Translate

Thursday, June 15, 2017

Tips (apa yang seharusnya di lakukakn) menjelang 10 malam terakhir Ramadhan..


Copas status Ustazah Aan Rohananh
Semoga bermanfaat, juga sebagai pengingat utk diri dan keluarga

💡Tips menjelang 10 malam terakhir Ramadhan
Oleh  Sheikh Tawfique Chowdhury 💡

1. Mulailah dengan niat yang bersih  dan tulus. Jika sampai hari ini ibadah terasa belum maksimal, bersiaplah untuk memaksimalkannya. Jika kau benar2 ingin memperbaikinya, masih ada waktu!

2. Hari ini, bacalah tafsir surat AlQadr, dan pahami apa yg sesungguhnya terjadi pada malam laylatul qadr. Kau akan merasakan keagungan dan kekuatannya in syaa Allaah.

3. Jangan menunggu hingga malam ke 27 untuk mengerahkan segalanya.  Seluruh malam dari 10 malam terakhir seharusnya jadi targetmu. Bangunlah setiap malamnya. Jangan sampai laylatul qadr terlewati begitu saja.

4. Jangan ikut-ikutan dengan perayaan2 atau kegiatan2 yang diada2kan (bid'ah) oleh kelompok2 tertentu. Ikutilah sunnah nabi shalallaahu 'alayhi wasallam. Tuntunan beliau adalah : "barangsiapa yang berjaga (tdk tidur) dan berdoa pada malam laylatul qadr dengan iman dan pengharapan akan ganjarannya, dosa2nya yang telah lalu akan diampuni."

5. Hafalkan doa malam laylatul qadr yang diajarkan Rasulullaah shalallaahu 'alayhi wasallam ini : Allaahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa' fu'anni (ya Allah, engkau maha pengampun dan menyukai pengampunan, maka ampunilah aku).

6. Siapkan daftar pendek doa doa untuk dipanjatkan. Ingat, ini adalah waktu yang sangat istimewa bagi seorang hamba. Malam Qadar! Malam ditetapkannya takdir! Pilihlah doa doa terbaik untuk agamamu, dunia akhiratmu dan keluargamu. Jangan lupakan saudara2mu muslimin yang tengah kesusahan di berbagai belahan dunia.

7. Sempatkan tidur siang sejenak jika memungkinkan. Jagalah perutmu agar tidak terlalu kenyang dan tidurlah segera setelah isha dan tarawih sekedar untuk menyegarkan diri.  Lalu bangunlah untuk beribadah.

8. Jangan lupakan keluargamu! Rasulullah  membangunkan para istrinya pada malam2 ini. Anak2 pun bisa diajak beribadah untuk beberapa saat, walau mungkin tidak selama orang dewasa. Siapkan, semangati dan motivasi mereka!

9. Cara kita berpakaian dan mempersiapkan diri berpengaruh secara psikologis. Pakailah pakaian yang bagus  dan wewangian (khusus di rumah untuk wanita) ketika beribadah.

10. Pilihlah spot khusus yang kondusif untuk beribadah, apakah itu di mesjid atau di rumah. Letakkan sajadah, mushaf dan air minum sehingga kita tidak perlu beranjak dari sana jika perlu minum.

11. Ini BUKAN malam untuk pasang status (misalnya : "alhamdulillaah, nikmatnya bermunajat kepadaNYA malam ini" dsb)  di FB atau media sosial apapun. Biarlah itu jadi rahasia indah antara hamba dengan Rabbnya. Maka, matikan dulu HP, tablet dan komputer. Putuskan dulu hubungan dengan dunia, dan nikmati jalinan hubungan dengan al-'Afuww!

12. Jika mengantuk, maka variasikan bentuk ibadah antara shalat, bermunajat dan membaca Qur'an. Lakukan bergantian. Jangan habiskan malam untuk mendengarkan ceramah atau tilawah, atau kalau sangat ngantuk, dengarkan sebentar saja untuk mengusir kantuk.

13. Sabar adalah kuncinya. 10 malam terakhir mungkin akan sangat melelahkan. Anda mungkin masih harus bekerja, sekolah atau altifitas lainnya. Ini adalah saat untuk bersabar dengan kelelahan itu. Ingatlah Allah telah menganugrahimu dengan kesempatan berharga (akan luasnya ampunan)yang mungkin saja tidak datang lagi. Bukankah kita akan berlari walau apapun yang terjadi jika kita tahu pasti bahwa ini adalah ramadhan terakhir kita dan surga hanya selangkah lagi?

14. Ini yang paling penting : husnudzhon lah kepada Allah. Ketika bermunajat, ingatlah kau sedang meminta pada Raja Yang Maha Pemurah. Jika kau berharap yang terbaik, Dia akan memberimu yang terbaik. Jangan ragu-ragu, yakinlah dan tumpahkan seluruh isi hatimu di hadapanNYA. Jangan biarkan keragu2an dan prasangka buruk menjauhkanmu dari Arrahman Arrahiim.

Allahumma ballighna layl atal qadr.

Semangat dan optimalkan amal ibadah qita di 10 hari terakhir mohonlah kepada Allah SWT agar kita diberikan kesabaran utk bertemu dengan malam laylatur qadr. Ya Allah Ya Rab pertemukanlah hambamu dengan malam laylatur qadar di bulan ramadhan tahun ini. Aaminn YRA

Tuesday, June 13, 2017

Menaati pemimpin


*Ingatlah jika ada yang merasa bahwa hasil Pilpres tidak sesuai harapannya, siapa pun Presiden terpilih tetap wajib ditaati. Sekejam apa pun dia, sejelek apa pun orangnya tetap wajib didengar. Itulah seorang muslim dan rakyat yang baik. Walau pemimpinmu sekejam Al Hajjaj bin Yusuf, tetap wajib ditaati.*

*Siapa Al Hajjaj bin Yusuf?*

💬👤 Imam Adz Dzahabi menyebutkan tentang Al Hajjaj bin Yusuf, “Al Hajjaj, Allah memusnahkannya di bulan Ramadhan tahun 95 Hijrah dalam keadaan tua, dan beliau adalah seorang yang zhalim, bengis, naashibi (pembenci Ahlul Bait), keji, suka menumpahkan darah, memiliki keberanian, kelancangan, tipu daya, dan kelicikan, kefasihan, ahli bahasa, dan kecintaan terhadap Al Quran. Aku (Imam Adz Dzahabi) telah menulis tentang sejarah hidupnya yang buruk dalam kitabku At Tarikh Al Kabir, mengenai pengepungannya terhadap Ibnu Az Zubair dan Ka’bah, serta perbuatannya melempar Ka’bah dengan manjaniq, penghinaannya terhadap penduduk Al Haramain (dua tanah haram), penguasaannya terhadap ‘Iraq dan wilayah timur, semuanya selama 20 tahun. Juga peperangannya dengan Ibnul Asy’ats, sikapnya melambat-lambat (melalaikan) shalat sehinggalah Allah mematikannya, maka kami mencelanya, dan kami tidak mencintainya, sebaliknya kami membencinya karena Allah.” (Siyar A’lam An Nubala’, 4: 343)

*Apa saja kekejaman Al Hajjaj?*

'''```Al Hajjaj pernah berkata di mimbar Wasith (di kota Wasith), “‘Abdullah bin Mas’ud adalah pemimpin golongan munafiq. Kalau aku menemuinya aku akan basahkan muka bumi dengan darahnya.” ```(Al Bidayah wa An Nihayah, 9: 149)

💬👤Al Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan, “Dan ini termasuk kekurangajaran Al Hajjaj, semoga Allah memburukkannya, dan termasuk kelancangannya mengungkapkan perkataan yang buruk, serta menumpahkan darah tanpa haq. Beliau dengki dengan qira’ah (bacaan) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu karena menyelisihi qira’ah pada mushaf induk yang dihimpunkan manusia pasa masa ‘Utsman.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9: 149)

Al Qa’qa’ bin Ash Shalt berkata: “Al Hajjaj pernah berkhuthbah lalu beliau mengatakan dalam khuthbahnya, “Sesungguhnya Ibnu Az Zubair mengubah Kitab Allah.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9: 140)

*Bagaimanakah Sikap Sahabat Nabi Ketika Al Hajjaj Menjadi Pemimpin?*

```Apakah jika kita dapati pemimpin yang tidak kita senangi, yang tidak sesuai harapan kita, lantas kita berontak? Ternyata tidak. Jalan nubuwwah memerintahkan kita untuk tetap taat dan bersabar terhadapnya.```

📕 *Perhatikan hadits berikut,*

عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِىٍّ قَالَ أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الْحَجَّاجِ فَقَالَ « اصْبِرُوا ، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِى بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ » . سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ – صلى الله عليه وسلم –

💬👤 *Dari Az Zubair bin ‘Adiy, ia berkata*, _“Kami pernah mendatangi Anas bin Malik. Kami mengadukan tentang (kekejaman) Al Hajjaj pada beliau. Anas pun mengatakan, “Sabarlah, karena tidaklah datang suatu zaman melainkan keadaan setelahnya lebih jelek dari sebelumnya sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian. Aku mendengar wasiat ini dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam.”_ (HR. Bukhari no. 7068).

👆 *Hadits di atas menunjukkan tidak bolehnya keluar dari ketaatan pada pemimpin, siapa pun dia selama ia memerintahkan selain dalam perkara maksiat.*

👆 ```Hadits di atas juga menunjukkan bahwa menolak masfadat (kerusakan) yang lebih besar dengan mengambil mafsadat yang lebih ringan. Seandainya Anas bin Malik mewasiatkan untuk memberontak tentu akan timbul kerusakan yang besar ketika itu. Namun beliau perintahkan untuk bersabar sebagaimana wasiat Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam.

Intinya, kita sebagai rakyat tetap taat pada Presiden yang terpilih, siapa pun itu, meski tidak kita sukai. Dalam hadits disebutkan,```

عَلىَ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أَمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

_“Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah kemaksiatan. Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak perlu mendengar dan taat.”_ (HR. Bukhari no. 7144  dan Muslim no. 1839)

*Selama Presiden tersebut seorang muslim dan mengerjakan shalat, wajib ditaati. Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,*

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

_“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita menentang mereka dengan pedang?”   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya  dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.”_ (HR. Muslim no. 1855)

*Jangan sampai kita disebut mati jahiliyyah. Orang jahiliyyah itu tidaklah memiliki pemimpin. Mereka ingin hidup bebas tanpa ada yang memerintah mereka. Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,*

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

_“Barangsiapa yang tidak suka sesuatu pada pemimpinnya, bersabarlah. Barangsiapa yang keluar dari ketaatan pada pemimpin barang sejengkal, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”_ (HR. Bukhari no. 7053 dan Muslim no. 1849). Yang dimaksud tidak suka sesuatu pada pemimpin adalah selain kekufuran yang nyata. Sedangkan keluar dari ketaatan barang sejengkal yang dimaksud adalah tidak taat pada pemimpin walau hanya sedikit.

📚 *Pemimpin adalah Cerminan dari Rakyatnya*

*Ingatlah bahwa pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya, ini sudah sunnatullah.*

➡ _Jika rakyat itu shalih, cerdas, dan baik, maka pemimpinnya seperti itu pula._

*Jika rakyat itu fasik, sukanya maksiat, maka pemimpinnya adalah cerminan dari rakyatnya.*

Allah Ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

_“Demikianlah kami jadikan sebagaian orang zhalim sebagai pemimpin bagi orang zhalim yang lain, disebabkan perbuatan maksiat yang telah mereka lakukan.”_ (QS. Al An’am: 129).

💬👤 *Para ulama berkata,*

كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ

_“Bagaimanapun keadaan kalian (rakyat), maka begitulah keadaan pemimpin kalian.”_ (catatan: Ungkapan ini dijadikan sebagai judul sebuah risalah yang ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani al-Jazairi)

*Alkisah ada seorang khawarij yang datang menemui Ali bin Abi Thalib seraya berkata, “Wahai khalifah Ali, mengapa pemerintahanmu banyak di kritik oleh orang tidak sebagaimana pemerintahannya Abu Bakar dan Umar?!” Sahabat Ali Menjawab, “Karena pada zaman Abu Bakar dan Umar yang menjadi rakyat adalah aku dan orang-orang yang semisalku, sedangkan rakyatku adalah kamu dan orang-orang yang semisalmu!!” (Syarh Riyadhus Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin).*

Semoga kita bisa semakin bercermin dan introspeksi diri. Apakah kita sudah baik ataukah belum?

📌 *Indahnya Di Atas Sunnah Rasulullah dengan pemahaman SALAF*

📭 *Mari bergabung ke Grup WA kami!!*

📩 *Ketik📱📲 Bismillah#Nama#Asal#Profesi#*

📨 *Kirim ke Admin*
📚 *مـجموعه أهـــل الســــنّه*
👤 *Grup Ikhwan*
📞 085297451920

📚 *مـجموعه أهـــل الســــنّه أخوات*

👤 *Grup Akhwat*
📞 082165507318

Monday, June 12, 2017

Bahayanya sikap menunda nunda

📚 *Bahaya Sikap Menunda-nunda*

*“Iya nanti sajalah”*
👆demikian yang dikatakan dalam rangka menunda-nunda pekerjaaan atau amalan padahal masih bisa dilakukan saat itu. Kebiasaan kita adalah demikian, karena rasa malas.

➡ Perlu diketahui saudaraku, perkataan *“sawfa … sawfa”, “nanti sajalah”* dalam rangka menunda-nunda kebaikan, ini adalah bagian dari “tentara-tentara iblis”. *Demikian kata sebagian ulama salaf.*

💬👤 *Menunda-nunda kebaikan dan sekedar berangan-angan tanpa realisasi, kata Ibnul Qayyim bahwa itu adalah dasar dari kekayaan orang-orang yang bangkrut.*

إن المنى رأس أموال المفاليس

_“Sekedar berangan-angan (tanpa realisasi) itu adalah dasar dari harta orang-orang yang bangkrut.”[1]_

Dalam sya’ir Arab juga disebutkan,

وَ لاَ تَرْجِ عَمَلَ اليَوْمِ إِلَى الغَدِ          لَعَلَّ غَدًا يَأْتِي وَ أَنْتَ فَقِيْدُ

_Janganlah engkau menunda-nunda amalan hari ini hingga besok_

_Seandainya besok itu tiba, mungkin saja engkau akan kehilangan_

Dari Abu Ishaq, ada yang berkata kepada seseorang dari ‘Abdul Qois, “Nasehatilah kami.” Ia berkata, _“Hati-hatilah dengan sikap menunda-nunda (nanti dan nanti).”_

💬👤 *Al Hasan Al Bashri berkata,* _“Hati-hati dengan sikap menunda-nunda. Engkau sekarang berada di hari ini dan bukan berada di hari besok. Jika besok tiba, engkau berada di hari tersebut dan sekarang engkau masih berada di hari ini. Jika besok tidak menghampirimu, maka janganlah engkau sesali atas apa yang luput darimu di hari ini.”[2]_

🔰```Itulah yang dilakukan oleh kita selaku penuntut ilmu. Besok sajalah baru hafal matan kitab tersebut. Besok sajalah baru mengulang hafalan qur’an. Besok sajalah baru menulis bahasan fiqih tersebut. Besok sajalah baru melaksanakan shalat sunnah itu, masih ada waktu. Yang dikatakan adalah besok dan besok, nanti dan nanti sajalah.```

📚👉Jika memang ada kesibukan lain dan itu juga kebaikan, maka sungguh hari-harinya sibuk dengan kebaikan. Tidak masalah jika ia menset waktu dan membuat urutan manakah yang prioritas yang ia lakukan karena ia bisa menilai manakah yang lebih urgent. Namun bagaimanakah jika masih banyak waktu, benar-benar ada waktu senggang dan luang untuk menghadiri majelis ilmu, muroja’ah, menulis hal manfaat, melaksanakan ibadah lantas ia menundanya. Ini jelas adalah sikap menunda-nunda waktu yang kata Ibnul Qayyim termasuk harta dari orang-orang yang bangkrut. Yang ia raih adalah kerugian dan kerugian.

*Lihatlah bagaimana kesibukan ulama silam akan waktu mereka. Sempat-sempatnya mereka masih sibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah.*

Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata, _“Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya. Lalu dia berkata pada kami, ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk. Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’  Lalu kami pun bertakbir. Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.”[3] Subhanallah … Lisan selalu terjaga dengan hal manfaat dari waktu ke waktu._

Ingatlah nasehat Imam Asy Syafi’i –di mana beliau mendapat nasehat ini dari seorang sufi-[4], “Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. (Di antaranya), dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”[5]

Hasan Al Bashri mengatakan, *“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.”[6]*

_Semoga Allah memudahkan kita untuk memanfaatkan waktu kita dengan hal yang bermanfaat dan menjauhkan kita dari sikap menunda-nunda._

Bahayanya sikap menunda nunda

📚 *Bahaya Sikap Menunda-nunda*

*“Iya nanti sajalah”*
👆demikian yang dikatakan dalam rangka menunda-nunda pekerjaaan atau amalan padahal masih bisa dilakukan saat itu. Kebiasaan kita adalah demikian, karena rasa malas.

➡ Perlu diketahui saudaraku, perkataan *“sawfa … sawfa”, “nanti sajalah”* dalam rangka menunda-nunda kebaikan, ini adalah bagian dari “tentara-tentara iblis”. *Demikian kata sebagian ulama salaf.*

💬👤 *Menunda-nunda kebaikan dan sekedar berangan-angan tanpa realisasi, kata Ibnul Qayyim bahwa itu adalah dasar dari kekayaan orang-orang yang bangkrut.*

إن المنى رأس أموال المفاليس

_“Sekedar berangan-angan (tanpa realisasi) itu adalah dasar dari harta orang-orang yang bangkrut.”[1]_

Dalam sya’ir Arab juga disebutkan,

وَ لاَ تَرْجِ عَمَلَ اليَوْمِ إِلَى الغَدِ          لَعَلَّ غَدًا يَأْتِي وَ أَنْتَ فَقِيْدُ

_Janganlah engkau menunda-nunda amalan hari ini hingga besok_

_Seandainya besok itu tiba, mungkin saja engkau akan kehilangan_

Dari Abu Ishaq, ada yang berkata kepada seseorang dari ‘Abdul Qois, “Nasehatilah kami.” Ia berkata, _“Hati-hatilah dengan sikap menunda-nunda (nanti dan nanti).”_

💬👤 *Al Hasan Al Bashri berkata,* _“Hati-hati dengan sikap menunda-nunda. Engkau sekarang berada di hari ini dan bukan berada di hari besok. Jika besok tiba, engkau berada di hari tersebut dan sekarang engkau masih berada di hari ini. Jika besok tidak menghampirimu, maka janganlah engkau sesali atas apa yang luput darimu di hari ini.”[2]_

🔰```Itulah yang dilakukan oleh kita selaku penuntut ilmu. Besok sajalah baru hafal matan kitab tersebut. Besok sajalah baru mengulang hafalan qur’an. Besok sajalah baru menulis bahasan fiqih tersebut. Besok sajalah baru melaksanakan shalat sunnah itu, masih ada waktu. Yang dikatakan adalah besok dan besok, nanti dan nanti sajalah.```

📚👉Jika memang ada kesibukan lain dan itu juga kebaikan, maka sungguh hari-harinya sibuk dengan kebaikan. Tidak masalah jika ia menset waktu dan membuat urutan manakah yang prioritas yang ia lakukan karena ia bisa menilai manakah yang lebih urgent. Namun bagaimanakah jika masih banyak waktu, benar-benar ada waktu senggang dan luang untuk menghadiri majelis ilmu, muroja’ah, menulis hal manfaat, melaksanakan ibadah lantas ia menundanya. Ini jelas adalah sikap menunda-nunda waktu yang kata Ibnul Qayyim termasuk harta dari orang-orang yang bangkrut. Yang ia raih adalah kerugian dan kerugian.

*Lihatlah bagaimana kesibukan ulama silam akan waktu mereka. Sempat-sempatnya mereka masih sibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah.*

Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata, _“Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya. Lalu dia berkata pada kami, ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk. Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’  Lalu kami pun bertakbir. Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.”[3] Subhanallah … Lisan selalu terjaga dengan hal manfaat dari waktu ke waktu._

Ingatlah nasehat Imam Asy Syafi’i –di mana beliau mendapat nasehat ini dari seorang sufi-[4], “Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. (Di antaranya), dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”[5]

Hasan Al Bashri mengatakan, *“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.”[6]*

_Semoga Allah memudahkan kita untuk memanfaatkan waktu kita dengan hal yang bermanfaat dan menjauhkan kita dari sikap menunda-nunda._

Permasalahan perubahan arah qiblat

💬👤 *PERTANYAAN*
*Assalamualaikum ustadz....*

*Ana mau tanya perihal perubahan arah kiblat, bbrp masjid ada perubahan arahnya, Nah di situ timbul perbedaan pendapat yg di bbrp daerah sangat2 riskan dgn perpecahan umat, Mhn dalilnya ustadz....*

Syukron

*Jawaban*
Memang ia yang antum katakan bahwa dibeberapa Masjid ada perubahan arah kiblat bahkan ada yang membangun ulang masjidnya hanya untuk menggeser Kekanan sedikit.
*Tapi Begini akhi...*
➡ *Jika kita melihat ka’bah secara langsung, maka kita punya kewajiban untuk menghadap ke arah ka’bah persis, tanpa boleh melenceng.*

➡ *Namun jika kita berada jauh dari Ka’bah, maka kita cukup menghadap ke arahnya saja, yaitu di negeri kita di Indonesia adalah arah barat.*

🔰 Sekarang masalahnya, apakah boleh kita yang berada di Indonesia- menghadap ke barat lalu bergeser sedikit ke arah utara?

➡ *Jawabannya, selama itu tidak menyusahkan diri, maka itu tidak mengapa.* Bahkan kami katakan agar terlepas dari perselisihan ulama, cara tersebut mungkin lebih baik selama kita mampu melakukannya dan tidak menyusah-nyusahkan diri.

🔰 ```Namun jika merasa kesulitan mengubah posisi kiblat, karena masjid agak terlalu jauh untuk dimiringkan dan sangat sulit bahkan kondisi masjid malah menjadi sempit, maka selama itu masih antara arah utara dan selatan, maka posisi kiblat tersebut dianggap sah. Akan tetapi, jika mungkin kita mampu mengubah arah kiblat seperti pada masjid yang baru dibangun atau untuk tempat shalat kita di rumah, selama itu tidak ada kesulitan, maka lebih utama kita merubahnya.```

📕 *Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,*

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

_“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorangpun yang membebani dirinya di luar kemampuannya kecuali dia akan dikalahkan. Hendaklah kalian melakukan amal dengan sempurna (tanpa berlebihan dan menganggap remeh). Jika tidak mampu berbuat yang sempurna (ideal) maka lakukanlah yang mendekatinya. Perhatikanlah ada pahala di balik amal yang selalu kontinu. Lakukanlah ibadah (secara kontinu) di waktu pagi dan waktu setelah matahari tergelincir serta beberapa waktu di akhir malam.”_ (HR. Bukhari no. 39. Lihat penjelasan hadits ini di Fathul Bari)

💬👤 *“Ada yang mengatakan bahwa kami akan pas-pasin arah kiblat persis ke ka’bah. Maka kami katakan bahwa hal ini terlalu menyusahkan diri dan seperti ini tidak ada dalil yang menuntunkannya bahkan hal ini tidak pernah dilakukan oleh para sahabat padahal mereka adalah sebaik-baik generasi umat ini. Jadi yang benar, kita cukup menghadap arahnya saja, walau kita berada di daerah Mekkah dan sekitarnya (yaitu selama kita tidak melihat Ka’bah secara langsung).”* (Subulus Salam, 1/463)

👉 ```Jadi intinya, jika memang penuh kesulitan untuk mengepas-ngepasin arah kiblat agar persis ke Ka’bah maka janganlah menyusahkan diri. Namun, jika memang memiliki kemudahan, ya monggo silakan. Tetapi ingatlah bertakwalah kepada Allah semampu kalian.```

Wallahu 'alam

Nuzulul Qur’an (turunya Al Qur'an) dan Lailatul Qadar


===============🌿🌺🌿==============
*Apa yang dimaksud dengan lailatul qadar? Dan kapan Al Qur’an itu diturunkan (nuzulul Qur’an)? Apakah benar pada tanggal 17 Ramadhan ataukah malam Lailatul Qadar?*

📕  *Allah Ta’ala berfirman,*

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

_“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.”_ (QS. Al Qadr: 1).

➡ *Apa yang dimaksud Lailatul Qadar?*

👉 *Ada lima pendapat mengenai pengertian lailatul qadar:*

*1- Al qadr berarti mulia (agung). Seperti dalam firman Allah Ta’ala,*

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

_“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya”_ *(QS. Az Zumar: 67)*. Sehingga lailatul qadr berarti malam yang mulia. Inilah pendapat Az Zuhri.

*2- Al qadr berarti sempit. Seperti terdapat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,*

وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ

_“Dan orang yang disempitkan rezkinya”_ *(QS. Ath Tholaq: 7).* Lailatul qadar berarti malam yang penuh sesak karena saat itu malaikat-malaikat turun di muka bumi. Inilah pendapat Al Kholil bin Ahmad.

*3- Al qadr berarti hukum. Inilah pendapat Ibnu Qutaibah.*

*4- Karena pada saat itu diturunkan kitab yang penuh kemuliaan, diturunkan rahmat dan turun pula malaikat yang mulia. Inilah beberapa pendapat yang disebut oleh Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir, 9: 182.*

💬👤 *Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengatakan bahwa bisa jadi makna lailatul qadar adalah malam penuh kemuliaan, bisa pula maknanya adalah malam penetapan takdir. Yang terakhir ini lebih mendekati benar karena mengingat firman Allah lainnya,*

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

_“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”_ (QS. Ad Dukhon: 4),
```maksud ayat ini adalah ditetapkannya takdir. Di antara kemuliaan malam tersebut adalah diturunkannya Al Qur’an secara sekaligus ke langit dunia.``` *Lihat Ahkamul Qur’an, 4: 472.*

💬👤 *Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata*, _“Disebut lailatul qadar karena kemuliaan dan keutamaan malam tersebut di sisi Allah. Pada malam tersebut ditetapkan berbagai perkara yang akan terjadi pada satu tahun, yaitu ditetapkan ajal, rezeki, dan berbagai takdir.”_ *(Taisir Al Karimir Rahman, hal. 931).*

*Turunnya Al Qur’an pada Lailatul Qadar*

```Dalam surat yang kita kaji disebutkan bahwa Allah menurunkan Al Qur’an pada Lailatul Qadar. Malam ini adalah malam yang diberkahi sebagaimana disebutkan dalam ayat yang lain,```

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

_“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi”_ (QS. Ad Dukhon: 3).

➡ ```Malam yang diberkahi yang dimaksud di sini adalah Lailatul Qadar yang terdapat di bulan Ramadhan. Karena Al Qur’an itu diturunkan di bulan Ramadhan seperti disebut dalam ayat,```

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ

_“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran ”_ (QS. Al Baqarah: 185).

🌺 *Ada riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menjelaskan mengenai nuzulul Qur’an, yaitu waktu diturunkannya permulaan Al Qur’an. Ibnu ‘Abbas berkata,*

أنزل الله القرآن جملة واحدة من اللوح المحفوظ إلى بيت العِزّة من السماء الدنيا، ثم نزل مفصلا بحسب الوقائع في ثلاث وعشرين سنة على رسول الله صلى الله عليه وسلم

_“Al Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan berangsur-angsur kepada Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu 23 tahun.”_ *(HR. Thobari, An Nasai dalam Sunanul Kubro, Al Hakim dalam Mustadroknya, Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Ibnu Hajar pun menyetujui sebagaimana dalam Al Fath, 4: 9).*

💬👤 *Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata*, _“Allah itu menjadikan permulaan turunnya Al Qur’an adalah di bulan Ramadhan di malam Lailatul Qadar.”_ (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 931).

```Jika dinyatakan bahwa Al Qur’an secara keseluruhan itu diturunkan di bulan Ramadhan pada malam Lailatul Qadar, maka klaim yang mengatakan bahwa Al Qur’an diturunkan pada 17 Ramadhan, jelas-jelas tidak berdasar. Karena Lailatul Qadar itu terjadi di sepuluh hari terakhir. Sehingga jelas-jelas penetapan 17 Ramadhan sebagai perayaan Nuzulul Qur’an tidak berdasar atau mengada-ngada.```

*Hanya Allah yang memberi taufik.*

Nuzulul Qur’an (turunya Al Qur'an) dan Lailatul Qadar


===============🌿🌺🌿==============
*Apa yang dimaksud dengan lailatul qadar? Dan kapan Al Qur’an itu diturunkan (nuzulul Qur’an)? Apakah benar pada tanggal 17 Ramadhan ataukah malam Lailatul Qadar?*

📕  *Allah Ta’ala berfirman,*

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

_“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.”_ (QS. Al Qadr: 1).

➡ *Apa yang dimaksud Lailatul Qadar?*

👉 *Ada lima pendapat mengenai pengertian lailatul qadar:*

*1- Al qadr berarti mulia (agung). Seperti dalam firman Allah Ta’ala,*

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

_“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya”_ *(QS. Az Zumar: 67)*. Sehingga lailatul qadr berarti malam yang mulia. Inilah pendapat Az Zuhri.

*2- Al qadr berarti sempit. Seperti terdapat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,*

وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ

_“Dan orang yang disempitkan rezkinya”_ *(QS. Ath Tholaq: 7).* Lailatul qadar berarti malam yang penuh sesak karena saat itu malaikat-malaikat turun di muka bumi. Inilah pendapat Al Kholil bin Ahmad.

*3- Al qadr berarti hukum. Inilah pendapat Ibnu Qutaibah.*

*4- Karena pada saat itu diturunkan kitab yang penuh kemuliaan, diturunkan rahmat dan turun pula malaikat yang mulia. Inilah beberapa pendapat yang disebut oleh Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir, 9: 182.*

💬👤 *Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengatakan bahwa bisa jadi makna lailatul qadar adalah malam penuh kemuliaan, bisa pula maknanya adalah malam penetapan takdir. Yang terakhir ini lebih mendekati benar karena mengingat firman Allah lainnya,*

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

_“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”_ (QS. Ad Dukhon: 4),
```maksud ayat ini adalah ditetapkannya takdir. Di antara kemuliaan malam tersebut adalah diturunkannya Al Qur’an secara sekaligus ke langit dunia.``` *Lihat Ahkamul Qur’an, 4: 472.*

💬👤 *Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata*, _“Disebut lailatul qadar karena kemuliaan dan keutamaan malam tersebut di sisi Allah. Pada malam tersebut ditetapkan berbagai perkara yang akan terjadi pada satu tahun, yaitu ditetapkan ajal, rezeki, dan berbagai takdir.”_ *(Taisir Al Karimir Rahman, hal. 931).*

*Turunnya Al Qur’an pada Lailatul Qadar*

```Dalam surat yang kita kaji disebutkan bahwa Allah menurunkan Al Qur’an pada Lailatul Qadar. Malam ini adalah malam yang diberkahi sebagaimana disebutkan dalam ayat yang lain,```

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

_“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi”_ (QS. Ad Dukhon: 3).

➡ ```Malam yang diberkahi yang dimaksud di sini adalah Lailatul Qadar yang terdapat di bulan Ramadhan. Karena Al Qur’an itu diturunkan di bulan Ramadhan seperti disebut dalam ayat,```

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ

_“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran ”_ (QS. Al Baqarah: 185).

🌺 *Ada riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menjelaskan mengenai nuzulul Qur’an, yaitu waktu diturunkannya permulaan Al Qur’an. Ibnu ‘Abbas berkata,*

أنزل الله القرآن جملة واحدة من اللوح المحفوظ إلى بيت العِزّة من السماء الدنيا، ثم نزل مفصلا بحسب الوقائع في ثلاث وعشرين سنة على رسول الله صلى الله عليه وسلم

_“Al Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan berangsur-angsur kepada Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu 23 tahun.”_ *(HR. Thobari, An Nasai dalam Sunanul Kubro, Al Hakim dalam Mustadroknya, Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Ibnu Hajar pun menyetujui sebagaimana dalam Al Fath, 4: 9).*

💬👤 *Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata*, _“Allah itu menjadikan permulaan turunnya Al Qur’an adalah di bulan Ramadhan di malam Lailatul Qadar.”_ (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 931).

```Jika dinyatakan bahwa Al Qur’an secara keseluruhan itu diturunkan di bulan Ramadhan pada malam Lailatul Qadar, maka klaim yang mengatakan bahwa Al Qur’an diturunkan pada 17 Ramadhan, jelas-jelas tidak berdasar. Karena Lailatul Qadar itu terjadi di sepuluh hari terakhir. Sehingga jelas-jelas penetapan 17 Ramadhan sebagai perayaan Nuzulul Qur’an tidak berdasar atau mengada-ngada.```

*Hanya Allah yang memberi taufik.*

Memilih wanita (pasangan)

📚 *Wanita Yang Sebaiknya yang Engkau Cari*

*Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman*

_“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”_ (QS. Ar Ruum : 21)

*Berkata Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya* (3/473) :

*“Termasuk kesempurnaan rahmat Allah Subhaanahu wa Ta’ala kepada anak Adam: Dia jadikan istri-istri mereka dari jenis mereka sendiri. Dan ditumbuhkan antara mereka “mawaddah” yaitu cinta dan “rahmah” yaitu kasih sayang. Karena seorang laki-laki menahan seorang wanita untuk tetap menjadi istrinya bisa karena ia mencintai wanita tersebut atau karena ia iba dan kasihan terhadapnya, dimana ia telah mendapatkan anak dari wanita tersebut atau wanita itu butuh padanya untuk mendapatkan belanja atau karena kedekatan di antara keduanya dan alasan selain itu.”*

🌸🌸 ```“ Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir “```

💬👤 *Abdullah bin Amr ibnul Ash rahimahullah mengkhabarkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :*

_“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita shalihah.”_ (HR. Muslim)

*Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu mengkhabarkan dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :*

🌺 _“Wanita itu dinikahi karena 4 perkara. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita yang memiliki agama, engkau akan bahagia.”_ (HR. Bukhari dan Muslim)

➡🌺 *Sifat-sifat wanita yang sepantasnya engkau pilih sebagai istri sehingga ia bisa menjadi pengurus rumahmu dan pendidik anak-anakmu adalah wanita yang memiliki agama dan akhlak yang dapat membantumu untuk taat kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Yang mengingatkanmu ketika engkau lupa, menolongmu ketika engkau ingat, mengurus dan memperhatikanmu ketika engkau ada, menjaga hartamu dan kehormatannya ketika engkau tidak ada.*

👉 ``` Dia membuatmu ridha ketika engkau marah,mentaatimu ketika engkau perintah dan berbuat baik serta berbakti kepadamu.

Sesungguhnya wanita mulia yang menjaga kehormatannya tidak akan menyombongkan dirinya di hadapanmu dengan harta dan kecantikan yang ada padanya. Tidak pula dengan kedudukan dan nasab (keturunannya).```

🌿 ```Akan tetapi sangat disayangkan dari kenyataan yang kita lihat di sekitar kita sebagian saudara kita dari kalangan salafiyyin justru mengutamakan wanita cantik, atau yang memiliki martabat atau berharta dan meninggalkan wanita penuntut ilmu yang memiliki keutamaan. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’un.```

Tanda Malam lailatur Qadar

🌘 *Tanda Malam Lailatul Qadar*
➖➖➖➖➖🌿🌿➖➖➖➖

Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

➡ *Segala puji  bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para pengikutnya.*

🔰 ```Semua pasti telah mengetahui keutamaan malam Lailatul Qadar. Namun, kapan malam tersebut datang? Lalu adakah tanda-tanda dari malam tersebut? Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk mendapatkan malam yang keutamaannya lebih baik dari 1000 bulan.```

🌘 *Keutamaan Lailatul Qadar*

🌿 *Saudaraku, pada sepertiga terakhir dari bulan yang penuh berkah ini terdapat malam Lailatul Qadar, suatu malam yang dimuliakan oleh Allah melebihi malam-malam lainnya. Di antara kemuliaan malam tersebut adalah Allah mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman,*

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4)

_“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”_ (QS. Ad Dukhan [44] : 3-4).

*Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,*

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1)

*“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.”* (QS. Al Qadar [97] : 1)

*Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,*

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

_“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”_ (QS. Al Qadar [97] : 3-5)

*Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi?*

*Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,*

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

*“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.”* (HR. Bukhari)

🔰 *Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,*

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

_“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.”_ (HR. Bukhari)

*Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,*

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ – يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ – فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى

_“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.”_ (HR. Muslim)

*Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,*

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

_“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.”_  (HR. Bukhari)

🔰 *Catatan* : Hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malam lailatul qadar di antaranya adalah agar terbedakan antara orang yang sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang malas. Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Hal ini juga sebagai rahmat Allah agar hamba memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut dengan demikian mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang amat banyak. Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan ini. Amin Ya Sami’ad Da’awat.

*Tanda Malam Lailatul Qadar*

*[1] Udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,*

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء

_“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.”_ (HR. Ath Thoyalisi.  Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya)

*[2] Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.*

*[3] Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.*

*[4] Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda yang artinya,”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.”* (HR. Muslim) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/149-150)

*Semoga Allah memudahkan kita untuk meraih malam tersebut. Amin Yaa Mujibas Saailin.*

Wasiat Rasulullah

📚 *WASIAT RASULUllAH

📕 *Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,*
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
_“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan._
*(HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)*

📕 *Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,*
إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ
_“Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya”._
*(HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 54)*

📕 *Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,*
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
_“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman: ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu'._
*(HR. Bukhari no. 6576, 7049).*

📕 *Dalam riwayat lain dikatakan,*
إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى
Rasulullah bersabda: _“(Wahai Rabb), sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman: ‘Sungguh engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.”_
*(HR. Bukhari no. 7050).*

Sunday, June 11, 2017

konsep imamah

Bissmillahirrahmanirrahim....


 MAKALAH Ini Di Buat Oleh
 Dwi Andika
Arif Wibowo Saragih
Juanda Selian

 kelas Siyasah IV B UIN SU

 Tugas Dari : Bapak dr. M.Iqbal

 Mata Kuliah: Fiqih Siyasah yang berjudul Konsep Imamah




 BAB II Pembahasan
A. Dasar hukum pendirian imamah dan negara Menurut bahasa kata imamah berasal dari kata amma-yaummu-imamatan yang mepunyai arti pimpinan atau orang yang diikuti,menurut Ibnu manzur mengartikan imamah dengan “setiap orang yang telah diangkat menjadi pemimpin suatu komunitas masyarakat baik dalam menempuh jalan kebaikan atau kesesatan” secara istilah menurut Ibnu Al-Mawardi berpendapat bahwa “imamah sebagai pengganti tugas kenabian dalam menjaga dan memelihara masalah agama serta urusan dunia. At-Tafazzani berpendapat bahwasannya “pemimpin tertinggi negara itu bersifat universal dalam mengatur urusan negara dan keduniaan” Ibnu Khaldun berpendapat bahwasannya “imamah adalah muatan seluruh komunitas manusia yang sesuai dengan pandangan syariat guna mencapai kemaslahatan merekabaik dunia ataupun akhirat” Hal ini dikarenakan seluruh sistem kehidupan manusia dikembangkan pada pertimbangan dunia demi mendapatkan kemaslahatan mereka baik dunia ataupun akhirat. Dari beberapa defenisi ini dapat disimpulkan bahwasannya imamah adalah “kekuasaan tertinggi dalam negara islam yang bersifat menyeluruh dalam memelihara agama dan pegaturan sistem keduniaan dengan berasaskan islam dan pencapaian maslahat bagi umat didunia dan akhirat. Kata imamah didalam Al-Quran diulang tujuh kali dengan kandungan arti yang beragam, yaitu :            ••             Artinya : ( ingatlah ) ketika ibrahim di uji dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan) lalu ibrahim menunaikan nya, Allah berfirman : sesungguhnya kami akan menjadikan kamu menjadi imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata : (dan saya mohon juga) dari keturunanku , Allah berfirman : janji ku ( ini ) tidak mengenai orang-orang yang zalim. ( Q.s al-baqarah:124 ).             • Artinya : Dan orang-orang yang berkata : ya tuhan kami anugrahkanlah pada kami istri-istri kami dan keturunan sebagai penyenang hati ( kami ) dan jadikan;lah kami imam bagi orang-orang bertakwa. ( Q.s al furqan : 74 ).   • •              Artinya : Ingatlah suatu hari (yang hari itu) kami panggil setiap umat dengan pemimmpinya ; dan barang siapa diberikan kitab amalannya yang di angan kanan nya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak di aniaya sedikit pun ( Q.s al isra : 71).          •       Artinya : sesungguhnya kami menghidup kan orang-orang mati dan kami menuliskan apa ya g telah mereka kerjakan. Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (lauh mahfuzh) (Q.s yasin : 12).                          •               ••    Artinya : Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang mempunyai bukti yang nyata (Al qur’an) dari tuhan nya an di ikuti pula oleh seorangb saksi (muhammad) dari allah dan sebelum al-qur’an itu telah ada kita musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada al-qur’an. Dan barang siapa diantara mereka (orang-orang qurais) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada al-qur’an maka nerakalahb tempat di ancamkan baginya, karena itu jangan lah kamun ragu kepada al-qur’an ini. Sesunguhnya (Al-qur’an) itu benar-benar dari tuhanmu tetapi kebayakan manusia tidak beriman (Q.s huud : 17)   •    Artinya : Maka kami binasakan mereka, Dan sesungguhnya kedua kota itu benar-benar terletak di jalan yang terang (Q.s al-hijr : 79). Dari makna-makna tersebut, ternyata ada dua ayat yang dapat di rujuk mengkaji pokok pembahsan ini yakni tetang imamah yang berdimensi sosio politis. Kedua ayat itu surah al-baqarah ayat 124 dan surah al-furqan ayat 74. Kedua ayat inimenjelaskan pristiwa kelulusan ibrahim dalm menjalani ujian berupa kalimat yang berisi perintah dan larangan allah, seraya allah merahmati makam bayi ibrahim. Yakni imam-imam berarti seorang yang di jadikan suri tauladan yang di tuntun , yang membimbing syariat allah. Karna itu makam imamah tidak di peroleh orang zalim. Pandangan tentang imam ini dijelaskan pula Thaba Thaba’i, bahwa imamah adalah keberadaan manusia yang diteladani orang lain dalam ucapan, stiap, dan perbuatanya sehingga ia memiliki kualitas yang hakiki. Dalam pandngan islam, antara fungsi religius dan fungsi politikimam atau khalifah tidak dapat di pisahkan. Antara keduanya terdapat hubungan timbal balik yang erat sekali. Dikalangakan pemikir-pemikir islam pandangan ini begitu kental hingga awal abad ke-20,seperti yang akan terlihat dalam nanti,sementara dala praktiknya, para khalifah di dunia islam mempunyai kapasitas sebagai pemimpin agama dan pemimpin politik sekaligus kenyataan ini kemudian melahirkan pandangan di kalangan pemilir modern bahwa islam merupakan agama dan negara swkaligus, sebagaimana antara lain di kemukakan oleh Muhammad Yusuf Musa (Al Islam din wa da’wlah). Barulah ketika ke kkhalifahan turki Usmani melelamah dan di hancurkan oleh Musthafa Kemal Al takur (1924). Timbul wacana pemisahan antara kekuasaan agama dan politik dalam dunina islam. Agar kemungkina islam ( Imamah Atau Khalifah) tersebut berlaku efektif dalan dunia islam, maka umat membutuhkan pendirian negara untuk merealisasikan ajaran islam. Namun sebelum membicarakan apakah pendirian negara wajib atau tidak dalam islam dan tujuan. Pendirannya telebih dahulu kami kemukakakan pengertian tentang negara itu sendiri. Berikut ini beberapa defenisi yang dirumuskan para ahli hukum tata negara dan hukum internasional tentang negara.  Menurut Dr. Bonar, Negara adalah suatu kesatuaan hukum yang bersifat langgam, yang di dalamnya mencakup hak intuisi sosial yang melaksanakan kekuasaan hukum secara khusu dalam mengenai masyakat yang tinggal di dalam wilayah tertentu. Dan memiliki hak kedaulatan, baik dengan kehendaknya sendiri maupun dengan jalan pengguna kekuasaan fisik. Sara, menciptakan kemaslahatan dan menolak kemudharatan dapat tercapai dalam masyarakat.  Wahid Ra’fat ahli hukum tata negara Mesir meyebutkan bahwa negara adalah sekumpulan besar masyarakat yang tinggal pada suatu wilayah tertentu yang tunduk kepda suatupemerintahan yang teratur yang bertanggung jawab memelihara eksitensi masyarakatnya, mengurus kepentingan dan kemaslahatan umum.  Holonda, doktor berkebangsaan Inggris , merumuskan negara sebagai kumpulan para individu yang tinggal disuatu wilayah tertentu yang bersedia tunduk pada kekuasaan mayoritas atau kekuasaan satu golongan. MacLuer merumuskan bahwa suatu negara harus memenuhi tiga unsurpokk yaitu: • Pemerintahan • Kminitas/rakyat • Wilayah tertentu Islam memandang bahwa negara hanyalah alat, bukan tujuan itu sendiri karena merupakan alat. Para ulama berbada pendapat tentang landasan berdirinya negara dalam islam. Al-Mawardi berpendapat bahwa pendirian negara didasarkan pada ijma’ ulama fardhu kifayah . pandangannya didasarkan pada kenyataan sejarah al-khulafa’ al-Rasyidun dan khalifah-khalifan setelah merka. Al-Ghazali juga memiliki pandangan yang senada, agama adalah landasan bagi kehidupan manusia dan kekuasaan politik adalah penjaganya , keduanya mempunyai hubungan erat.Politik tanpa agama bisa hancur,sebaliknya agama tanpa politik bisa hilangdalam kehidupan manusia. Berbeda dengan dua pemikir sunnu diatas ibnu taimiyah berpendapat bahwa mengatur kehidupan uma memangmerupakan bagian kewajiban agama yang terpenting.Namundemikian,hal ini tidak berarti bahwa agama tidak dapat hidup tanpa negara. Kelompok Khawarij berpendapat hampir sama dengan ibnu Taimiyah.Pendirian negara bukanlah didasarkan pada pemerintah syar’i ,pertimbangan mendirikan negara adalah kemaslahatan.Pendapat ini juga dianut oleh Mu’tazilah ,hanya saja Mu’tazilah menambahkan bahwa akallah yang menetapkan perlu tidaknya membentuk negara. Pemikiran modern aktivis al-ikhwan al-muslimun ,Abd Al-Qadr ‘Audah ,mengemukakan enam argumen tentang wajibnya mendirikan negara. Pertama , khilafah atau imamah merupakan sunnah fi’liyah Rasulullah SAW sebagaimana pendirian negara Madinah. Kedua,Umat islam khususnya para sahabat nabi sepakat( ijma’) untuk memilih pemimpin negara setelah wafatnya Rasulullah SAW. Ketiga,sebagian besar kewajiban syariat tergantung pada adanya negara Keempat,nash-nash Al-quran dan hadits nabi sendiri mengisyaratkan tentang wajibnya mendirikan negara seperti dalam surah An-nisa’ ayat 59                                Artinya : Wahai orang-orang yang beriman ! Taatilah Allah dan taatilah rasul (Muhammad ) , dan Ulil Amri ( pemegang kekuasaan ) diantara kamu kemudian , jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu , maka kembalikanlah kepada Allah ( Al-quran ) dan Rasul (Sunnahnya ).Jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian , yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Kelima , sesungguhnya Allah menjadikan umat islam sebagai satu kesatuan , meskipun berbeda bahasa , suku bangsa dan warna kulitnya , umat islam juga merupakan satu kesatuan politik. Keenam , konsekuensi dari kesatuan politik ini adalah bahwa umat islan harus memilih dan mematuhi satu pemimpin tertinggi disuatu negara. Dari uraian diatas bisa disimpulkan bahwa baik secara akal maupun syar’i mendirikan negara merupakan kewajiban umat islam . Negara merupakan alat bagi umat islam untuk dapat melaksanakan ajaran-ajaran islam , sehingga tujuan syara’ menciptakan kemaslahatan dan menolak kemudharatan dapat tercapai dalam masyarakat. B. Tujuan Negara Tujuan pendirian negara tidak terlepas dari apa yang hendak dicapai oleh umat islam , yaitu memperoleh kehidupan didunia dan keselamatan diakhirat.Karena tujuan ini tidak mungkin dicapai hanya secara pribadi-pribadi saja.Maka islam menekankan pentingnya pendidikan negara sebagai sarana untuk memperoleh tujuan tersebut Ibnu Rabi’ menjelaskan tujuan negara dengan pandangan sosiologis historis.Menurutnya manusia diciptakan oleh Allah dengan watak dan kecendrungan berkumpul dan bermasyarakat , ini didasarkan pada kenyataan bahwa manusia secara pribadi tidak mungkin mampu memenuhi semua kebutuhan hidupnya tanpa bantuan orang lain. Al-Mawardhi berpendapat bahwasanya tujuan pembentukan negara dan imamah adalah mengganti kenabian dalam rangka memelihara agama dan mengatur dunia.Ibnu Ghaldun berpendapat bahwasanya tujuan terbentuknya negara adalah untuk mengusahakan kemaslahan agama dan dunia yang bermuara pada kepentingan akhirat.Yusuf Musa memerinci tujuan negara dan pemerintahan dalam islan adalah 1. Memberian penjelasan keagamaan yang benar dan menghilangkan keraguan-keraguan terhadap hakikat islam kepada seluruh ummat manusia,mengajak manusia kepada islam , melindungi manusia dari tindakan-tindakan agresor dan pembela syariat islam dari orang yang berusaha melanggarnya. 2. Melakukan segala upaya dan cara untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan umat islam,dengan landasan saling menolong dan memenuhi sarana kehidupan manusia sehingga mereka menjadi satu kesatuan yang kukuh seperti satu bangunan. 3. Melindungi wilayah islam dari serangan musuh dan melindungi warganya dari segala bentuk kezhaliman. Sementara Al-Mandudi menjelaskan pendirian negara dalam islam dengan mengungkit ayat-ayat Al-quran dan Hadits-hadits nabi secara sederhana fajtur rahman merumuskan bahwasanya tujuan negara islam adalah untuk mempertahankan keselamatan dan integritas negara , memelihara terlaksananya undang-undang , ketertiban serta membangun negara itu sehingga setiap warganya menyadari kemampuan masing-masing dan mau menyumbangkan kemampuannya itu demi terwujudnya kesejahteraan seluruh warga negara. Penjelasan ini mengisyaratkan negara merupakan alat untuk menerapkan dan mempertahankan nilai-nikai ajaran islam agar lebih efektif dalam lehidupan manusia. Disamping itu, negara didirikan untuk melindungi manusia dari kewenangan-kewenangan satu golongan atau orang terhadap orang atau golongan yang lain, negara mempunyai dan kekuasaan memaksa agar peraturan- peraturan yang diciptakannya dapat dipatuhi sejauh tidak bertentangan dengan ajaran islam itu sendiri. Namun demikian negara sendiri bukanlah tujuan dalam islam. Melainkan hanya sebagai alat atau sarana dalam mencapai tujuan kemaslahatan manusia. C. Tugas Negara 1. Menggambarkan dan mendakwahkan islam dengan pena , lidah dan pedang . Dakwah merupakan pekerjaan pertama yang dilakukan para nabi sebelum pekerjaan yang lain . Hal ini disebabkan dakwah mengambil sasaran perbaikan tasawuf atau pemahaman terhadap syariat Allah SWT . Dai noda zahiliyah , dakwah merupakan suatu sarana bukan tujuan , tapi sarana untuk menyiarkan dan menyebarkan islam keseluruh muka bumi , dahulu dakwah berkembang menggunakan sebagai alat media .Dalam surat Ali-Imran ayat 104 Allah Menegaskan :                Artinya : Dan hendaklah ada diantara kalian yang menyeru kepada kebijakan , menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar , mereka itu orang-rang yang beruntung . Selain dakwah dengan lisan dan pena , ada aktivitas lain yang bertujuan menyebarkan islam yaitu disebarkan dengan pedang , hanya ungkapan kalimat yang benar dan harus akurat . “Islam disebarkan dengan pedang setelah diawali dengan pendekatan lisan atau pena , dengan demikian islam tetap memiliki harga diri dihadapan para penantangnya dengan adanya kemampuan mengancam untuk memerangi . Tetapi ketegaran ini tidak sampai jatuh pada pemaksaan untuk masuk islam . Karena masih memberi toleransi bagi yang masih tetap ingin mempertahankan keyakinannya dengan memberikan jaminan keamanan asalkan bersedia membayar bukti ketundukan . 2. Membasmi subhat (pemikiran rusak) , bid’ah dan segala bentuk kebathilan . Negara islam harus mengambil fungsi membasmi syubhat pemikiran bid’ah dan segala wacana dan peraktek kebathilan lain . Sebab Amirul Mukminin memiliki kewenangan untuk melakukan nahi mungkar ditengah masyarakat , oleh karena itu pemikiran syubhat yang menjadi tugas penting untuk mengkoreksi hingga tuntas agar masyarakat tidak terkotori pikirannya dengan paham-paham sesat . Hal ini disebutkan kemungkaran yang nyata dan dikenali oleh masyarakat awam . Negara Islam bertugas mengarahkan dan mendorong mereka untuk membasminya dengan cara menegakkan spremasi hukum . Abu Ya’la berkata Amirul Mukminin bertanggung jawab penuh memelihara islam agar tetap dalam landasan yang disepakati para pendahulu .Cara yang ditempuh Amirul Mukminin dalam melaksanakan misi ini diantaranya dengan : a. Pengajaran melalui lembaga pendidikan b. Mengadakan perdebatan terbuka agar kebenaran menjadi nyata c. Memberi sanksi berupa pengusiran d. Menggunakan pilihan pembunuhan atau peperangan sebagaimana Ali bin Abi Thalib memerangi kaum khawariz . 3. Menjaga keutuhan umat dan mengawal perbatasan dari serangan musuh . Kepala negara islam bertanggung jawab memutuskan dan mewujudkan rasa aman bagi masyarakat agar bisa bebas melaksanakan semua aktivitas ibadah memakmurkan dunia . Islam memberi solusi terhadap kebutuhan ini dengan syariat yang bernama ribath dan zihat fi sabilillah . Suatu kombinasi mendapat imbalan secara akhirat berupa surga sekaligus menjadi alat yang logis untuk menjaga negara dari rombongan musuh . Ribath artinya menjaga perbatasan secara geografis agar bisa menghalau musuh dan mencium gelagat eksternal lebih dini .  


BAB III Kesimpulan

Imamah adalah “kekuasaan tertinggi dalam negara islam yang bersifat menyeluruh dalam memelihara agama dan pegaturan sistem keduniaan dengan berasaskan islam dan pencapaian maslahat bagi umat didunia dan akhirat. Dalam pandngan islam, antara fungsi religius dan fungsi politikimam atau khalifah tidak dapat di pisahkan. Antara keduanya terdapat hubungan timbal balik yang erat sekali. Dikalangakan pemikir-pemikir islam pandangan ini begitu kental hingga awal abad ke-20,seperti yang akan terlihat dalam nanti,sementara dala praktiknya, para khalifah di dunia islam mempunyai kapasitas sebagai pemimpin agama dan pemimpin politik sekaligus kenyataan ini kemudian melahirkan pandangan di kalangan pemilir modern bahwa islam merupakan agama dan negara swkaligus, sebagaimana antara lain di kemukakan oleh Muhammad Yusuf Musa (Al Islam din wa da’wlah). Barulah ketika ke kkhalifahan turki Usmani melelamah dan di hancurkan oleh Musthafa Kemal Al takur (1924). Timbul wacana pemisahan antara kekuasaan agama dan politik dalam dunina islam.

 DAFTAR PUSTAKA

1. Suyuti pulungan,Fiqih Siyasah (Ajaran,Sejarah,dan pemikiran). Cet. Ke-5 Jakarta PT. Raja Grafindo Persada,2002
2. Kehujahan Al-Quran STAI Bani Saleh 2009
3. Ahmad Zainal Abidin konsep politik dan idiologi islam jakarta: Bulan bintang 1977
4. Rasyid Ridho,Al-Khilafah au al-imamahal-‘Udhma,dalam Wajih Kautsaroni,Ad-Daulah Wa al-Khilafah fi al-khithob al-;Arobi Abban al-tsaurah al-Kamaliy fi Turkiya:Dirosah Wa Nushush,Beirut:Dar ath Tholi’ah, 1996
5. Muhammad Iqbal,Fiqih Siyasah Konstektualisasi Doktrin Politik Islam,Jakarta Yofa Mulia Offset. 2007,