PESAN RASULULLAH TENTANG KEIMANAN
Tugas
Mandiri
Mata Kuliah : Hadis
Mata Kuliah : Hadis
Disusun oleh
:
Nama
: DWI ANDIKA
NIM
: 023153038
Ruang
: SIYASAH B I
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
PROGAM STUDI
HUKUM TATA NEGARA ( SYASAH )
UNIVERSITAS
ISLAM NEGRI SUMATRA UTARA
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah, Puja dan Puji hanya layak
tercurahkan kepada Allah SWT. , karena atas limpahan karunia-Nya. Shalawat
serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wa
sallam. Manusia istimewa yang seluruh perilakunya layak untuk diteladani, yang
seluruh ucapannya adalah kebenaran, yang seluruh getar hatinya kebaikan.
Sehingga Penulis dapat menyelesaikan tugas mandiri ini tepat pada waktunya.
Saya salaku penulis sangat tertarik untuk mengajukan Judul:
PESAN
RASULULLAH TENTANG KEIMANAN
Banyak kesulitan dan hambatan yang saya hadapi dalam membuat tugas mandiri ini
tapi dengan semangat dan kegigihan serta arahan, bimbingan dari berbagai pihak
sehingga saya mampu menyelesaikan tugas mandiri ini atau makalah ini dengan baik, oleh karena itu pada
kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada :
- Dua orang istimewa yaitu Mamah dan Papa saya yang selalu menjadi inspirasiku, serta mencurahkan kasih sayang tanpa pamrih.
- Bapak Prof. Dr.Nawir Yuslem, MA. Selaku dosen dengan mata kuliah Hadis. Semoga ilmunya berkah dan menjadi aliran amal hingga kelak di Barzakh Amin.
- Irma yaitu kakak saya, yang sudah memberikan motivasinya kepada saya dan teman – teman kelas SIYASAH B I
Sya
menyimpulkan bahwa tugas mandiri atu makalah ini masih belum sempurna, oleh
karena itu saya menerima saran dan kritik, guna kesempurnaan tugas mandiri atau
makalah ini dan bermanfaat bagi saya dan pembaca atau pendengar pada umumnya.
UIN SU ,
September 2015
Penulis : Dwi Andika
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL……………………………………………………………………………………… i
KATA
PENGANTAR……………………………………………………………………………. i
DAFTAR
ISI………………………………………………………………………………………… iv
BAB
I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………..
1
1. LatarBelakang………………………………………………………………
2. RumusanMasalah…………………………………………………….
3. Tujuan
penulisan...........................................................................
BAB
II PEMBAHASAN……………………………………………………………………………..
- Pengertian hadis..............................…………………………………………………..
- Topik inti hadis…………………………………………………………….
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………………………..
DAFTAR PUTAKA…………………………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Sebenerya. sebelum kta mempelajari Hadis
terlebih dulu kita belajar Ulumul Hadis
kenpa sya mengatakan sedemikian karna, Ulumul
Hadis merupakan salah satu disiplin ilmu agama yang sangat penting terutama
sekali untuk mempelajari dan menguasai hadis secara baik dan tepat.m. dilihat
dari fungsinya, Ulumul Hadis mempuyai
peran penting terhadap Hadis, seperti halnya kedudukan Ulumul Qur’an terhaadap Al-Qur’an.
dengan demikian Hadis dengan Ulumul Hadis sangat erat hubungan keduanya
Secara terminologis, para ulama, baik muhaditsin, fuquha, ataupun
ulama-ulama, merumuskan pengertian Hadis secara berbeda-beda. Perbedaan
pendapat atau pandangan tersebut lebih di sebabkan oleh terbatas dan luasnya
objek tinjauan masing-masing, yang tentu saja mengandung kecenderungan pada
aliran ilmu di dalamnya
Perbedaan pandangan trsebut kemudian memelihara dua
macam pengertian Hadis, yakni pengertian terbatas dan pengertian luas. Dengan
demikian, menurut ulama Hadis, esensi Hadis adalah segla berita yang berkenaan
dengan sabbda, perbuatan, taqrir,dan hal ikhwal Nabi Muhammad SAW. Yang di
maksut ikhwl adalah segala sifat dan keadaan peribadi Nabi Muhammad SAW.
Kehadiran agama Islam yang dibawa
Nabi Muhammad Saw diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang
sejahtera lahir dan batin. Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan
manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya, Alquran dan Hadis,
tampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan
progresif, menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual,
senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka,
demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti-feodalistik,
mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia dan bersikap
positif lainnya.
Menurut Fazlur Rahman secara
eksplisit dasar ajaran Alquran adalah moral yang memancarkan titik beratnya
pada monoteisme dan keadilan social, dapat dilihat misalnya pada ajaran tentang
ibadah yang penuh dengan muatan peningkatan keimanan, ketaqwaan yang diwujudkan
dalam akhlak yang mulia.
Nilai suatu ilmu ditentukan oleh
kandungan ilmu tersebut. Semakin besar nilai manfaatnya, semakin penting ilmu
tersebut untuk dipelajari. Ilmu yang paling utama adalah ilmu yang mengenalkan
kita kepada Allah SWT, Sang Pencipta. Sehingga orang yang tidak kenal Allah SWT
adalah orang yang bodoh, karena tidak ada orang yang lebih bodoh dari pada
orang yang tidak mengenal penciptanya.
Allah menciptakan manusia dengan
seindah-indahnya dan selengkap- lengkapnya bentuk dibanding dengan makhluk/ciptaan
yang lain. Kemudian Allah bimbing mereka dengan mengutus para Rasul-Nya
(menurut hadis yang disampaikan Abu Dzar bahwa jumlah para Nabi sebanyak
124.000 orang, namun jumlah yang sebenarnya hanya Allah saja yang
mengetahuinya), semuanya menyerukan kepada tauhid (diriwayatkan oleh Al Bukhari
dalam At Tarikhul Kabir 5/447 dan Ahmad dalam Al Musnad 5/178-179). Sementara
dari jalansahabat Abu Umamah disebutkan bahwa jumlah para Rasul 313
(diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Maurid 2085 dan Ath-Thabrani dalam Al
Mu’jamul Kabir 8/139) agar mereka berjalan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta
melalui wahyu yang dibawa oleh Sang Rasul. Orang yang menerima disebut mukmin,
orang yang menolaknya disebut kafir serta orang yang ragu-ragu disebut munafik
yang merupakan bagian dari kekafiran.
Begitu pentingnya aqidah ini,
sehingga Nabi Muhammad Saw, penutup para Nabi dan Rasul membimbing umatnya
selama 13 tahun ketika berada di Makkah dengan menekankan masalah aqidah ini,
karena aqidah adalah landasan semua tindakan, bahkan merupakan landasan
bangunan Islam. Oleh karena itu, maka para dai dan para pelurus agama dalam
setiap masa selalu memulai dakwah mereka dengan tauhid dan pelurusan aqidah
2. Rumusan masalah
Disini ada
tiga pokok masalah yang saling berkaitan satu sama lain yaitu
a.
Iman,
Islam,Ihsan, dan hari Kiamat
b.
Berkurangya
Iman dan Islam karena berbuat maksiat dan
c.
Rasa malu
adalah sebagian dari Iman
3. Tujuan penulisan
Tujuan penulisan makalah adalah memberikan penjelasan mengenai hubungan
antara, Iman, Islam,Ihsan, dan hari Kiamat, Berkurangya Iman dan Islam karena
berbuat maksiat, dan Rasa malu adalah sebagian dari Iman serta implementasinya dalam kehidupan sehari-hari selain itu juga
untuk memenuhi tugas kajian Hadis islam ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN HDIS
1. Pengertian Hadis secara
Etimologis
Menurut Ibn
Manzhur,kata ‘Hadis’ berasal dari bahasa Arap,yaitu al-hadis, jamaknya al-hadis,
al-haditsan,dan al-hudsan. Secara Etimologis, kata ini memiliki banyak arti, di
antaraya al-jadid (yang baru), lawan dari al-qodim (yang lama) dan al-khobar,yang
berarti kabar atu berita.[1]
Di samping
pengertian tersebut,M.M. Azami mendefenisikan bahwa kata ‘Hadis’ (Arab:
al-hadits), secara etimologi (lughawiyah) berarti komunikasi’,’kisah’,
‘percakapan’: religius atau sekular,historis atau kontenporen.[2]
Dlam Al-Qur’an, kata hadis di gunakan
sebanyak 23 kali.
Berikut ini
beberapa contohya :
a.
Komuni
kasi religius : risalah atau Al- Qur’an.
Allah SWT. Berfirman yang artinya,
Allah
Ta’ala menurunkan secara bertahap hadis (risalah) yang paling baik dalam bentuk
kitap (
Q.s. Az-zumar [39]:23)
Dan
firman-Nya lagi,
Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku
(urusan) orang-orang yang mendustakan hadis(Al-Qura’an) ini. (Q.s. Al-Qolam [68]: 44 )
b.
Kisah
tentang suatu watak sekular atu umum
Allah
SWT. Berfirman yang artinya
Dan
apa bila kamu melihat orng-orang memperolokolokan ayat-ayat kami, ttingalkan
lah mereka sehinga membicarakan hadis
(perkataan) yang lain. (
Q.s. Al-an’am [6] :68)
Dari penjelasan
di atas bisa kita simpulkan bahwa Hadis telah
di gunakan dalm Al-Qur’an salm arti ‘kisah’ ‘komunikasi’, atau ‘risalah’,
religius maupun sekular, dari suatu masa lampau atau masa kini
2. Pengertian hadis secara
terminologis
Secra terminologis,
para ulama, baik muhaditsin, fuqoha, ataupun ulama ushul, merumuskan pengertian
hadis secara berbeda-beda. Perbedaan pandangan tersebut lebih disebabkan oleh
terbatas dan luasnya objek tinjauan masing-masing, yang tentu saja mengandung
kecenderungan pada aliran ilmu yang di dalamnya.[3]
Ulama Hadis mendefinisikan hadis sebagai berikut,
Segala sesuatu
yang diberitakan oleh Nabi Muhammad SAW.,baik berupa sabda,perbuatan,taqrir,dan
sifat-sifat maupun hal ihwal Nabi,4[4]
Menurut istilah ahli Usul Fiqih, Pengertian Hadis
adalah,
Hadis
adalah segala sesuatu yang di sandarkan kepada Nabi SAW, selain Al-Qur’an Al-
Karim,baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Nabi yang bersangkut paut
dengan hukum syara’.[5]
Adapun menurut istilah para fuqoha, Hadis
adalah
Segala
sesuatau yang di tetapkan Nabi SAW. Yang tidak bersangkut paut dengan
masalah-masalah fardu atau wajib.[6]
Perbedaan
pendapat tersebut kemudian melahirkan dua macam hadis, yakni pengertian
terbatas dan pengertian luas.[7]
Dan
pengertian hadis secara terbatas, sebagai mana di kemukakan oleh fumhur Al-Muhaditsin, adalah,
“ Suatu yang di nisbatkan kepada Nabi
SAW. Baik berupa perkataan, pernyataan,(taqrir) dan sebagainya,[8]
Dengan
demikian, menurut ulama Hadis, esendi hadis adalah segala berita yang berkenaan
dengan sabda, perbuatan, taqrir, dan hal ikhwal Nabi SAW. Yang di maksut hal
ikhwal adalah segala sifat dari kebiasaan Nabi SAW.
Adapun
pengertian Hadis secara luas, sebagai mana di katakan Muhammad Mahfudz
At-Tirmizi, addalah,
“Sesunguhnya Hadis bukan hanya di
marfukan kepada Nabi SAW. Melainkan
dapat pula di sebutkan pada yang maukuf (dinisbat kan pada perkataan dan
sebaganya dari sahabat) dan maktu’(di nisbatkan kepada perkatan dan sebagainya
dari tabiin).[9]
B.
TOPIK
INTI
1.
Pengertiaan
Iman, Islam, Ihsan, dan Hari Kiamat.
Sebelumya, empat
masalah ini saling berkaitan satu sama lain, karna seseorang tidaklah cukup
hanya .enganut Islam saja tampa mengiringya dengan Iman. Begitu pulu sebaliknya
Islam tampa iman tidak lah berarti. Akan tetpi Iman dan Islam juga belum cukup
karna harus di barengi Ihsan supaya segala amal ibadahnya mendapat nilai atau
berpahala di sisi Allah SWT. Dengan demi kian,ia akan mendapatkan hasilnya,
yaitu mendapat pahala dari ibadahnya, baik di dunia, dan terutama di hari
kiamat kelak, yang tidak ada seorang pun mengetahuinya kapan terjadinya kecuali
Allah SWT.
a. Iman
Iman
ada lah percaya kepada Allah SWT., para malaikat-Nya, berhadapan dengan
Allah,percaya kepada para Rosul-Nya,dan percaya kepada hari berbangkit dari
kubur, yaitu hari kiamat. Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT:
Yang
artinya
“
Rosul itu mempercayai apa yang di turunkan kepadanya dari Tuhanya. Begitu pula
orang-orang yag beriman.semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya,
Kitab-kitab-Nya dan Rosul-Rosulnya-Nya. Dan mereka berkata, “Kami mendengar dan
kam taat, (kami mengharap) ampunan-Mu, dan kepada engkau-lah kami kembali”
(Q.s.Al-Baqarah:
285)
Secara sinkat dapat dijelaskan bahwa Iman
artinya kepercayaan, yang intinya percaya dan mengakui bahwa Allah itu ada dan
Esa, Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusa-Nya.
Dalam Hadis lain, seperti yang
diriwayatkan oleh Kahmas dan Sulaiman At-Tamimi, disebutkan pada beriman kepada
Qadha dan Qadar Allah, baik yang buruk maupun baik.[10]
Dengan demikian, jumlah rukun iman, menurut sebagian besar ulama, adalh enam
Keimanan dipandang sempurna, apabila ada
pengakuan dengan lidah, pembenaran dengan hati secara yakni dan tidak bercampur
keraguan, dan dilaksanakan dalam perbuatan sehari-sehari, seta adanya pengaruh
terhadap pandangan hidup dan cita-citaya
Dalam Al-Qur’an dijelaskan tentang
kewajiban, sikap, dan tingkah laku seorang yang beriman dlam kehidupanya.
Selain itu, laku seorang yang beriman dalam kehidupanya. Selain itu,
diterangkan pula dengan jelas tentang pahala dan kebahagiaan yang akan
diterimanya.
Diterangkan
dalam ayat Al-Qur’an yang artinya,
“Sesunghnya
bereuntunglah orang –orang yang beriman, (yaitu) orang orang yang khusyuk dalam
sholatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan)
yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang
menjaga kemaluanya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka
miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.”
(Q.s.Al-Mu’minun:1-6)
Surat lain juga
menjelaskan bahwasanya
“Sesunguhnya
orang-orang yang beriman adalah mereka yang apa bila di sebut nama Allah
gemetar lah hati mereka, dan apa bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya,bertambah
lah iman mereka (karenaya) dan kepada tuhan lah mereka menfkahkan sebagian dari
rezeki yang kami berikan kepada mereka”
(Q.s.
Al-Anfal:2-3)
Dengan demikian, iman saja tidaklah cukup
,tetapi harus di sertai berbagai amal saleh agar mendapat karuniya-Nya sbagai
pahala bagi mereka yang menaati-Nya. Sebaliknya, bagi mereka yang menyombongkan
diri dan enggan beribadah kepada-Nya, ia akn mendapat siksa Allah (Q.s. 4:172).
Bahkan jika dalam suatu negara banyak penduduk yang mndustakan berbagai ayat
Allah negri itu akan mendapat azab-Nya.(Q.s.7:96)
Di
samping itu,Iman dapat diibaratkan sebagi makanan rohani jiwa yang kosng dari
iman akan lemah dan hampa sebagai mana jasad yang tidak di beri makan. Dengan
demikian, iman erupakan inti kehidpan batin dan sekali gus menjadi penyelamat
dari siksa abadi di akhirat kelak.
b. Islam
Islam adalh yang
dibawa oleh para utusan Allah SWT. Dan di sempurnakam pada masa Nabi Muhammad
SAW. Yang memiliki sumber Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Sebagai petunjuk
bagi manusia sepanjang masa. (Q.s. 48, dan 5:3)
Dalam Hadis di
atas di jelaskan bahwasanya islam hanya menyembah kepada Allah dan tidak
menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, mendirikan shalat, membayar zakat yang di
fardhukan, dan berpuasa di bulan ramadhan. Dalam Hadis lain,di tambah satu
rukun lagi, yakni menunaikan ibadah Haji bagi yang mampu, sebagai mana di
nyatakan dalam hadis:
Yang artinya,
“dari ibnu Umar r.a, ia berkata,
rasulullah SAW. Bersabda, “islam didirikan atas lima perkara, yakni bersaksi
bahwa tiada tuhan selain Allah SWT. Dan sesungguhnya Nabi Muhammad SAW. Adalah
utusan-Nya; mendirikan Shalat; menunaikan Zakat; melaksanakan ibadah Haji (ke
Baitullah); dan berpuasa di bulan ramadhan”(H.R. Al-Bukhari)
Islam
itu adalah kepatuhan menjalan kan perintah Allah dengan segala keikhlasan dan
kesunguhan hati. Hal itu sesuai dengan arti kata islam, yakni penyerahan.
Seorang muslim harus menyerahkan dirinya kepada Allah secara total karna memang
manusia di ciptakan Allah untuk megabdi kepadan-Nya.
Islam
adalah agama yang benar dan hanya islam lah agama yang di terima di sisi Allah
SWT.
Di dalam Al-Qur’an di jelaskan yang artinya,
“Sesungguhnya
agama yang benar, pada sisi Allah (adalah) agama islam”
(Q.s.
Al-Imran:19)
Dan di ayatlain juga di jelaskan yang
artinya’
“Barang
siapa yang mencari agama selain Islam,maka sekali-kali tidak lah akan diterima
(agama itu) darinya,dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”
(Q.s.
Al-Imran:85)\
Meskipun telah
jelas bahwa islam yang benar, tetap saja banyak dari manusia yang tidak
mengikutinya. Hal itu antara lain karna Allah tidak memberikan petunjuk
kepadanya sehinga hatinya menjadi gela. Di samping itu. Karena mereka tidak mau
berusaha untuk mengimani-Nya dan memeluk islam sehinga Allah SWT. Memberikan
siksa-Nya. (Q.s.6: 125:17)
Orang-orang islam adalah orang-ornag pilihan
yang telah di beri petunjuk oleh Allah SWT. Sehinga tidak menyimpang dari
kebenran dan mengikuti jalan-Nya yang lurus.
Sebagai agama
terakhir yang sempurna, umum, dan kekel, Islam di lengkapi dengan peraturan, bimbingan,
dan petunjuk yang di perlukan oleh manusia yang senantiasa mengalami
perkembangan dan oerubahan. Islam mengatur hubungan antara makhluk dan manusia
dan juga antara manusia dan alam semesta.
Islam menentukan
dan mengatur cara mengabdi kepad Allah SWT. Menurut cara yang di ridoi-Nya.
Ibadah dalam islam antara lain bertujuan untuk merekatkan dan mendekatkan
hubungan antara mkhluk dengan khalik, supaya manusia senantiasa mendapat
karunia dan rido-Nya
Dalam hubungan
dengan sesama manusia, Islam pun mengatur sikap hidup dan tingkah laku yang
baik, dalam lingkungan yang kecil maupun dalam lingkungan masyarakat yang lebih
luas. Dalam lingkunganya, telah diatur pula hubungan dengan anggota msyarakat
yang berbeda agama, bahkan yang tidak beragama sekalipun. Semuanya bertujuan
agar tercipta hubungan yang baik yang harmonis antar sesama manusia
Islam pun
mengatur hubungan manusia dengan alam dan hewan.manusia haruslah memperlakukan
hewan secra wajar, begitu pula dalam mengeksploitasi alam harus mengaturnyasedemikian
rupa sehinga tidak merusak lingkungan dan tercipta lingkungan yang asri sehinga
tidak merusak lingkungan dan memberikan ke bahagiaan serta kesejahteraan bagi
manusia .
Secara singkat, dapat di jelaskan bahwa islam
mengatur segala aspek kehidupan, baik yang brkenaan dengan kepercayaan, ibadah,
moral,sosial, ekonomi, kebudayaan, pemrintahan, hubungan internasional serta
pandangan dan sikap hidup terhadap alam semesta.
Namun dengan demikikaan, semuanya bergantun
pada umat islam itu sendiri, apakah mereka mau mengikuti aturan-aturan yang
sudah di buat islam yang akan membawanya ke pada kebahagiaan di dunia, yakni
dapat menguasai dunia, dan memperoleh kebahagiaan di akherat, atau sebaliknya
mendapat kehinaan dan kesengsaraan di dunua dan di akhirat. (Q.s.
24: 55)
c. Ihsan
Ihsan secara
bahasa adalah berbuat kebaikan sebagai mana dinyatakan dalam ayat Al-Qur’an
yang artinya,
“Sesungguhnya
Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ke bajikan,.....”
(Q.s.
An-Nahi: 90)
Dalam arti
khusus, ikhsan sering di samakan dengan akhlak, yaitu sikap atau tingkah laku
yang baik menurut islam. Dan terkadang pula di artikan sebagai suatu
kesempurnaan.
Adapun
ikhsan menurut syari’at, telah di rumuskan oleh Rasulullah SAW. Dalam hadis di
atas, yaitu “menyembah kepada Allah
seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu melihat-Nya,ketahuilah
bahwa Allah maha Melihat”
Peryataan
“Menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya”, mengandung arti
bahwasanya dalam menyembah kepada-Nya, kita harus bersunguh-sunguh, serius, dan
penuh ke ikhlasan, serta melebihi sikap seorang rakyat jelata ketika menghadapi
raja. Dalam hati harus di tumbuhkan keyakinaan bahwa Allah seakan-akan berada
di hadapan mu, dan Allah melihat dirimu.
Sedangkan pernyataan “Jika engkau tidak dapat atau mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah
melihat mu” Maksutnya kita harus
merasa bahwa Allahselamanya hadir dan menyaksikan segala perbuatanya
Menurut imam
An-Nawawi, ikhsan berarti berusaha menjaga tata kerama dan sopan santun dalam
beramal, seakan akan kamu melihat-Nya seperti Allah melihat kamu. Hal itu harus
dilakukan bukan karna kamu melihat-Nya, tetapi krna dia selamanya melihat kamu.
Maka beribadahlah dengan baik meskipun kamu tidak dapat melihat-Nya.[11]
Ikhsan merupakan
salah satu faktor utama dalm menentukan di terima atau tidaknya suatu amal oleh
Allah SWT. Karna orang yang berperilaku ikhsan dapan di pastikan ikhlas dalam
beramal, sedangkan ikhlas merupakan inti diterimanya suatu amal ibadah.
d. Hari Kiamat
Percaya
kepada hari kiamat termasuk salah satu rukun iman yang harus di yakini oleh
semua orang yang beriman meskipun tiada satu orang pun atau apa pun kecuali
Allah yang mengetahuinya. Bahkan Rasulullah SAW. Pun tidak mengetahui kapan
waktu itu akn terjadi karena hanya Allah SWt lah yang mengetahui.
Bagi mereka yang beriman, tidak diketahui
terjadinya hari kiamat tidak akan mengurangi kadar keimananya. Mereka justru
lebih waspada dan senantiasa menigkatkan amal kebaikan untuk bekal
menghadapi-Nya
Namun
demikian, Rasulullah SAW. Memberikan dua tanda terjadinya kiamat yakni jika
hamba sahaya telah melahirkan majikanya, dan jika pengembala onta dan ternak
lainya berlomba-lomba membangun gedung-gedung yang megah dan tingi.
Menurut
sebagian akhli hadis, dengan kata lain kedua tanda kiamat lebih dari dua
sebagai mana terdapat dalam hadis lain. Dengan kata lain, kedua tanda tersebut
merupakan tanda jangka panjang. adapun tanda-tanda seperti terbitnya matahari
dari arah barat merupakan jangka pendek.
Akan
tetapi, hanya Allah lah yang tahu mengenai datangya hari kiamat, sebagai mana
tidak ada yang tahu, kecuali Allah saja tentang turunya hujan; apa yang ada
dalam rahim seorng ibu ; ap yang akan terjadi esok hari; dan di manakah seorang
akn mati, sebagai mana dinyatakan dalam ayat suci Al-Qur’an yang artinya,
“Sesunguhnya
Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Allah
lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan tiada
seorang pun yang dapat mengethui (dengan pasti) apa yang akan di usahakan
besok. Dan tiada seorang yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal
2.
Berkurangya
Iman dan Islam karna Maksiat (lm: 36)
“Abu Hurairah
r.a. berkata, Nabi SAW. Bersabda. “Tidak akan berjina seorang pelacur di waktu
berjina jika ia sedang beriman. Dan tidak akan meminum homar diwktu dia minum
dia sedang beriman. Dan tidak akan mencuri seorang di waktu mencuri jika i
sedang beriman. Pada riwayat lain, ‘dan tidak akan merampas rampasan yang
berharga sehinga orang-orang membelalakkan mata kepadanya ketika merampas jika
ia sedang beriman.”
(Dikeluarkan Oleh bukhari: (74) kitab:
“minuman.” (1) bab: Firman Allah SWT. “ sesungguhnya khomar, judi, (berkorban
untuk) berhala, mengundi nasip dengan anak panah adalah perbuatan keji yang
termasuk perbuatan setan. . .”)
Orang yang beriman kepada Allah SWT. Akan
merasa suatu perasaan segala tingkah lakunya selalu di awasi oleh Dzat Yang
Maha Mengetahui, Allah SWT. Ia memiliki keyakinan bhwa segala amal perbuatan
harus di pertanggung jawab kan kelak di hadapan-Nya dan iya sendiri yang akn
menerima akibat dari perbuatanya selama hidupnya, baik ataupun buruk sekecil
apapun perbuatanya,
Firman Allah SWT. Dalam Al-Qur’an yang artinya
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan
walaupun seberat dzarah (benda paling kecil)niscaya dia akn melihat
(balasannya), dan barang siapa yng mengerjakan amal kejelekan seberapa dzarah
pun, niscaya dia akn melihatnya.”
(Q.s.
Al-Zalzalah:7-8)
Oleh karna itu, orng yang benar benar beriman pasti berusaha
untuk mengerjakan perbuatan yang baik dan menjauhi perbuatan yang dilarang
Allah SWT. Karna dia tidak mungkin melakukan maksiat kepada-Nya karna ia merasa
malu dan takut menghadapi azab-Nya serta takut tidak mendapat rido-Nya
Sebaliknya,
orang yang tidak beriman kepada Allah SWT.akan merasa bahwa hidupnya di dunia
tidak memiliki beban apa apa.karna dia hidup semaunya dan yang penting baginya
adalah ia merasa senang dan bahagia ia tidak memikirkan kehidupan setelah mati
kelak karena ia tidak mempercayainya. Dengan demikian, perbuatanya pun tidak
terlalu dipusingkan dengan masalah baik ataupun buruk. Dan kalaupun suatu
ketika ia melakukan perbuatan baikbukan karna mengharapkan rido Allah SWT.
Karna ia tidak mempercayai bahwa adanya Allah sehinga Allah SWT.tidak akan
memberinya pahala, kecuali ia bertaubat.
Adapun mereka yang menyatakan dirinya
beriman, tetapi sering melakukan perbuatan dosa/maksiat,mereka merasa dan
mengetahui bahwa perbuatan yang di lakukanya adalah perbuatan dosa, tetapi
mereka tidak berusaha mencegah dirinyadari perbuatan tersebut.
Hal itu antara
lain karena kuatnya godaan setan dan besarnya dorongan hawa napsu untuk
melakukan maksiat. Dalam keadaan seperti ini, ia tetap beriman, hanya saja
keimananya lemah (berkurang). Semakin sering melakukan perbuatan dosa, semakin
lemah pula imanya
Keimanan
seseorang ada kalanya bisa berkurang dan bisa bertambah ,maka seyogianya setiap
orang beriman harus berusaha untuk memperbaharui ke imanan dan keislamanya,
antara lain, dengan selalu mengigat Allah dan mengerjakan perbuatan yang baik
diridoi oleh Allah SWT. Dengan demikian, keimananya relatif akan setabil.
Selain itu ia pun harus selalu ingat bahwa
sekecil apapun perbuatan maksiat, apa lagi kalau termasuk dosa besar, ia akan
mendapat balasan-Nya. Seandainya di dunia ini dia dapat selamat, ia tidak dapat
mengelak balasan di akherat kelak.
3.
Rasa
malu adalah sebagian dari pada Iman
Ibnu
Umar r.a.bahwa Nabi SAW. Melewati (melihat) seorang laki laki dari kaum anshar
yng seddang menasehati saudaranya karna maiu, maka Nabi SAW.
Bersabda “biarkanlah, karna sesunguhnya malu
itu bagian dari Iman.”
Diantara
kemah kuasaan Allah SWT. Adlah dia menciptakan manusia dengan bentuk dan
keadaan yang berbeda-beda, baik dalam bentuk, sifat, dan sebagainya. Bahkan,
pada orang yang berwajah mirip pun pasti terdapat perbedaan dan kekhususan
masing-masing
Rasa
malu merupakan salah satu sifat yang di miliki oleh manusia dan sekali gus
merupakan salah satu sifat yang membedakan manusia dengan binatan. Kadar rasa
malu dari tiap-tiap orang itu berbeda-beda ada yang pemali, tidak pemalu, dan
agak pemalu
Namun
demikian, malu yang dimksut dalam hadis diatas bukan dalam arti bahasa, tetapi
arti malu di sana adalah malu dalam mengerjakan kejelekan. Hal itu di pertegas
oleh hadis lain yang artinya,
“Imran
bin Hushain r.a. berkata, bahwa Rasulullah SAW. Telah bersabda, “Malu itu tidak
akan menimbulkan sesuatu, kecuali kebaikan.”
(H.R.
Bkhari dan Muslim)
Tidak heran
kalau para ulama mendefenisikan malu dengan;
“Hakikat malu adalah sifat atau perasaan
yang menimbulkan keenganan melakukan suatu yang rendah atu kurang sopan,”
Menurut Abul Qasim (junaid), perasaan
malu akan timbul bila memandang budi kebaikan dan melihat kekurangan diri. Hampir senada dengan
itu, Al-Hulaimy berpendapat bahwa hakikat malu adalah rasa takut untuk melakukan kejelekkan. Adapun di antara ulama,ada yang
berpendapat, sebagai mana di kemukakan oleh ibnu Hajar dalam kitap Fatahu Al-Gary bahwa merasa malu dalam
mengerjakan perbuatan perbuatan haram
adalah wajib; dalam mengerjakan pekerjaan makruh adalah sunah; dan dalam
mengerjakan perbuatan yang mubah adalah kebiasaan/adat. Perasaan malu seperti
itulah yang merupakan salah satu cabang iman.[12]
Dengan
demikian, malu untuk melakukan perbuatan baik tidaklah termasuk dalam kategori
malu pada hadis ini. Begitu pula malu untuk melarang orang lain melakukan
krjahatan. Padahal Allah SWT. Saja tidak malu menerangkan kebenaran, sebagai
mana Firman-Nya yang artinya,
“...... Dan Allah tidak malu (menerangkan)yang
benar...’’
(Q.S.
Al-Azab:53)
Al-Faqih
Abu Laits As-Samarqandi berpendapat bahwa malu dalam syari’at islam terbagi
atas dua macam , yaitu:
1.
Malu kepada Allah SWT.
Maksutya ialah merasakan nikmat dari
Allah SWT. Hingga tidak sampai hati dan malu untuk berbuat maksiat atau
melanggar larangan –Nya.
2.
Malu kepada sesama
manusia, maksutnya menutup mata dari hal-hal yang tidak berguna
Jika manusia telah kehilangan rasa
malunya, ia tidak lagi berbeda dengan binatang. Pepatah seorng ulama kepada
anaknya, sebagai mana direnungkan dengan
sesama, “ Hai putra ku, jika nafsu
syahwat mu mengajak berbuat dosa, pandanglah ke atas, hendaklah kau malu kepada
masyarakat langit yang mengawasimu, jika tidak, tunduklah matamu ke bumi dan
hendaklah malu kepada penghuninya, dan jika demikian kau belum dapat
melakukanya maka anggaplah kau sendiri sebangsa hewan tak berakal,”
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
1.
Kesimpulan
Dari
uraian di atas bisa di simpulkan bahwa
Iman ialah percaya kepada Allah SWT.
Para malaikat-Nya, berhadap dengan Allah, para Rasul-Nya, percaya kepada hari bangkit dari kubur, dan
percaya kepada qadha dan qadar.
Islam ialah menyembah kepada Allah
dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun, mendirikan shalat, menunaikan
zakat, dan yang di fardhukan, berhaju, dan berpuasa di bulan Ramadhan; dan
Ihsan ialah menyembah
kepada Allah seakan-akn kita melihat-Nya, kalau tidak mampu melihat-Nya,
harus di yakini bahwa Allah melihat kita.
Ketiga hal di atas, di tambah
mempercayai akan terjadinya hari kiamat yang tidak seorang pun mengetahuinya
kecuali Allah SWT. Merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat di pisahkan dalam
membentuk jiwa untuk mengabdi kepada Allah sehinga mendapat rida-Nya,
Amin.
Terus,
orang yang betul betul beriman tidak
mungkin secara sengaja mengerjakan maksiat. Maka seorang mu’min yang melakukan
perbuatn dosa, seperti Zina, mencuri, membunuh, dan lain-lain, berarti ia
sedang tidak beriman atau imanya erada dalam titik terendah. Oleh karna itu
seyogianya setiap orang yang beriman selalu memperbaharui keimananya dengan
selalu mengingat Allah dan melakukan berbagai perintahn-Nya.
Dan malu dalam Arti sebenarnya
(menurut pandangan islam) adalah malu dalam melakukan hal-hal yang di larang
oleh Allah SWT. Dan yang di pandang
jelekoleh manusia. Adapun orang yang merasa malu untuk melakukan
perbuatan baik atau malu menegur orang yang melakukan ke jelekan tidak termasuk
malu dalam kategori ini, tetapi justru termasuk perbuatan tercela.
2.
Saran
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad,
Muhammad, dkk. 2005. Ulumul Hadis. Bandung:
Pustaka Setia
Aglayanah,
Al-Makki. 1995. Metode Pengajaran Hadis:
Pada Tiga Abad Pertama. Terj.
Amir Hamzah Fachruddin. Jakarta : Granada
Nadia
Al-baghdadi,
Abd. Al-Qahir, 1983. Al-Farq baina
Al-Firaq. Editor M.S. Kailani.
Bairut : Dar Al-Ma’arifah
Al-Baghdadi,
Abd. Al-Qahir. 1358 H. Al-Kifayah fi’Ilm
Al-Riwayah. T. Tp:
Tahriqu tahkrij Hadits Rasulullah ‘Alaihi Wasallam. Darul Ikhtisham
Hasbi
Ashshissiqie, dkk. 1971. Al-Qur’an dan
Terjemahanya.
Khadim Al-Haramain Al-Syarifain.
Ibnu
Rusy. T. T. Bidayatul Al-Mujtahid Wa
Nahayatu Al-Muqtashid. Beirud. Darul Fikr
Imam
Ahmad Ibnu Hambal.t.t. Al-Musnad. Bairu:
Al-Maktab Al-Islam
Jalaludin
Abdurahman Ibnu Abu Bakar Ibnu M. Al-suyuthi.1351 H
Tariqh Al-Khulafa Umara
Al-Mu’minin Al-qaimin bi amri Al-Ummah. Damsyid.
Idarah Ath-Thaba’ah Al-Munirah
Mas’an
Hamid. 1955 Ilmu Arudi dan Qowafi. Surabaya:
Al-Ikhlas
Muhammad Abdul Aziz Al-khuly. 1986. Al-Adab An-Nabawy ‘Izhah Baligah Hikam Aliah
wa Al-Adab Samiya. Beirud:Darul
Al-Qalam
[2] M.M.
Azami. Setudies in hadis metodologi and
literature. Terj. Meth kieraha, jakarta: lentera,2003. Hlm.2123
[3] Endang Soetari.Ibnu Hadis; Kajian riwayat dan
dirayah. Bandung: Mimbar pustaka.2005.
hlm.2.
[4] Muhammad Ajaj Al-Khatib. As-Sunah Qabla
At-Tadwin.Kairo: Mktabah Wabah. 1975. Hlm.19.
[5] Ibid.
[6] Ibid.
[7] Seotori. Op.cit.hlm. 5.
[8] Fatchur Rahman. Ikhtisar musthalah Hadis.
Bandung:Alma’arif.1991. hlm. 6.
[10] Ahmad Ibn Ali Abn Hajar
Al-Asqalany, Fathu Al-Barybi Syahri Sahih Al-Iman Abu Abdullah Muhammad Ibn
Ismail Bukhary,(tk.: Makatabah As-Salafiyah ,t.t.), juz1, hlm, 188
[11] Ibid., hlm. 120
[12] Ibn Hajar Al-Asqalany, op. Cit., hlm.75
No comments:
Post a Comment