A.
Pengertian Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan
Allah SWT kepada baginda Rasulullah SAW sebagai petunjuk, pedoman, pengingat,
perintah, kabar baik, peringatan, dan bahkan mukzijat dari Allah SWT kepada
Nabi Muhammad SAW untuk membuktikan kenabian dan kerasulan-Nya. isi Al-Qur’an
itu bersifat universal, bahkan semua ilmu pengetahuan secara garis besar
terkandung di dalam isi Al-Qur’an tersebut.
Dan Al-Qur’an, sama sekali bukanlah
hasil ciptaan atau rekaan Nabi Muhammad SAW, yang semata-mata merupakan hasil
karya cipta Nabi Muhammad SAW yang kemudian beliau akui sebagai firman dari
Allah SWT yang di mana tujuannya hanya untuk menguntungkan kepentingan pribadi
Nabi Muhammad SAW, maupun menguntungkan kepentingan Umat-Nya, seperti tuduhan
kaum kafir selama ini. Padahal Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang al-um
(buta huruf), sehingga mana mungkin orang yang buta huruf yang tidak bisa
membaca dan menulis mampu menciptakan sebuah karya agung seperti Al-Qur’an ini,
melainkan Al-Qur’an itu murni merupakan wahyu-wayu dari Allah SWT yang berisi
firman-firman yang berasal dari-Nya. Jadi tuduhan kaum kafir bahwa Al-Qur’an
adalah hasil karya cipta nabi Muhammad SAW selama ini tidak masuk akal sama
sekali. Bahkan Allah SWT menantang manusia dan jin untuk membuat yang seperti
Al-Qur’an. Terkandung dalam firman Allah SWT pada surat ke-17 yaitu surat
Al-Isra’ ayat 88:
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ
الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لا يَأْتُونَ
بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا﴿۸۸﴾
“Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan jin
berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan
dapat membuat yang serupa dengannya (Al-Qur’an), sekalipun sebagian mereka
menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (QS. Al-Isra’: 88).
Para ulama berbeda pendapat mengenai
lafadz Al-Qur’an. Sebagian berpendapat, penulisan lafadz tersebut dibubuhi
huruf hamzah (dibaca Al-Qur’an). Pendapat lain mengatakan penulisannya Zdari
akar kata apapun) dan bukan pula berhamzah (tanpa tambahan huruf hamzah di
tengahnya, jadi dibaca Al-Qur’an). Lafadz tersebut sudah lazim digunakan dalam
pengertiannya kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi
menurut Al-Syafi’i, lafadz tersebut bukan berasal dari akar kata Qa-ra-a (membaca), sebab kalau akar katanya
Qa-ra-a, maka tentu setiap sesuatu
yang dibaca dapat dinamai Al-Qur’an. Lafadz tersebut memang nama khusus bagi
Al-Qur’an, sama halnya dengan nama Taurat dan Injil.
a. Al-Fara’
berpendapat, lafadz Al-Qur’an adalah pecahan (musytaq) dari kata Qara’in (kata jamak Qarinah) yang berarti bermakna: kaitan, karena ayat-ayat Al-Qur’an
satu sama lain saling berkaitan. Karena itu jelaslah bahwa huruf “nun”
pada akhir lafadz Al-Qur’an adalah huruf asli, bukan huruf tambahan.
b. Al-Asy’ari
dan para pengikutnya mengatakan, lafadz Al-Qur’an adalah musytaq (pecahan)
dari akar kata Qarn. Ia mengemukakan
contoh kalimat Qarnusy-syai bisy-syai
(menggabungkan sesuatu dengan sesuatu). Jadi kata Qarn dalam hal itu bermakna: gabungan atau kaitan, karena surat-surat
dan ayat-ayat di dalam Al-Qur’an saling bergabung dan saling berkaitan.
Tiga pendapat di atas (Al-Syafi’i, Al-Fara’, dan
Al-Asy’ari) cukuplah sebagai contoh untuk menarik kesimpulan bahwa
lafadz Al-Qur’an (tanpa huruf hamzah di tengahnya) jauh dari kaidah pemecahan
kata (isytiqaq) dalam bahasa Arab. Di antara para ulama yang berpendapat
bahwa lafadz Al-Qur’an ditulis dengan tambahan huruf hamzah di tengahnya ialah Al-Zajjaj[1][2], Al-Lihyani[2][3]serta jama’ah
lainnya.
a. Al-Zajjaj:
lafadz Al-Qur’an ditulis dengan huruf hamzah di tengahnya berdasarkan pola-kata
(Wazn) Fu’lan. Lafadz tersebut pecahan (musytaq) dari akar kata Qar’un yang berarti Jam’un. Ia mengetengahkan contoh kalimat Quri’al Ma’u fil-Haudhi yang berarti: air dikumpulkan dalam kolam. Jadi
dalam kalimat itu kata Qar’un
bermakna Jam’un yang dalam bahasa
Indonesia bermakna “kumpul”. Alasannya Al-Qur’an “mengumpulkan” atau menghimpun
intisari kitab-kitab suci terdahulu.
b. Al-Lihyani:
lafadz Al-Qur’an ditulis dengan huruf hamzah di tengahnya berdasarkan pola-kata
Ghufran dan merupakan pecahan (musytaq)
dari akar kata Qa-ra-a yang bermakna Tala’ (membaca). Lafadz Al-Qur’an
digunakan untuk menamai sesuatu yang dibaca, yakni objek, dalam bentuk mashdar.
Pendapat yang belakangan lebih kuat
(pendapat Al-Lihyani, red) dan lebih tepat karena dalam bahasa
Arab, lafadz Al-Qur’an adalah bentuk mashdar yang maknanya sinonim dengan Qira’ah, yakni “bacaan”. Sebagai contoh,
firman Allah SWT dalam QS. Al-Qiyamah: 17-18.
إِنَّعَلَيْنَاجَمْعَهُوَقُرْآنَهُ﴿۱۷﴾فَإِذَاقَرَأْنَاهُفَاتَّبِعْقُرْآنَهُ﴿۱٨﴾
“Sesungguhnya
atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai)
membacanya (17). Apabila Kami telah selesai
membacakannya maka ikutilah bacaannya itu”(18). (Al-Qiyamah:
17-18).[3][4]
Sedangkan
menurut terminologi Al-Qur’an adalah kalam Allah yang merupakan mukjizat[4][5], yang diturunkan melalui perantaraan
malaikat Jibrilke dalam kalbu Rasulullah SAW,sebagaimana Firman Allah SWT:
إِنَّا
نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيلاً﴿۲۳﴾
“Sesungguhnya Kami telah
menurunkan Al-Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan
berangsur-angsur.” (Al-Insan: 23)
Dan dengan menggunakan bahasa Arab. Sebagaimana dalam
Firman Allah SWT:
إِنَّا
أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ﴿۲﴾
“Sesungguhnya Kami
menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2).
dan disertai dengan kebenaran agar dijadikan hujjah (argumentasi) dalam hal
pengakuannya sebagai Rasul, dan agar dijadikan sebagai dustur (undang-undang) bagi seluruh umat manusia, yang abadi, untuk
kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat,[5][6] di samping merupakan amal ibadah jika
membacanya. Al-Qur’an juga di-tadwin-kan
di antara dua ujung, yang dimulai dari surat Al-Fatihah, dan ditutup dengan surat Al-Nas, dan sampai kepada Kita secara tertib dalam bentuk tulisan
(Mushaf) maupun lisan dalam keadaan utuh atau terpelihara dari perubahan
dan pergantian, sekaligus dibenarkan oleh Allah SWT, di dalam firman-Nya.[6][7] Definisi ini selaras dengan apa yang
diberikan oleh Ahli Ushul.[7][8]
Dalam Kitab Manna’ul-Qaththan
mabahits fi ulumil-Qur’an[8][9], yang dimaksud
Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Muhammad SAW dan
membacanya adalah ibadah.[9][10]
Definisi lain mengenai Al-Qur’an juga dikemukakan
oleh Al-Zarqani. Menurut Al-Zarqani, Al-Qur’an itu adalah lafal yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW, dari permulaan surat Al-Fatihah sampai akhir surat
Al-Naas.[10][11]
Sedangkan Abdul Wahhab Khallaf
memberikan definisi mengenai Al-Qur’an, yaitu firman Allah yang diturunkan
kepada hati Rasulullah; Muhammad bin Abdullah melalui Al-Ruhul Amin
(Jibril As) dengan lafal-lafalnya yang berbahasa Arab dan maknanya yang benar,
agar ia menjadi hujjah bagi Rasul, bahwa ia benar-benar Rasulullah, menjadi undang-undang
bagi manusia, memberi petunjuk kepada mereka, dan menjadi sarana pendekatan
diri dan ibadah kepada Allah dengan membacanya. Al-Qur’an itu terhimpun dalam
mushaf, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat Al-Nas,
disampaikan kepada kita secara mutawatir[11][12] dari generasi
ke generasi secara tulisan maupun lisan. Ia terpelihara dari perubahan atau
pergantian.[12][13]
B.
Fungsi Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah dokumen untuk umat
manusia. Bahkan kita ini sendiri menamakan dirinya petunjuk bagi manusia.[13][14] Allah SWT berfirman Dalam QS:
Al-Baqarah [2]: 185 & 2:
ذَلِكَ
الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ﴿۲﴾
“kitab[14][15] (Al-Qur’an)
ini tidak ada keraguan pada isinya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa[15][16]”. (QS: Al-Baqarah [2]: 2).[16][17]
شَهْرُرَمَضَانَالَّذِيأُنْزِلَفِيهِالْقُرْآنُهُدًىلِلنَّاسِوَبَيِّنَاتٍمِنَالْهُدَىوَالْفُرْقَانِفَمَنْشَهِدَمِنْكُمُالشَّهْرَفَلْيَصُمْهُوَمَنْكَانَمَرِيضًاأَوْعَلَىسَفَرٍفَعِدَّةٌمِنْأَيَّامٍأُخَرَيُرِيدُاللَّهُبِكُمُالْيُسْرَوَلايُرِيدُبِكُمُالْعُسْرَوَلِتُكْمِلُواالْعِدَّةَوَلِتُكَبِّرُوااللَّهَعَلَىمَاهَدَاكُمْوَلَعَلَّكُمْتَشْكُرُونَ﴿۱٨۵﴾
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah)
bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara
kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia
berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya
itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan
hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,
supaya kamu bersyukur.” (QS: Al-Baqarah [2]: 185).
Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa
Al-Qur’an adalah petunjuk yang didesain sedemikian rupa sehingga jelas bagi
umat manusia dengan petunjuk itu manusia bisa membedakan mana yang hak dan
bathil. Inilah sesungguhnya fungsi Al-Qur’an, yaitu sebagai pedoman hidup umat
manusia. Karena itu bila Al-Qur’an dipelajari dengan benar dan sungguh-sungguh
maka isi kandungannya akan membantu Kita menemukan nilai-nilai yang dapat
dijadikan pedoman untuk menyelesaikan berbagai problem hidup.[17][18]
Adapun fungsi Al-Qur’an yang lainnya
adalah:
1. Pengganti
kedudukan kitab suci sebelumnya yang pernah diturunkan Allah SWT.
2. Tuntunan serta
hukum untuk menempuh kehidupan.
3. Menjelaskan
masalah-masalah yang pernah diperselisihkan oleh umat terdahulu.
4. Sebagai Obat
penawar (syifa’) bagi segala macam penyakit, baik penyakit rohani maupun
jasmani. Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Yunus: 57, Al-Isra’: 82, dan
Fushilat: 44.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ
قَدْجَاءَتْكُمْمَوْعِظَةٌمِنْرَبِّكُمْوَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِوَهُدًى
وَرَحْمَةٌلِلْمُؤْمِنِينَ﴿۵۷﴾
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu
pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang
berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus
[10]: 57).
وَنُنَزِّلُ
مِنَالْقُرْآنِمَاهُوَشِفَاءٌوَرَحْمَةٌلِلْمُؤْمِنِينَوَلا يَزِيدُالظَّالِمِينَ
إِلاخَسَارًا﴿٨۲﴾
Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi obat
dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan (Al-Quran itu) tidaklah menambah
kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (QS. Al-Isra' [17]: 82).
وَلَوْجَعَلْنَاهُقُرْآنًاأَعْجَمِيًّالَقَالُوالَوْلافُصِّلَتْآيَاتُهُأَأَعْجَمِيٌّوَعَرَبِيٌّقُلْهُوَلِلَّذِينَآمَنُواهُدًىوَشِفَاءٌوَالَّذِينَلَايُؤْمِنُونَفِيآذَانِهِمْوَقْرٌوَهُوَعَلَيْهِمْعَمًىأُولَئِكَيُنَادَوْنَمِنْمَكَانٍبَعِيدٍ﴿٤٤﴾
“Dan jikalau Kami jadikan Al-Qur’an itu suatu bacaan
dalam bahasa lain selain bahasa Arab tentulah Mereka mengatakan: “Mengapa tidak
dijelaskan ayat-ayatnya?”. Apakah (patut Al-Qur’an) dalam bahasa asing sedang
(rasul adalah orang) Arab?. Katakanlah: “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar
bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga
Mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi Mereka[18][19]. Mereka itu
adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (QS. Fushshilat [41]: 44).
5.
Sebagai pembenar kitab-kitab suci sebelumnya, yakni Taurat, Zabur, dan Injil.
Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS. Fathir: 31 dan Al-Maidah: 48.
وَالَّذِيأَوْحَيْنَا
إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ
اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌبَصِيرٌ﴿۳۱﴾
“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad)
adalah Al-Kitab (Al Qur’an) itulah yang benar, membenarkan kitab-kitab yang
sebelumnya.” (QS. Fathir: 31).
وَأَنْزَلْنَاإِلَيْكَالْكِتَابَبِالْحَقِّمُصَدِّقًالِمَابَيْنَيَدَيْهِمِنَالْكِتَابِوَمُهَيْمِنًاعَلَيْهِفَاحْكُمْبَيْنَهُمْبِمَاأَنْزَلَاللَّهُوَلاتَتَّبِعْأَهْوَاءَهُمْعَمَّاجَاءَكَمِنَالْحَقِّلِكُلٍّجَعَلْنَامِنْكُمْشِرْعَةًوَمِنْهَاجًاوَلَوْشَاءَاللَّهُلَجَعَلَكُمْأُمَّةًوَاحِدَةًوَلَكِنْلِيَبْلُوَكُمْفِيمَاآتَاكُمْفَاسْتَبِقُواالْخَيْرَاتِإِلَىاللَّهِمَرْجِعُكُمْجَمِيعًافَيُنَبِّئُكُمْبِمَاكُنْتُمْفِيهِتَخْتَلِفُونَ﴿٤٨﴾
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al
Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu
kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab
yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran
yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan
jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu
umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu,
maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu
semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS. Al-Ma’idah: 48).
6.
Sebagai pelajaran dan penerangan. Seperti dalam firman Allah SWT dalam QS.
Yasin: 69.
وَمَا عَلَّمْنَاهُ
الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ﴿٦۹﴾
“Al Quran itu tidak lain adalah pelajaran dan kitab yang
memberi penerangan.” (QS. Yaa Siin: 69).
7.
Sebagai pembimbing yang lurus. Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Al-Kahfi:
1-2, Al-An’am: 126 & 153, Al-Isra’: 9, dan Al-Baqarah: 2.
الْحَمْدُ لِلَّهِ
الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا﴿۱﴾قَيِّمًا لِيُنْذِرَ
بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ
الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا﴿۲﴾
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada
hamba-Nya Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan[19][20] di dalamnya {1}; Sebagai
bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari
sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang
mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik {2}.”
(QS. Al-Kahfi: 1-2).
وَهَذَاصِرَاطُرَبِّكَمُسْتَقِيمًاقَدْفَصَّلْنَاالآيَاتِلِقَوْمٍيَذَّكَّرُونَ﴿۱۲٦﴾
“Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus.
Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang
mengambil pelajaran.”
(QS. Al-An’am: 126).
وَأَنَّهَذَاصِرَاطِيمُسْتَقِيمًافَاتَّبِعُوهُوَلاتَتَّبِعُواالسُّبُلَفَتَفَرَّقَبِكُمْعَنْسَبِيلِهِذَلِكُمْوَصَّاكُمْبِهِلَعَلَّكُمْتَتَّقُونَ﴿۱۵۳﴾
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah
jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti
jalan-jalan (yang lain)[20][21], karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan
kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu
bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153).
إِنَّ هَذَا
الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ
يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا﴿۹﴾
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini
memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira
kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal sholih, bahwa bagi
mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’: 9).
ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ
هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ﴿۲﴾
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya;
petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 2).
8.
Sebagai pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi yang meyakininya.
Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Al Jatsiyah: 20, Ibrahim: 1, Al-hadid: 9,
Al-thalaq: 10-11, Al-Maidah: 15-16, dan Al-Ankabut: 51.
هَذَا بَصَائِرُ
لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ﴿۲٠﴾
“Al-Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan
rahmat bagi kaum yang meyakininya.” (QS. Al Jatsiyah: 20).
الركِتَابٌأَنْزَلْنَاهُإِلَيْكَلِتُخْرِجَالنَّاسَمِنَالظُّلُمَاتِإِلَىالنُّورِبِإِذْنِرَبِّهِمْإِلَىصِرَاطِالْعَزِيزِالْحَمِيدِ﴿۱﴾
“Alif laam raa[21][22]. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan
kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya
terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha
Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 1).
هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ
عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى
النُّورِ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ﴿۹﴾
“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya
ayat-ayat yang terang (Al Qur'an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan
kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha
Penyayang terhadapmu.”(QS.
Al-Hadid: 9).
أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ
عَذَابًا شَدِيدًا فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الألْبَابِ الَّذِينَ آمَنُوا
قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا﴿۱٠﴾رَسُولا يَتْلُو
عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ
وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا قَدْ أَحْسَنَ اللَّهُ لَهُ رِزْقًا﴿۱۱﴾
“Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras,
maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal, (yaitu)
orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan
kepadamu {10}, (Dan mengutus) seorang
Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam
hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal-amal yang saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barang siapa beriman
kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya
ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya
{11}.”
(QS. Al-Thalaq: 10-11).
يَاأَهْلَالْكِتَابِقَدْجَاءَكُمْرَسُولُنَايُبَيِّنُلَكُمْكَثِيرًامِمَّاكُنْتُمْتُخْفُونَمِنَالْكِتَابِوَيَعْفُوعَنْكَثِيرٍقَدْجَاءَكُمْمِنَاللَّهِنُورٌوَكِتَابٌمُبِينٌ﴿۱۵﴾يَهْدِيبِهِاللَّهُمَنِاتَّبَعَرِضْوَانَهُسُبُلَالسَّلامِوَيُخْرِجُهُمْمِنَالظُّلُمَاتِإِلَىالنُّورِبِإِذْنِهِوَيَهْدِيهِمْإِلَىصِرَاطٍمُسْتَقِيمٍ﴿۱٦﴾
“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang
kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu
sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang
kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan (15). Dengan kitab
itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan
keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu
dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan
menunjuki mereka ke jalan yang lurus (16).”
(QS. Al-Maidah: 15-16).
أَوَلَمْيَكْفِهِمْأَنَّاأَنْزَلْنَاعَلَيْكَالْكِتَابَيُتْلَىعَلَيْهِمْإِنَّفِيذَلِكَلَرَحْمَةًوَذِكْرَىلِقَوْمٍيُؤْمِنُونَ﴿۵۱﴾
“Dan apakah tidak cukup bagi mereka
bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) sedang dia
dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur'an) itu terdapat rahmat
yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Ankabut: 51).
9.
Sebagai pengajaran. Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Al-Qalam: 52, dan Ali
Imran: 138.
وَمَاهُوَإِلاذِكْرٌلِلْعَالَمِينَ﴿۵۲﴾
“Dan tiadalah ia (Al Qur-an), melainkan pengajaran untuk
semesta alam.” (QS. AI-Qalam:52).
هَذَابَيَانٌلِلنَّاسِوَهُدًىوَمَوْعِظَةٌلِلْمُتَّقِينَ﴿۱۳٨﴾
“(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia,
dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.
Ali-Imran: 138).
10.
Sebagai
petunjuk dan kabar gembira. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS.
Al-Nahl: 89.
وَيَوْمَنَبْعَثُفِيكُلِّأُمَّةٍشَهِيدًاعَلَيْهِمْمِنْأَنْفُسِهِمْوَجِئْنَابِكَشَهِيدًاعَلَىهَؤُلاءِوَنَزَّلْنَاعَلَيْكَالْكِتَابَتِبْيَانًالِكُلِّشَيْءٍوَهُدًىوَرَحْمَةًوَبُشْرَىلِلْمُسْلِمِينَ﴿٨۹﴾
“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada
tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami
datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami
turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan
petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl:
89).
11.
Sebagai pembanding atau pembeda (Furqan)
antara yang haq dan bathil. Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah [2]:
185.
شَهْرُرَمَضَانَالَّذِيأُنْزِلَفِيهِالْقُرْآنُهُدًىلِلنَّاسِوَبَيِّنَاتٍمِنَالْهُدَىوَالْفُرْقَانِفَمَنْشَهِدَمِنْكُمُالشَّهْرَفَلْيَصُمْهُوَمَنْكَانَمَرِيضًاأَوْعَلَىسَفَرٍفَعِدَّةٌمِنْأَيَّامٍأُخَرَيُرِيدُاللَّهُبِكُمُالْيُسْرَوَلايُرِيدُبِكُمُالْعُسْرَوَلِتُكْمِلُواالْعِدَّةَوَلِتُكَبِّرُوااللَّهَعَلَىمَاهَدَاكُمْوَلَعَلَّكُمْتَشْكُرُونَ﴿۱٨۵﴾
“(Beberapa hari yang ditentukan itu
ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an
sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu
dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di
antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia
berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya
itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan
hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,
supaya kamu bersyukur.”(QS. Al-Baqarah [2]: 185).
12.
Sebagai pengajaran/pembentang/penjelas (tibyan)
segala sesuatu akan ilmu pengetahuan dan rahasia-rahasia alam dunia dan
akhirat. Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran: 138, dan QS. Yusuf: 111.
لَقَدْكَانَفِيقَصَصِهِمْعِبْرَةٌلأولِيالألْبَابِمَاكَانَحَدِيثًايُفْتَرَىوَلَكِنْتَصْدِيقَالَّذِيبَيْنَيَدَيْهِوَتَفْصِيلَكُلِّشَيْءٍوَهُدًىوَرَحْمَةًلِقَوْمٍيُؤْمِنُونَ﴿۱۱۱﴾
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat
pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita
yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan
menjelaskan segala sesuatu, dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf
[12]: 111).
هَذَابَيَانٌلِلنَّاسِوَهُدًىوَمَوْعِظَةٌلِلْمُتَّقِينَ﴿۱۳٨﴾
“(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia,
dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.
Ali-Imran: 138).
13.
Sebagai tali Allah yang harus diikat kuat dan digenggam teguh dalam hati dan
kehidupan, khususnya bersama-sama agar tidak bercerai-berai. Seperti dalam
Firman Allah SWT dalam QS. Al-Zukhruf: 43, dan Ali Imran: 102-103.
فَاسْتَمْسِكْبِالَّذِي
أُوحِيَإِلَيْكَإِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍمُسْتَقِيمٍ﴿٤۳﴾
“Maka berpeganglah teguhlah kamu kepada agama yang telah
diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.” (QS.
Al-Zukhruf [43]: 43).
يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوااتَّقُوااللَّهَحَقَّتُقَاتِهِوَلاتَمُوتُنَّإِلاوَأَنْتُمْمُسْلِمُونَ﴿۱۰۲﴾وَاعْتَصِمُوابِحَبْلِاللَّهِجَمِيعًاوَلاتَفَرَّقُواوَاذْكُرُوانِعْمَةَاللَّهِعَلَيْكُمْإِذْكُنْتُمْأَعْدَاءًفَأَلَّفَبَيْنَقُلُوبِكُمْفَأَصْبَحْتُمْبِنِعْمَتِهِإِخْوَانًاوَكُنْتُمْعَلَىشَفَاحُفْرَةٍمِنَالنَّارِفَأَنْقَذَكُمْمِنْهَاكَذَلِكَيُبَيِّنُاللَّهُلَكُمْآيَاتِهِلَعَلَّكُمْتَهْتَدُونَ﴿۱۰۳﴾
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan
dalam keadaan beragama Islam (102). Dan berpeganglah kamu
semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,
dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah)
bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena
nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang
neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk (103).” (QS.
Ali Imran: 102-103).
14.
Sebagai tadzkirah (peringatan) bagi orang-orang
yang takut kepada Allah dan terhadap kepemimpinan Al-Qur’an. Seperti Firman
Allah SWT dalam QS. Thaha: 1-4 & 123-124.
طه﴿۱﴾
مَاأَنْزَلْنَاعَلَيْكَالْقُرْآنَلِتَشْقَى﴿۲﴾
إِلَّاتَذْكِرَةًلِمَنْيَخْشَى﴿۳﴾تَنْزِيلامِمَّنْخَلَقَالأرْضَوَالسَّمَاوَاتِالْعُلاَ﴿٤﴾
“Thaahaa[22][23]{1}. Kami
tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah {2}; tetapi
sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah) {3}.
Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi
{4}.” (QS. Thaha: 1-4).
قَالَاهْبِطَامِنْهَاجَمِيعًابَعْضُكُمْلِبَعْضٍعَدُوٌّفَإِمَّايَأْتِيَنَّكُمْمِنِّيهُدًىفَمَنِاتَّبَعَهُدَايَفَلايَضِلُّوَلايَشْقَى﴿۱۲۳﴾وَمَنْأَعْرَضَعَنْذِكْرِيفَإِنَّلَهُمَعِيشَةًضَنْكًاوَنَحْشُرُهُيَوْمَالْقِيَامَةِأَعْمَى﴿۱۲٤﴾
“Allah
berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama,
sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu
petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak
akan sesat dan tidak akan celaka (123).” Dan barangsiapa berpaling
dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit,
dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta (124).”
(QS. Thaha: 123-124).
15.
Sebagai pengawas (Muhaiminun) dan
penjaga atas kitab-kitab samawi lainnya, tidak hanya membenarkan masalah
aqidah, akan tetapi masalah syariat alamiyah juga. Al-Qur’an juga menetapkan
sebagian hukum-hukum dari kitab sebelumnya dan mengganti serta mengubah
sebagian lainnya.[23][24] Seperti Firman Allah SWT dalam QS.
Al-Maidah: 48.
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ
بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا
عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ
أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً
وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ
لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آَتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ
مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ﴿٤٨﴾
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur'an dengan
membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang
diturunkan sebelumnya) dan batu ujian[24][25] terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka
putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang
kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu,[25][26] Kami berikan
aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu
dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap
pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada
Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah
kamu perselisihkan itu”. (QS. Al-Maidah: 48).
16.
Sebagai Mukjizat bagi Rasulullah SAW yang bertujuan untuk melemahkan
musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya yang meragukan kenabian dan kerasulan-Nya.
Selain itu fungsi Al-Qur’an yang tidak kalah penting,
adalah sebagai bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW, dan bukti bahwa semua ayatnya
benar-benar dari Allah SWT. Sebagai bukti kedua fungsinya yang terakhir paling
tidak ada dua aspek dalam Al-Qur’an itu sendiri: 1) Isi/kandungannya yang
sangat lengkap dan sempurna; 2) Keindahan bahasa dan ketelitian redaksinya: 3)
Kebenaran berita-berita ghaibnya; dan 4) Isyarat-isyarat ilmiahnya.
C.
Tujuan Diturunkannya Al-Qur’an
Sebagai pedoman hidup yang benar,
Al-Qur’an niscaya harus memberikan suatu petunjuk hidup yang benar, mendasar
dan pasti. Sehingga dapat dijadikan sebagai pegangan yang kokoh dalam
menghadapi hidup. Oleh karena itu tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an tidak
lain kecuali untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia ke jalan yang harus
ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat[26][27]. Adapun petunjuk yang diberikan oleh Al-Qur’an pada
pokoknya ada tiga:
1.
Petunjuk aqidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul
dalam keimanan akan keesaan Allah dan kepercayaan akan kepastian adanya hari
pembalasan.
2.
Petunjuk mengenai akhlaq yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma
keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara
individual dan kolektif.
3.
Petunjuk mengenai syari’at dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum
yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan
sesamanya.[27][28]
D. Hikmah
Diturunkannya Al-Qur’an
Telah jelas dari pembagian Al-Quran
menjadi ayat-ayat Makiyah dan Madaniyah menunjukkan bahwa Al-Quran turun secara
berangsur-angsur. Turunnya Al-Quran dengan cara tersebut memiliki hikmah yang
banyak, di antaranya:
- Pengokohan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla pada surat Al-Furqan, ayat 32—33,
“Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” - Memberi kemudahan bagi manusia untuk menghapal,
memahami serta mengamalkannya, karena Al-Quran dibacakan kepadanya secara
bertahap. Berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat Al-Isra`,
ayat 106,
“Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” - Memberikan semangat untuk menerima dan melaksanakan apa yang telah diturunkan di dalam Al-Quran karena manusia rindu dan mengharapkan turunnya ayat, terlebih lagi ketika mereka sangat membutuhkannya. Seperti dalam ayat-ayat ‘ifk (berita dusta yang disebarkan sebagian orang tentang Aisyah radhiyallahu ‘anha=) dan li’an.
- Penetapan syariat secara bertahap sampai kepada
tingkatan yang sempurna.
Seperti yang terdapat dalam ayat khamr, yang mana manusia pada masa itu hidup dengan khamr dan terbiasa dengan hal tersebut, sehingga sulit jika mereka diperintahkan secara spontan meninggalkannya secara total. - Maka untuk pertama kali turunlah firman Allah ‘Azza wa
Jalla (yaitu, surat Al-Baqarah ayat 219) yang menerangkan keadaan khamr.
Ayat ini membentuk kesiapan jiwa-jiwa manusia untuk pada akhirnya mau
menerima pengharaman khamr, di mana akal menuntut untuk tidak membiasakan
diri dengan sesuatu yang dosanya lebih besar daripada manfaatnya.
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfa’at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa’atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” - Kemudian yang kedua turun firman Allah ‘Azza wa Jalla
(yaitu surat An-Nisaa` ayat 43). dalam ayat tersebut terdapat perintah
untuk membiasakan meninggalkan khamr pada keadaan-keadaan tertentu yaitu
waktu shalat.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.” - Kemudian tahap ketiga turun firman Allah ‘Azza wa
Jalla (yaitu surat Al-Ma-idah ayat 90–92). Dalam ayat tersebut terdapat
larangan meminum khamr dalam semua keadaan, hal itu sempurna setelah
melalui tahap pembentukan kesiapan jiwa-jiwa manusia, kemudian diperintah
untuk membiasakan diri meninggalkan khamr pada keadaan tertentu.
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan ta’atlah kamu kepada Allah dan ta’atlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”
wahyu Amri
No comments:
Post a Comment