi, ikhsan berarti berusaha menjaga tata kerama dan sopan santun dalam beramal, seakan akan kamu melihat-Nya seperti Allah melihat kamu. Hal itu harus dilakukan bukan karna kamu melihat-Nya, tetapi krna dia selamanya melihat kamu. Maka beribadahlah dengan baik meskipun kamu tidak dapat melihat-Nya.[11]                          
Ikhsan merupakan salah satu faktor utama dalm menentukan di terima atau tidaknya suatu amal oleh Allah SWT. Karna orang yang berperilaku ikhsan dapan di pastikan ikhlas dalam beramal, sedangkan ikhlas merupakan inti diterimanya suatu amal ibadah.


d.      Hari Kiamat
Percaya kepada hari kiamat termasuk salah satu rukun iman yang harus di yakini oleh semua orang yang beriman meskipun tiada satu orang pun atau apa pun kecuali Allah yang mengetahuinya. Bahkan Rasulullah SAW. Pun tidak mengetahui kapan waktu itu akn terjadi karena hanya Allah SWt lah yang mengetahui.
 Bagi mereka yang beriman, tidak diketahui terjadinya hari kiamat tidak akan mengurangi kadar keimananya. Mereka justru lebih waspada dan senantiasa menigkatkan amal kebaikan untuk bekal menghadapi-Nya
Namun demikian, Rasulullah SAW. Memberikan dua tanda terjadinya kiamat yakni jika hamba sahaya telah melahirkan majikanya, dan jika pengembala onta dan ternak lainya berlomba-lomba membangun gedung-gedung yang megah dan tingi.
Menurut sebagian akhli hadis, dengan kata lain kedua tanda kiamat lebih dari dua sebagai mana terdapat dalam hadis lain. Dengan kata lain, kedua tanda tersebut merupakan tanda jangka panjang. adapun tanda-tanda seperti terbitnya matahari dari arah barat merupakan jangka pendek.
Akan tetapi, hanya Allah lah yang tahu mengenai datangya hari kiamat, sebagai mana tidak ada yang tahu, kecuali Allah saja tentang turunya hujan; apa yang ada dalam rahim seorng ibu ; ap yang akan terjadi esok hari; dan di manakah seorang akn mati, sebagai mana dinyatakan dalam ayat suci Al-Qur’an yang artinya,
“Sesunguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Allah lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan tiada seorang pun yang dapat mengethui (dengan pasti) apa yang akan di usahakan besok. Dan tiada seorang yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal






2.      Berkurangya Iman dan Islam karna Maksiat (lm: 36)

“Abu Hurairah r.a. berkata, Nabi SAW. Bersabda. “Tidak akan berjina seorang pelacur di waktu berjina jika ia sedang beriman. Dan tidak akan meminum homar diwktu dia minum dia sedang beriman. Dan tidak akan mencuri seorang di waktu mencuri jika i sedang beriman. Pada riwayat lain, ‘dan tidak akan merampas rampasan yang berharga sehinga orang-orang membelalakkan mata kepadanya ketika merampas jika ia sedang beriman.”
      (Dikeluarkan Oleh bukhari: (74) kitab: “minuman.” (1) bab: Firman Allah SWT. “ sesungguhnya khomar, judi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasip dengan anak panah adalah perbuatan keji yang termasuk perbuatan setan.   .   .”)
       Orang yang beriman kepada Allah SWT. Akan merasa suatu perasaan segala tingkah lakunya selalu di awasi oleh Dzat Yang Maha Mengetahui, Allah SWT. Ia memiliki keyakinan bhwa segala amal perbuatan harus di pertanggung jawab kan kelak di hadapan-Nya dan iya sendiri yang akn menerima akibat dari perbuatanya selama hidupnya, baik ataupun buruk sekecil apapun perbuatanya,
 Firman Allah SWT. Dalam Al-Qur’an yang artinya
      “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan walaupun seberat dzarah (benda paling kecil)niscaya dia akn melihat (balasannya), dan barang siapa yng mengerjakan amal kejelekan seberapa dzarah pun, niscaya dia akn melihatnya.”
                                                                                          (Q.s. Al-Zalzalah:7-8)
      Oleh karna itu,  orng yang benar benar beriman pasti berusaha untuk mengerjakan perbuatan yang baik dan menjauhi perbuatan yang dilarang Allah SWT. Karna dia tidak mungkin melakukan maksiat kepada-Nya karna ia merasa malu dan takut menghadapi azab-Nya serta takut tidak mendapat rido-Nya
      Sebaliknya, orang yang tidak beriman kepada Allah SWT.akan merasa bahwa hidupnya di dunia tidak memiliki beban apa apa.karna dia hidup semaunya dan yang penting baginya adalah ia merasa senang dan bahagia ia tidak memikirkan kehidupan setelah mati kelak karena ia tidak mempercayainya. Dengan demikian, perbuatanya pun tidak terlalu dipusingkan dengan masalah baik ataupun buruk. Dan kalaupun suatu ketika ia melakukan perbuatan baikbukan karna mengharapkan rido Allah SWT. Karna ia tidak mempercayai bahwa adanya Allah sehinga Allah SWT.tidak akan memberinya pahala, kecuali ia bertaubat.
      Adapun mereka yang menyatakan dirinya beriman, tetapi sering melakukan perbuatan dosa/maksiat,mereka merasa dan mengetahui bahwa perbuatan yang di lakukanya adalah perbuatan dosa, tetapi mereka tidak berusaha mencegah dirinyadari perbuatan tersebut.


Hal itu antara lain karena kuatnya godaan setan dan besarnya dorongan hawa napsu untuk melakukan maksiat. Dalam keadaan seperti ini, ia tetap beriman, hanya saja keimananya lemah (berkurang). Semakin sering melakukan perbuatan dosa, semakin lemah pula imanya

Keimanan seseorang ada kalanya bisa berkurang dan bisa bertambah ,maka seyogianya setiap orang beriman harus berusaha untuk memperbaharui ke imanan dan keislamanya, antara lain, dengan selalu mengigat Allah dan mengerjakan perbuatan yang baik diridoi oleh Allah SWT. Dengan demikian, keimananya relatif akan setabil.
 Selain itu ia pun harus selalu ingat bahwa sekecil apapun perbuatan maksiat, apa lagi kalau termasuk dosa besar, ia akan mendapat balasan-Nya. Seandainya di dunia ini dia dapat selamat, ia tidak dapat mengelak balasan di akherat kelak.
3.    Rasa malu adalah sebagian dari pada Iman

Ibnu Umar r.a.bahwa Nabi SAW. Melewati (melihat) seorang laki laki dari kaum anshar yng seddang menasehati saudaranya karna maiu, maka Nabi SAW.
 Bersabda “biarkanlah, karna sesunguhnya malu itu bagian dari Iman.”
Diantara kemah kuasaan Allah SWT. Adlah dia menciptakan manusia dengan bentuk dan keadaan yang berbeda-beda, baik dalam bentuk, sifat, dan sebagainya. Bahkan, pada orang yang berwajah mirip pun pasti terdapat perbedaan dan kekhususan masing-masing
Rasa malu merupakan salah satu sifat yang di miliki oleh manusia dan sekali gus merupakan salah satu sifat yang membedakan manusia dengan binatan. Kadar rasa malu dari tiap-tiap orang itu berbeda-beda ada yang pemali, tidak pemalu, dan agak pemalu
Namun demikian, malu yang dimksut dalam hadis diatas bukan dalam arti bahasa, tetapi arti malu di sana adalah malu dalam mengerjakan kejelekan. Hal itu di pertegas oleh hadis lain yang artinya,
“Imran bin Hushain r.a. berkata, bahwa Rasulullah SAW. Telah bersabda, “Malu itu tidak akan menimbulkan sesuatu, kecuali kebaikan.”
(H.R. Bkhari dan Muslim)
           





Tidak heran kalau para ulama mendefenisikan malu dengan;
“Hakikat malu adalah sifat atau perasaan yang menimbulkan keenganan melakukan suatu yang rendah atu kurang sopan,”
            Menurut Abul Qasim (junaid), perasaan malu akan timbul bila memandang budi kebaikan dan  melihat kekurangan diri. Hampir senada dengan itu, Al-Hulaimy berpendapat bahwa hakikat malu adalah  rasa takut untuk melakukan  kejelekkan. Adapun di antara ulama,ada yang berpendapat, sebagai mana di kemukakan oleh ibnu Hajar dalam  kitap Fatahu Al-Gary bahwa merasa malu dalam mengerjakan perbuatan perbuatan haram  adalah wajib; dalam mengerjakan pekerjaan makruh adalah sunah; dan dalam mengerjakan perbuatan yang mubah adalah kebiasaan/adat. Perasaan malu seperti itulah yang merupakan salah satu cabang iman.[12] 
            Dengan demikian, malu untuk melakukan perbuatan baik tidaklah termasuk dalam kategori malu pada hadis ini. Begitu pula malu untuk melarang orang lain melakukan krjahatan. Padahal Allah SWT. Saja tidak malu menerangkan kebenaran, sebagai mana Firman-Nya yang artinya,
 “...... Dan Allah tidak malu (menerangkan)yang benar...’’
                                                                                    (Q.S. Al-Azab:53)
            Al-Faqih Abu Laits As-Samarqandi berpendapat bahwa malu dalam syari’at islam terbagi atas dua macam , yaitu:
1.        Malu kepada Allah SWT. Maksutya ialah  merasakan nikmat dari Allah SWT. Hingga tidak sampai hati dan malu untuk berbuat maksiat atau melanggar larangan –Nya.
2.        Malu kepada sesama manusia, maksutnya menutup mata dari hal-hal yang tidak berguna
            Jika manusia telah kehilangan rasa malunya, ia tidak lagi berbeda dengan binatang. Pepatah seorng ulama kepada anaknya, sebagai mana direnungkan dengan  sesama, “ Hai putra ku, jika nafsu syahwat mu mengajak berbuat dosa, pandanglah ke atas, hendaklah kau malu kepada masyarakat langit yang mengawasimu, jika tidak, tunduklah matamu ke bumi dan hendaklah malu kepada penghuninya, dan jika demikian kau belum dapat melakukanya maka anggaplah kau sendiri sebangsa hewan tak berakal,”



BAB III
     KESIMPULAN DAN SARAN

1.    Kesimpulan

Dari uraian di atas bisa di simpulkan bahwa
            Iman ialah percaya kepada Allah SWT. Para malaikat-Nya, berhadap dengan Allah, para Rasul-Nya,  percaya kepada hari bangkit dari kubur, dan percaya kepada qadha dan qadar.
            Islam ialah menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang di fardhukan, berhaju, dan berpuasa di bulan Ramadhan;  dan
            Ihsan ialah  menyembah  kepada Allah seakan-akn kita melihat-Nya, kalau tidak mampu melihat-Nya, harus di yakini bahwa Allah melihat kita.
            Ketiga hal di atas, di tambah mempercayai akan terjadinya hari kiamat yang tidak seorang pun mengetahuinya kecuali Allah SWT. Merupakan  satu kesatuan yang tidak dapat di pisahkan dalam  membentuk jiwa untuk mengabdi kepada Allah sehinga mendapat rida-Nya, Amin.
            Terus, orang yang betul betul beriman  tidak mungkin secara sengaja mengerjakan maksiat. Maka seorang mu’min yang melakukan perbuatn dosa, seperti Zina, mencuri, membunuh, dan lain-lain, berarti ia sedang tidak beriman atau imanya erada dalam titik terendah. Oleh karna itu seyogianya setiap orang yang beriman selalu memperbaharui keimananya dengan selalu mengingat Allah dan melakukan berbagai perintahn-Nya.
            Dan malu dalam Arti sebenarnya (menurut pandangan islam) adalah malu dalam melakukan hal-hal yang di larang oleh Allah SWT. Dan yang di pandang  jelekoleh manusia. Adapun orang yang merasa malu untuk melakukan perbuatan baik atau malu menegur orang yang melakukan ke jelekan tidak termasuk malu dalam kategori ini, tetapi justru termasuk perbuatan tercela.
2.    Saran


DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Muhammad, dkk. 2005. Ulumul Hadis. Bandung: Pustaka Setia
Aglayanah, Al-Makki. 1995. Metode Pengajaran Hadis: Pada  Tiga Abad Pertama. Terj. 
               Amir Hamzah Fachruddin. Jakarta : Granada Nadia
Al-baghdadi, Abd. Al-Qahir, 1983. Al-Farq baina Al-Firaq. Editor  M.S. Kailani.
              Bairut : Dar Al-Ma’arifah
Al-Baghdadi, Abd. Al-Qahir. 1358 H. Al-Kifayah fi’Ilm Al-Riwayah. T. Tp:
              Tahriqu tahkrij Hadits Rasulullah ‘Alaihi Wasallam. Darul Ikhtisham
Hasbi Ashshissiqie, dkk. 1971. Al-Qur’an dan Terjemahanya.
              Khadim Al-Haramain Al-Syarifain.
Ibnu Rusy. T. T. Bidayatul Al-Mujtahid Wa Nahayatu Al-Muqtashid. Beirud. Darul Fikr
Imam Ahmad Ibnu Hambal.t.t. Al-Musnad. Bairu: Al-Maktab Al-Islam
Jalaludin Abdurahman Ibnu Abu Bakar Ibnu M. Al-suyuthi.1351 H
Tariqh Al-Khulafa Umara Al-Mu’minin Al-qaimin bi amri Al-Ummah. Damsyid. Idarah Ath-Thaba’ah Al-Munirah
Mas’an Hamid. 1955 Ilmu Arudi dan Qowafi. Surabaya: Al-Ikhlas
Muhammad  Abdul Aziz Al-khuly. 1986. Al-Adab An-Nabawy ‘Izhah Baligah Hikam Aliah
              wa Al-Adab Samiya. Beirud:Darul Al-Qalam
             



[1] Muhammad Ibn Mukaram Ibn Manzhur. Lisan Al-Arab. Juz II, 1992. Hal. 131..
[2] M.M. Azami. Setudies in hadis metodologi and literature. Terj. Meth kieraha, jakarta: lentera,2003. Hlm.2123
[3] Endang Soetari.Ibnu Hadis; Kajian riwayat dan dirayah. Bandung: Mimbar pustaka.2005.   hlm.2.
[4] Muhammad Ajaj Al-Khatib. As-Sunah Qabla At-Tadwin.Kairo: Mktabah Wabah. 1975. Hlm.19.
[5] Ibid.
[6] Ibid.
[7] Seotori. Op.cit.hlm. 5.
[8] Fatchur Rahman. Ikhtisar musthalah Hadis. Bandung:Alma’arif.1991. hlm. 6.
[9] Ibid.hlm.12.
[10]  Ahmad Ibn Ali Abn Hajar Al-Asqalany, Fathu Al-Barybi Syahri Sahih Al-Iman Abu Abdullah Muhammad Ibn Ismail Bukhary,(tk.: Makatabah As-Salafiyah ,t.t.), juz1, hlm, 188
[11] Ibid., hlm. 120
[12] Ibn Hajar Al-Asqalany, op. Cit., hlm.75

No comments: