Translate

Monday, November 23, 2015

POTO DI MASJID AJIJI DAN DI MAKAM TENGKU AMIR HAMJAH













































(HADIS) AJAKAN KEPADA KEBAIKAN



BAB I
PENDAHULUAN

1.                LATAR BELAKANG


Sebenerya. sebelum kta mempelajari Hadis terlebih dulu kita belajar Ulumul Hadis kenpa saya mengatakan sedemikian karna, Ulumul Hadis merupakan salah satu disiplin ilmu agama yang sangat penting terutama sekali untuk mempelajari dan menguasai hadis secara baik dan tepat, dilihat dari fungsinya, Ulumul Hadis mempuyai peran penting terhadap Hadis, seperti halnya kedudukan Ulumul Qur’an terhaadap Al-Qur’an. dengan demikian Hadis dengan Ulumul Hadis sangat erat hubungan keduanya

Secara terminologis, para ulama, baik muhaditsin, fuquha, ataupun ulama-ulama, merumuskan pengertian Hadis secara berbeda-beda. Perbedaan pendapat atau pandangan tersebut lebih di sebabkan oleh terbatas dan luasnya objek tinjauan masing-masing, yang tentu saja mengandung kecenderungan pada aliran ilmu di dalamnya
Perbedaan pandangan trsebut kemudian memelihara dua macam pengertian Hadis, yakni pengertian terbatas dan pengertian luas. Dengan demikian, menurut ulama Hadis, esensi Hadis adalah segla berita yang berkenaan dengan sabbda, perbuatan, taqrir,dan hal ikhwal Nabi Muhammad SAW. Yang di maksut ikhwl adalah segala sifat dan keadaan peribadi Nabi Muhammad SAW.   
Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw. diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya, Alquran dan Hadis, tampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti-feodalistik, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia dan bersikap positif lainnya.
Begitu pentingnya aqidah ini, sehingga Nabi Muhammad Saw, penutup para Nabi dan Rasul membimbing umatnya selama 13 tahun ketika berada di Makkah dengan menekankan masalah aqidah ini, karena aqidah adalah landasan semua tindakan, bahkan merupakan landasan bangunan Islam. Oleh karena itu, maka para dai dan para pelurus agama dalam setiap masa selalu memulai dakwah mereka dengan tauhid dan pelurusan aqidah dan mengajak kepada kebaika.

2.                 Rumusan masalah

Disini ada dua pokok masalah yang saling berkaitan satu sama lain yaitu

a.  Apa itu Amar Ma’ruf  Nahi Mungkar
b.  Dan keutamaan mengajak kepada kebaikan

3.                Tujuan penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah memberikan penjelasan mengenai hubungan antara, Amar ma’ruf  Nahi Mungkar dan keutamaan mengajak kepada kebaikan, dan memberi penjelasan kepada teman-teman semua.
  
BAB II
PEMBAHASAN
1.       AJAKAN KEPADA  YANG MA’RUF DAN MENJAUHI YANG MUNGKAR.

عن حذ يفة رضي الله عن النبي صل الله عليه وسلم : والدى نفس بيده لتا مرن با لمعروف و لتنهون عن المنكر او ليوشكن الله ان يبعث عليكم عقا با منه ثم تد عونه فلا يستخا ب لكم   
( رواه الترمذي. وقل: حديش حسن (
      
Artinya
   “ Huzaifah berkata bahwa Nabi SAW.  Bersabda, “ Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, kamu harus menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, atau kalau tidak, pasti kalau tidak Allah akan menurunkan siksa kepada kamu, kemudian kamu berdoa, maka tidak diterima doa kamu”
   ( H.R. At-Tarmizi, dan menurutnya  hadis ini hasan)

     Didalam hadis diatas terkandung pengajaran sebagai berikut:
a.              Adanya kewajiban untuk menyuruh orang berbuat ma’ruf dan melarang berbuat              
           mungkar.
b.             Jika ada lagi yang menyeru dan tidak mau untuk berbuat ma’ruf dan melarang                                                                          berbuat munkar,maka Allah akan menurunkan siksa ,dan doanya tidak akan dikabulkan.

   Islam mengajarkan agar umatnya selalu peduli dengan lingkungan dan sesamanya. Pengetahuan tentang kebenaran tidak boleh hanya dimiliki dan dikuasai oleh seseorang sementara orang lain berada didalam kejahilan. Islam mengharuskan adanya penyebarluasan kebaiakan dan pengetahuan serta memberantas dan membasmi kejahilian dan kemungkaran. Ajaran tentang hal ini dikenal dengan Amar Ma’ruf  Nahyi Munkar. Oleh sebab itu Allah menjanjikan kebaikan dan keberuntungan kepada orang-orang yang mengajak kebaikan. Sebagai mana firman Allah dalam Al-Qur’an:
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããôtƒ n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ  
Artinya
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar,[1] merekalah orang-orang yang beruntung.”
(Q.S. Al-Imran. 104)

Dengan demikian, amar ma’ruf dan nahyi munkar yang dibebankan kepada setiap muslim, jika ia telah menjalankannya, sedangakan orang yang diperingatkan tidak melaksanakannya, maka pemberi peringatan telah terlepas dari tuntunan. Sebab ia hanya diperintah menjalankan amar ma’ruf dan nahyi munkar, tidak sampai harus sampai bisa diterima oleh yang diberi peringatan.
    Kemudian, amar ma’ruf dan nahyi munkar merukan perbuatan wajib Kifayah, sehingga jika telah ada yang menjalankan nya, maka yang lain insya Allah terbebas dari kewajiban itu, tapi jika semua orang meninggalkannya, maka berdosalah semua orang yang mampu melaksanakannya, terkecuali yang ada uzur atau halangan untuk menyampaikan permasalahan ini. Kemudian, permasalah seperti ini  ada kalanya menjadi wajib ‘Ain bagi seseorang.misalnya, jika disuatu tempat tidak ada orang lain yang mengetahui kemungkaran itu selain dia, atau kemungkaran itu hanya bisa dicegah oleh dia sendiri, maka ia dibebankan untuk menanganinya.

Tanggung jawab amar ma’ruf dan nahy munkar itu tidaklah terlepas dari diri seorang hanya karena ia beranggapan bahawa peringatannnya tidak akan diterima, dalam keadaan demikian ia tetap saja wajib menjalankannya, dalam kaitan ini Allah berfirman dalm Al-Qura’n :
tbqãZÏB÷sßJø9$#ur àM»oYÏB÷sßJø9$#ur öNßgàÒ÷èt/ âä!$uŠÏ9÷rr& <Ù÷èt/ 4 šcrâßDù'tƒ Å$rã÷èyJø9$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# šcqßJŠÉ)ãƒur no4qn=¢Á9$# šcqè?÷sãƒur no4qx.¨9$# šcqãèŠÏÜãƒur ©!$# ÿ¼ã&s!qßuur 4 y7Í´¯»s9'ré& ãNßgçHxq÷Žzy ª!$# 3 ¨bÎ) ©!$# îƒÍtã ÒOŠÅ3ym ÇÐÊÈ  
 “ Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

    Telah disebutkan diatas bahawa setiap orang berkewajiban melakukan amar ma’ruf nahyi munkar,tetapi tidak diwajibkan sampai peringatannya itu diterima.
      Orang yang menyampaiakan amar ma’ruf nahyi munkar tidaklah diharuskan dirinya telah sempurna melakasanakan semua yang menjadi perintah agama dan meninggalkan semua yang menjadi larangannya.
     Imam al-Qurthubi mengutip pendapat ulama terdahulu mengatakan bahawa tanggung jawab utama mengemban amar ma’ruf nahyi munkar berada ditangan ulama dan umara .merekalah yang berprofesi sebagai penegak panji-panji ini.sebab,merekalah yang tahu hakikat kebenaran agama islam ,bukan berada pada setiap orang.
     Tugas amar ma’ruf dan nahyi munkar  tidak hanaya menjadi kewajiban para penguasa,tetapi tugas setiap muslim.yang diperintahkan melakukan amar ma’ruf nahyi munkar adalah orang mengetahui tentang apa yang dinilai sebagai hal yang ma’ruf atau munkar.Bila berkaitan dengan hal-hal  yang jelas  ,seperti shalat,puasa,zina,minum khamar,dan semacam nya,maka setiap muslim wajib mencegahnya karena ia sudah mengetahui hal ini.
      Bagi  orang yang melakukan amar ma’ruf nahyi munkar seyogyanya  dilakukan dengan sikap santun agar dapat lebih mendekatkan kepada tujuan.”Imam asy-syafi’I berkata “’’Orang yang menasihati saudaranya dengan cara tertutup,maka orang itu telah benar-benar menasihatinya dan berbuat baik kepadanya.
    Orang yang melakukan amar ma’ruf dan nahyi munkar tidaklah punya hak untuk mencari-cari,mengontrol,memata-matai,dan menyebarkan prasangka,tetapi jika ia menyaksikan orang lain berbuat munkar,hendaklah ia mencegahnya.”Al-mawardi berkata”*Orang yang melakukan amar ma’ruf nahyi munkar tidaklah punya hak untuk menyebarkan praduga atau mematai-matai ,kecuali memberitahukan kepada orang yang bisa dipercaya.
Menurut Al-faqih Abu Laits Samarqandi, ada lima syarat dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, yaitu :[2]
1.      Berilmu
Karna masyarakat umumnya belum mengerti mana yang ma’ruf, mana yang mungkar. Maka dari itu kita yang sudah mengetahui itu semua seharusnya mengajak mereka kepada kebaikn dan melarang kepada keburukan.
2.      Ikhlas semata
Ihklas disini hanya karna Allah semata tidak Ada paksaan dari orang lain, dan hanya ingin mencari ridanya Allah SWT. Dalam menegakan agama islam ini.
3.      Menyampaikan
Menyampaikan permasalahan seperti ini harus mengunakan metode yan baik, penuh kasih sayang terhadap objek (orang yang dinasehati), karta-kata lunak, sikap ramah-tamah. Sebagai mana pesan Allah kepada Nabi Musa dan Harun A.S. ketika menghadapi Fir’aun.
4.      Sabar dan tenang
                        Firman Allah dalam Al-Qur’an
¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ
Artinya
 “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
(Q.S. Lukman: 17)




5.      Melakukan hal yang di perintahkan
                        Maksutnya adalah menyesuaikan ucapan dan perbuatan, agar terhindar dari ejekan masyarakat dan ancaman.
                         Allah  berfirman dalam Al-Qura’an
                       
* tbrâßDù's?r& }¨$¨Y9$# ÎhŽÉ9ø9$$Î/ tböq|¡Ys?ur öNä3|¡àÿRr& öNçFRr&ur tbqè=÷Gs? |=»tGÅ3ø9$# 4 Ÿxsùr& tbqè=É)÷ès? ÇÍÍÈ  
Artinya
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”
                    (Q.S. Al-Baqarah)
Namun demikian, yang paling penting adalah keinginan dan usaha untuk melakukanya Amar ma’ruf Nahi mungkar. Jika tidak ada usaha dari umat islam untuk melakukan Amar ma’ruf Nahi mungkar , maksutnya membiarkan orang-orang yang melakukan kemungkaran bebas berkeliaran tampa ada usaha untuk mencegahnya atau mengajak mereka agar tidak melakukan kemaksiatan dan kemungkinan tersebut , Allah SWT. Akan menurunkan azab-Nya dan dia tidak akan menerima doa kaum muslimin yang ada di tempat itu
Naudzubillah
oleh sebab itu, setiap orang harus berusaha sesuai dengan kemampuanya untuk melakukan Amar ma’ruf Nahi mungkar, terutama dari pihak penguasa yang memiliki kewenangan untuk itu semua.




2.    KEUTAMAAN MENGAJAK KEPADA KEBAIKAN .


عن اب هر يرة رضى الله عنه قا ل: قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم :من دعا الى هد ى كان له من ا لا جر مثل اجور من تبعه لا ينقص ذلك من اجور هم شيا ومن دعا الىضلا لة كا ن عليه من الاءثم مثل اثا من تبعه لا ينقص دلك من اثا مهم شيا
(رواه مسلم ومالك وابو داود والتمدى)
 
“Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW. Bersabda ”Barang siapa yang mengajak kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dari mereka sedikit pun dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa sebagaimana dosanyaorang yang mengikutinya tanpa dikurangi dari mereka sedikit pun”
                     (H.R. Muslim,Malik,Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis diatas menjelaskan bahawa orang yang mengajak kepada kebaikan akan mendapat pahala sebasar pahala orang yang mengerjakannya tanpa ada dikurangi  sedikitpun pahalanya. Begitu pula orang yang mengajak kepada kesesatan akan mendapat dosa sebesar dosa orang yang mengerjakan kesesatan itudan tanpa ada dikurangi sedikit pun dosanya.
  Tidak diragukan lagi bahwa hadis tersebut merupakan berita gembira bagi mereka yang suka mengajak orang lain untuk menegerjakan kebaikan Allah Swt. memberikan penghargaan tinggi bagi mereka yang suka mengajak kepada kebaikan. tentu saja bila ajakan tersebut didasari keikhlasan, bukan untuk mencari, materi atau keuntungan dunia.
   Nabi Swa mengajarkan kepada kita bahwa mengajak kepada kebaikan dan mencegah melakukan kemungkaran merupakan prilaku yang sangat menguntungkan. Oleh sebab itu,  kaum Muslim selalu antusias untk menyebarkan dakwah amar ma’ruf nahyi munkar. Diantara keutamaan melakuakan amar ma’,ruf nahyi munkar tersebut adalah:
Penyeru Agama allah adalah orang yang terbaik perkataannya.
       Sebagian factor yang membuat manusia bersungguh-sungguh melakukan dakwah kepada agama Allah karena Allah mengangkat derajat para pendai itu ke tempat yang tinggi, yakni, Allah menjadikan mereka sebagai manusia yang terbaik perkataannya.

 Syaikh Jamaluddin al-Qasimi menyatakan didalam tafsirnya :
“Tidak ada seorang pun yang lebih baik perkataannya dari pada orang-orang yang menyeru manusia untuk mengabdi kepada Allah taala, ia tergolong sebagai orang-orang yang salih yang mengikuti perintah Allah dan sebagai orang yang menundukkan wajah mereka kepada Allah Taala didalam mentauhidkan-Nya.”

            Doa Nabi yang mulia saw. Bagi orang-orang yang menyampaikan perkataannya.
         Faktor lain yang membuat kaum muslim antusias menyampaikan agama Allah kepada manusia disebabkan adanya doa Nabi saw.bagi orang-orang yang  menyampaikan perkataannya kepada orang lain.

            Pahala yang besar bagi orang yang disebabkan usahanya orang lain mendapat petunjuk.
        Jika ada orang lain mendapat petunjuk disebabkan usahanya,Allah menjanjikan pahala yang besar bagi orang tersebut.Imam al-Bukhari meriwayatkan dari sahal bin sa’ad ra.bahwa Rasulullah saw.menjelaskan tentang pahala yang besar.

            Para Dai mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikut ajakannya.
          Nabi saw.menjelaskan bahwa siapa yang menunjukkan (jalan) kebaikan kepada orang lain maka ia menerima pahala seperti pahala orang yang melakukannya.sungguh,Muslim telah meriyatkan dari IbnMas’ud ra.ia berkata, “Rasulullah saw.bersabda, ‘siapa yang menunjukkan ( jalan )kebaikan (kepada orang lain)maka ia menerima pahala seperti pahala orang yang melakukannya.

Allah Taala dan segala makhluk dilangit dan bumi bershalawat kepada para pengajar kebaikan kepada manusia.
         Rasul saw.menceritakan kabar gembira ini kepada para pengajar kebaikan bagi manusia bahwa Allah Taala, malaikat, segala makhluk yang ada di langitdan bumi bershalawat kepadanya.

Kesinambungan pahala para dai setelah kematiannya.
      Nabi yang mulia saw menceritakan bahwa diantara manfaat ilmu bagi manusia yaitu pahalanya berkesinambungan hingga setelah berpindahnya ia kepada tuhanny Nya.
 “Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw.bersabda”Apabila manusia mati maka terputuslah amalnya kecua litiga ahal,yaitu sedekah jariah,ilmu yang bermamfaat,atau anak shalih yang mendoakannya.”
Pahala kebaikan dicatat dan dilipati gandakan Allah
     Ath-Thabari berkata pembatalan niatseseorang dalam melakukan kebaikan atau keburukan tetap dicatat oleh malaikat,asalkan dia menyadari apa yang diniatkan itu.ia membantah pendapat yang beranggapan bahwa malaikat hanya mencatat pembatalan pada perbuatan-perbuatan yang zhahir atau sesuatau yang dapat didengar.ini berarti dua malaikat yang ditugasi mengawasi manusia mengetahui apa yang diniatkan oleh seseorang.


BAB III
Kesimpulan

        Islam mengajarkan  agar umat nya selalu peduli dengan lingkungan dan sesamanya.Pengetahuan tentang kebenaran tidak boleh hanya dimiliki dan dikuasai oleh seseorang sementara orang lain berada didalam kejahilan .islam mengharuskan adanya  penyebarluasan kebaikan dan pengetahuan serta memberantas dan membasmi kejahilan dan kemungkaran.

              Demikianlah isi dari makalah ini.dan saya sangat menyadari bahwa dalam penulisan maupun penyusunan makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan.Untuk itu,saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca demi perbaikan makalah ini agar menjadi lebih baik kedepannya.
        
          Akhirnya ,saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan kata-kata,dan kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini saya ucapkan  “Sekian dan terimah kasih”

Wassalamu Alaikum  Wr.Wb











[1] Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

[2] Ibid , hlm. 90-91