Translate

Wednesday, December 16, 2015

FUNGSI DAN POKOK-POKOK KANDUNGAN AL-QUR’AN



FUNGSI DAN POKOK-POKOK KANDUNGAN AL-QUR’AN

 
FUNGSI DAN POKOK-POKOK KANDUNGAN AL-QUR’AN

1.      Fungsi Al-Qur’an
Fungsi utama Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi umat manusia dan mukjizat bagi kerasulan Muhammad saw. Al-Qur’an memberikan aturan-aturan keagamaan yang menjadi petunjuk bagi umat manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Sebagai mukjizat, Al-Qur’an diturunkan oleh Allah untuk menjadi bukti kebenaran kerasulan Muhammad saw terutama bagi para penentang dakwah-dakwah beliau.
Fungsi Al-Qur’an sangat penting bagi kehidupan umat Islam. Ia bukan sekedar kitab bacaan biasa tetapi adalah buku suci yang menjadi pedoman dalam segala urusan kehidupan umat Islam di dunia. Ia menjadi rujukan utama ketika umat Islam ingin membangun formulasi hukum, etika, politik, sosial-kemasyarakatan dan sebagainya.
Untuk lebih mempermudah memahami fungsi-fungsi Al-Qur’an berikut adalah beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan fungsinya bagi kehidupan umat Islam.

·         Sebagai petunjuk dari Allah swt kepada manusia
Allah berfirman:
2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)….”

·         Sebagai bukti (mukjizat) kebenaran risalah Nabi Muhammad saw.
Allah berfirman:
7:203. Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur’an kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

·         Sebagai pemisah antara yang Haq dan yang Bathil\
Allah berfirman:
2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)….”

·         Sebagai obat bagi penyakit-penyakit hati
Allah berfirman:
10:57. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
e.    Sebagai nasihat bagi orang-orang bertaqwa
3:138. (Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

·         Sebagai pembenar kitab-kitab terdahulu
Allah berfirman:
35:31. Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.

2.    Pokok-pokok Kandungan Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan kitab suci agama Islam yang mempunyai fungsi utama sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan di bumi, sebagaimana dalam firman Allah:
2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)….”
Sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia, Ak-Qur’an memuat pesan-pesan yang dapat dijadikan sebagai sandaran bagi manusia dalam segala aspek kehidupannya. secara umum, kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dapat dipetakan menjadi beberapa tema pokok dibawah ini :

a. Aqidah
Salah satu yang menjadi pokok pembahasan ayat-ayat Al-Qur’an adalah masalah aqidah. Aqidah merupakan dasar penting dalam agama Islam. Secara bahasa Aqidah berasal dari bahasa Arab: al-’aqdu (ikatan), at-tautsiq (kepercayaan atau keyakinan yang kuat), al-qhkam (mengukuhkan atau menetapkan) dan ar-rabthu bi quwwah (mengikat dengan kuat). Adapun secara istilah Aqidah dapat didefinisikan sebagai iman yang teguh dan pasti yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya. Jadi dapat dipahami bahwa aqidah merupakan ilmu yang menjarkan kepada manusia mengenai kepercayaan yang wajib diyakini oleh setiap orang. Al-Qur’an mengajarkan aqidah tauhid kepada manusia, yaitu menanamkan keyakinan terhadap keesaan Allah swt.
Selain kepercayaan dan keimanan kepada Allah swt, Al-Qur’an juga mengajarkan manusia hal-hal yang ghaib, para rasul dan kepercayaan terhadap kitab-kitab terdahulu sebagai bagian dari kesempurnaan keimanan seseorang. Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang berbicara mengenai pokok-pokok aqidah yang harus diyakini setiap orang yang beriman. Allah berfirman:
35:3. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?  Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?
2:177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan  (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

b. Ibadah
Tema pokok kandungan Al-Qur’an selanjutnya adalah ibadah. Secara bahasa, ibadah berarti taat, tunduk dan ikut. Dalam bahasa syar’i ibadah diartikan sesuatu yang diperintahkan Allah sebagai syariat, bukan karena adanya keberlangsungan tradisi sebelumnya atau karena tuntutan logika atau akal manusia. Ibadah adalah segala bentuk ketaatan yang dijalankan atau dikerjakan untuk mendapatkan ridha dari Allah swt.
Al-Qur’an menjelaskan bentuk-bentuk ibadah dasar yang harus dikerjakan oleh setiap muslim, seperti mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat lima waktu, membayar zakat, puasa pada bulan suci Ramadhan dan beribadah haji bagi yang telah mampu menjalankannya. Namun Al0Qur’an tidak menjelaskan secara terperinci mengenai tata cara pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut. Al-Qur’an hanya menjelaskan bahwa setiap ibadah harus benar-benar ikhlas ditujukan kepada Allah swt.
Allah berfirman:
6:162. Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,

c. Akhlak
Tema pokok Al-Qur’an selanjutnya adalah mengajarkan akhlak. Dalam bahasa Arab, akhlak bentuk jamak dari khulqu yang artinya perangai, tabiat dan adab. Dalam agama Islam, akhlak merupakan tolak ukur derajat seseorang. Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa keimanan seseorang tidaklah cukup hanya dengan sekedar iman kepada Allah, Malaikat, Nabi-nabi dan lainnya Akan tetapi keimanan harus disertai dengan akhlak dan perilaku yang baik.
Allah berfirman:
6:90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
16:91. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
16:92. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain.  Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu.  Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.

d. Hukum
Salah satu tema yang banyak dibahas dalam ayat-ayat Al-Qur’an adalah hukum. Dalam Al-Qur’an termuat hukum-hukum yang mengatur tentang masalah-masalah yang ada pada seluruh aspek kehidupan manusia, Misalnya, hukuman bagi pembunuh, Allah berfirman :
17:33. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara lalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh.  Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.
Namun tidak semua aturan hukum yang ada dalam Al-Qur’an sudah terperinci. Kadang Al-Qur’an hanya menyebutkan prinsip-prinsip dasarnya saja. Misalnya Allah menyatakan keharaman darah dan bangkai secara mutlak dan umum.
5:3. Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah,…”
Kemudian Nabi saw men-taqyidkan (memberi persyaratan) kemutlakannya dan mentaksiskan (memberi ketentuan khusus) atas keharamannya serta menjelaskan macam-macam bangkai dan darah. Sebagaimana sabda Nabi saw:
“Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Adapun macam bangkai itu adalah bangkai ikan dan bangkai belalang sedang dua macam darah itu adalah hati dan limpa.” (H.R.Ibnu Majah dan Hakim)

e. Tadzkir (Peringatan)
Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk juga berisi peringatan-peringatan kepada manusia. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam salah satu ayatnya :
25:1. Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam
Mengenai isi peringatan-peringatannya, Al-Qur’an misalnya memberikan peringatan berupa ancaman akan siksa neraka bagi mereka yang mendustakan Allah dan utusannya. Allah berfirman :
5:33. Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,
Selain pemberi peringatan Al-Qur’an juga memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepada Allah swt dengan balasan berupa nikmat surga. Allah berfirman :
19:97. Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.

f. Sejarah atau Kisah
Al-Qur’an juga berisi kisah-kisah mengenai orang-orang yang terdahulu baik yang mengalami kebinasaan akibat tidak taat kepada Allah swt ataupun kisah-kisah orang yang mendapatkan kejayaan karena ketaatannya kepada Allah swt. Kisah-kisah tersebut agar bisa menjadi pelajaran bagi orang-orang yang sesudahnya. Allah berfirman :
11:100. Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah.
11:120. Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.
20:99. Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur’an).

Fungsi dan Peran Al-Qur’an (Sebagai petunjuk dan mukjizat)

Fungsi dan Peran Al-Qur’an (Sebagai petunjuk dan mukjizat)
 Pendahuluan.
 Menurut para ahli bahasa Arab, Lafadz Al-Qur’an berasal dari kata qara’- yaqrau’-qur’aanan yang  berarti bacaan. Pendapat ini didasarkan pada dan dikuatkan dengan firman Allah swt dalam Al-Qur’an :
“Apabila kamu telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.” (QS Al-Qiyamah : 18).
Sebagaimana kita saksikan saat ini, bahwa Al-Qur’an memang kitab yang paling sering dibaca umat manusia di dunia ini. Hal ini bisa kita buktikan melalui shalat lima waktu yang dilakukan umat Islam dari waktu ke waktu selama 24 jam. Disamping itu, Al-Qur’an adalah kitab yang paling banyak dihafal umatnya dan dibacanya dari detik ke detik,  menit ke menit dan selanjutnya. Kitab ini sungguh berbeda dengan kitab-kitab lainnya.
Para ulama berbeda pendapat dalam mendifinisikan pengertian Al-Quran. Namun, diantara beberapa difinisi yang paling pas menurut hemat penulis adalah yang dikemukakan seorang ulama bernama Dr. Subhi Shaleh dalam kitabnya, Al-Mabahits fil ilmi Al-Qur’an. Beliau mengatakan :
“Al-Quran adalah kitab mukjizat  yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, tertulis dalam lembaran-lembaran (mashahif) yang dinukiil dengan cara yang mutawatir ( sangat  dipercaya) dan dianggap  sebagai ibadah bagi siapa yang membacanya”.
Bulan ramadhan yang baru saja kita lalui, disamping  disebut  sebagai bulan agung, bulan berkah, bulan  mulia, bulan pendidikan, juga sering  disebut  sebagai bulan Al-Qur’an. Mengapa ia disebut sebagai bulan Al-Qur’an ? Karena di dalam bulan tersebut telah diturunkan Al-Qur’an.  Hal ini didasarkan pada firman Allah swt : Hal ini sesuai dengan firman-NYa :
 “Bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS Al-Baqarah : 185).  
 Mengingat Al-Qur’an yang berarti bacaan, maka sebaiknya umat Islam jangan hanya membaca di bulan suci ramadhan saja. Akan tetapi sebaiknya juga dibaca di 11 bulan lainnnya. Disamping membacanya, kita juga diharapkan  bisa memahami dan mengamalkan isi kandungan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, Al-Qur’an bisa dijadikan sebagai pedoman hidup atau way of life bagi setiap muslim.
Kitab Al-Qur’an memiliki berbagai keistimewaan dan kelebihan yang sangat menakjubkan. Hal ini bisa kita jumpai dalam keterangan dan penjelasan yang disampaikan  oleh Nabi Muhammad saw melalui sunah dan hadits-haditsnya.
Disamping ia memiliki keistimewaan dan kelebihan, Al-Qur’an juga memiliki fungsi dan peran yang sangat penting bagi kehidupan seluruh umat manusia di dunia. Inilah diantara fungsi dan peran Al-Qur’an yang Allah nyatakan melalui firman-firman-Nya.
Fungsi dan Peran Al-Quran.
Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang fungsi dan peranan dirinya bagi kehidupan umat manusia di dunia ini.  Untuk mengetahui fungsi dan peranan tersebut, seorang mukmin dan muslim dituntut memahami isi kandungan Al-Quran. Apabila ingin memahaminya dengan  baik dan benar, maka kita harus mengerti bahasa Arab secara integratif melalui belajar di sekolah, pesantren atau mengaji di  majlis-majlis taklim yang mengajarkan Al-Qur’an dan tafsirnya.
Agar Al-Qur’an itu bisa berfungsi dan berperan dalam kehidupan kita, maka  setiap  mukmin dan muslim harus berupaya dan mewajibakan dirinya untuk membaca, memahami dan mengamalkan ajaran-ajarannya. Atau dengan kata lain, Al-Qur’an  harus bisa  dijadikan sebagai pedoman hidup atau way of life.
Inilah diantara fungsi dan peran Al-Qur’an yang akan kami jelaskan berdasarkan fiman-firman-Nya :
1.     Al-Qur’an sebagai hudan.
Kata “hudan “  di dalam Al-Qur’an memiliki berbagai pengertian. Hudan bisa berarti petunjuk, pedoman, peraturan dan juga bisa bermakna undang-undang. Mengapa bisa demikian ?
Ketika seseorang sedang mengendarai motor atau mobil di jalan raya ia harus mengikuti peraturan dan petunjuk yang berkaitan dengan rambu lalu lintas. Bagaimana jadinya jika ia tidak mau mengikuti peraturan dan pentunjuk tersebut, seperti pada saat melihat rambu lalu lintas berwarna merah, namun ia tetap meneruskan  menjalankan mobilnya  ? Tentu akan terjadi benturan dan tabrakan yang terus menerus. Demikian juga umat manusia, pada saat menjalankan kehidupan yang serba komplek di dunia ini, tentu sangat memerlukan peraturan dan petunjuk agar mereka bisa hidup lebih baik dan tidak terjadi kekacauan.
Allah swt telah menciptakan langit, bumi dan berbagai macam jenis makhluk lainnya. Diantara berbagai macam makhluk tersebut ada yang bisa dilihat dengan panca indra dan ada juga yang tidak bisa dilihat. Dan diantara mereka ada yang bergerak secara dinamis dan ada juga yang tidak bergerak, statis. Seperti gunung, batu, pohon, rumput, sungai, laut bisa dikatagorikan sebagai makhluk yang tidak bergerak, statis. Sedangkan manusia dan binatang ternasuk jenis makhluk yang bergerak dan dinamis. Untuk menjaga keseimbangan dan kelangsungan kehidupan mereka, khususnya manusia dan makhluk hidup lainnya, maka diperlukan adanya petunjuk, pedoman, peraturan, atau undang-undang yang mengatur kehidupan mereka. Untuk inilah, maka Al-Qur’an diturunkan sebagai hudan (petujuk).
1.1.    Al-Qur’an sebagai petunjuk  bagi manusia.
Suatu ketika Allah swt memanggil para malaikat, lalu berkata kepada mereka bahwa Ia hendak menjadikan seorang Khalifah(pemimpin) di muka bumi. Lalu para malaikat itu bertanya : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi, padahal mereka akan membuat kerusakan dan penumpahan darah di dalamnya”.  Keraguan malaikat itu dijawab oleh Allah dengan mengatakan : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”  Dialog ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an :
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak mengetahui.”    (QS Al-Baqarah : 30).
Untuk mengatur kehidupan manusia agar tidak membuat kerusakan dan melakukan penumpahan darah sesama mereka di muka bumi ini, maka perlu adanya pedoman atau undang-undang. Dan disinilah sesungguhnya Allah swt menurukan Al-Qur’an yang  berfungsi dan berperan sebagai hudan linnas (petunjuk bagi manusia). Hal ini sesuai dengan firman-NYa :
Bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS Al-Baqarah : 185
1.2. Al-Quran sebagai hudan lil muslimin, mukminin  dan muttaqin
Dalam surat Al-Baqarah ayat 185 telah dijelaskan bahwa Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Pengertian manusia di dalam Al-Qur’an ini bisa berarti seorang muslim, bisa juga berarti non muslim. Tapi yang jelas, kata manusia masih bersifat umum, siapa saja.  Namun dalam surat dan ayat yang lain Allah swt menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara khusus sebagai petunjuk dan pedoman bagi orang-orang mukmin, muslim dan muttaqin.
Diantara surat dan ayat yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an itu berfungsi dan berperan sebagai hudan (petunjuk) bagi orang mukmin, muslim dan muttaqin adalah sebagai berikut  :
“Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada dalam) dada dan petunjuk (pedoman) serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”(QS Yunus : 57).
Dalam ayat yang lain.
“Dan kami turunkan Al-Kitab(Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri(muslimin).” (QS An-Nahl : 89). Dan dalam ayat yang lain.
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS Al-Baqarah : 2 ).
  • Al-Qur’an sebagai mukjizat.
Al-Qur’an disamping sebagai petunjuk juga berfungsi sebagai mukjizat. Mukjizat berasal dari  kata ‘ajaza – yu’jizu – mu’jizatun  yang berarti  yang melemahkan.  Dengan kata lain bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk melemahkan kafir Quraiys, khususnya  para pembesar dan para ahli syi’ir yang telah membanggakan diri mereka dengan syi’ir-syi’irnya dan juga  kehadirannya  sebagai bukti kebenaran Muhammad saw sebagai Rasulullah.
Banyak dikalangan pemuka kafir quraiys dan para penyairnya yang mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa Rasulullah saw, akan tetapi mereka sangat mengagumi keindahan dan kehalusan susunan bahasa Al-Qur’an.  Diantara pemuka dan penyair kafir Quraiys yang kagum namun mereka mengingkari ajaran Islam adalah  1. Walied bin Mughirah 2. Utbah bin Rabi’ah dan 3. Nadhar bin Harits.
Utbah bin Rabiah adalah seorang pemuda Quraiys yang gagah berani, pandai berpidato, lancar berbicara dan cakap berbantah. Ketika ia diutus oleh para pemuka Quraisy untuk memperdayakan Nabai saw, maka setelah dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an oleh Nabi saw – seketika itu ia berkata : “Cukuplah, cukuplah sekian dulu ya Muhammad dan cukuplah sekian saja. Janganlah engkau teruskan. Aku minta hendaknya engkau menerangkan dan berbicara yang selain itu!”. Dan dalam waktu yang lain ia berkata : “ Demi Allah, aku selama hidup belum pernah mendengar perkataan yang seperti perkataan Muhammad. Perkataannya akan saya anggap syi’ir bukan syi’ir. Lantaran ia memang bukan tukang syi’ir, dan akan saya anggap perkataan tukang tilik, ia bukan tukang tilik, dan saya akan anggap perkataan orang gila, ia bukan orang gila. Lantaran itu, aku tidaklah dapat menjawab perkataan yang diucapkan oleh Muhammad sepatah katapun’.
Diantara ayat-ayat yang menunjukan kemukjizatan Al-Qur’an adalah :
“Katakanlah : “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS Al-Israa : 88)
  “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang kami wahyukan kepadpa hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklalh ajaklah penolongmu selain Allah, jika kamu orang yang benar.” (QS Al-Baqarah : 23).
Saat ini, ada sebagian kelompok yang meragukan kebenaran isi Al-Qur’an. Jika anda berjumpa dengan seseorang atau sekelompok manusia yang meragukan kebenaran dan keontentikan Al-Qur’an, sebaiknya anda 




Ernida Sakina .tombol {

pengertian A_Qur'an



A.    Pengertian Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada baginda Rasulullah SAW sebagai petunjuk, pedoman, pengingat, perintah, kabar baik, peringatan, dan bahkan mukzijat dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk membuktikan kenabian dan kerasulan-Nya. isi Al-Qur’an itu bersifat universal, bahkan semua ilmu pengetahuan secara garis besar terkandung di dalam isi Al-Qur’an tersebut.
Dan Al-Qur’an, sama sekali bukanlah hasil ciptaan atau rekaan Nabi Muhammad SAW, yang semata-mata merupakan hasil karya cipta Nabi Muhammad SAW yang kemudian beliau akui sebagai firman dari Allah SWT yang di mana tujuannya hanya untuk menguntungkan kepentingan pribadi Nabi Muhammad SAW, maupun menguntungkan kepentingan Umat-Nya, seperti tuduhan kaum kafir selama ini. Padahal Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang al-um (buta huruf), sehingga mana mungkin orang yang buta huruf yang tidak bisa membaca dan menulis mampu menciptakan sebuah karya agung seperti Al-Qur’an ini, melainkan Al-Qur’an itu murni merupakan wahyu-wayu dari Allah SWT yang berisi firman-firman yang berasal dari-Nya. Jadi tuduhan kaum kafir bahwa Al-Qur’an adalah hasil karya cipta nabi Muhammad SAW selama ini tidak masuk akal sama sekali. Bahkan Allah SWT menantang manusia dan jin untuk membuat yang seperti Al-Qur’an. Terkandung dalam firman Allah SWT pada surat ke-17 yaitu surat Al-Isra’ ayat 88:
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا﴿۸۸
Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya (Al-Qur’an), sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (QS. Al-Isra’: 88).

Para ulama berbeda pendapat mengenai lafadz Al-Qur’an. Sebagian berpendapat, penulisan lafadz tersebut dibubuhi huruf hamzah (dibaca Al-Qur’an). Pendapat lain mengatakan penulisannya Zdari akar kata apapun) dan bukan pula berhamzah (tanpa tambahan huruf hamzah di tengahnya, jadi dibaca Al-Qur’an). Lafadz tersebut sudah lazim digunakan dalam pengertiannya kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi menurut Al-Syafi’i, lafadz tersebut bukan berasal dari akar kata Qa-ra-a (membaca), sebab kalau akar katanya Qa-ra-a, maka tentu setiap sesuatu yang dibaca dapat dinamai Al-Qur’an. Lafadz tersebut memang nama khusus bagi Al-Qur’an, sama halnya dengan nama Taurat dan Injil.
a.       Al-Fara’ berpendapat, lafadz Al-Qur’an adalah pecahan (musytaq) dari kata Qara’in (kata jamak Qarinah) yang berarti bermakna: kaitan, karena ayat-ayat Al-Qur’an satu sama lain saling berkaitan. Karena itu jelaslah bahwa huruf “nun” pada akhir lafadz Al-Qur’an adalah huruf asli, bukan huruf tambahan.
b.      Al-Asy’ari dan para pengikutnya mengatakan, lafadz Al-Qur’an adalah musytaq (pecahan) dari akar kata Qarn. Ia mengemukakan contoh kalimat Qarnusy-syai bisy-syai (menggabungkan sesuatu dengan sesuatu). Jadi kata Qarn dalam hal itu bermakna: gabungan atau kaitan, karena surat-surat dan ayat-ayat di dalam Al-Qur’an saling bergabung dan saling berkaitan.
Tiga pendapat di atas (Al-Syafi’i,  Al-Fara’, dan  Al-Asy’ari) cukuplah sebagai contoh untuk menarik kesimpulan bahwa lafadz Al-Qur’an (tanpa huruf hamzah di tengahnya) jauh dari kaidah pemecahan kata (isytiqaq) dalam bahasa Arab. Di antara para ulama yang berpendapat bahwa lafadz Al-Qur’an ditulis dengan tambahan huruf hamzah di tengahnya ialah Al-Zajjaj[1][2], Al-Lihyani[2][3]serta jama’ah lainnya.
a.       Al-Zajjaj: lafadz Al-Qur’an ditulis dengan huruf hamzah di tengahnya berdasarkan pola-kata (Wazn) Fu’lan. Lafadz tersebut pecahan (musytaq) dari akar kata Qar’un yang berarti Jam’un. Ia mengetengahkan contoh kalimat Quri’al Ma’u fil-Haudhi yang berarti: air dikumpulkan dalam kolam. Jadi dalam kalimat itu kata Qar’un bermakna Jam’un yang dalam bahasa Indonesia bermakna “kumpul”. Alasannya Al-Qur’an “mengumpulkan” atau menghimpun intisari kitab-kitab suci terdahulu.
b.      Al-Lihyani: lafadz Al-Qur’an ditulis dengan huruf hamzah di tengahnya berdasarkan pola-kata Ghufran dan merupakan pecahan (musytaq) dari akar kata Qa-ra-a yang bermakna Tala’ (membaca). Lafadz Al-Qur’an digunakan untuk menamai sesuatu yang dibaca, yakni objek, dalam bentuk mashdar.
Pendapat yang belakangan lebih kuat (pendapat Al-Lihyani, red) dan lebih tepat karena dalam bahasa Arab, lafadz Al-Qur’an adalah bentuk mashdar yang maknanya sinonim dengan Qira’ah, yakni “bacaan”. Sebagai contoh, firman Allah SWT dalam QS. Al-Qiyamah: 17-18.
إِنَّعَلَيْنَاجَمْعَهُوَقُرْآنَهُ﴿۱۷فَإِذَاقَرَأْنَاهُفَاتَّبِعْقُرْآنَهُ﴿۱٨﴾
“Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya (17). Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu”(18). (Al-Qiyamah: 17-18).[3][4]
            Sedangkan menurut terminologi Al-Qur’an adalah kalam Allah yang merupakan mukjizat[4][5], yang diturunkan melalui perantaraan malaikat Jibrilke dalam kalbu Rasulullah SAW,sebagaimana Firman Allah SWT:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيلاً﴿۲۳
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.” (Al-Insan: 23)
Dan dengan menggunakan bahasa Arab. Sebagaimana dalam Firman Allah SWT:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ﴿۲
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2).
dan disertai dengan kebenaran agar dijadikan hujjah (argumentasi) dalam hal pengakuannya sebagai Rasul, dan agar dijadikan sebagai dustur (undang-undang) bagi seluruh umat manusia, yang abadi, untuk kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat,[5][6] di samping merupakan amal ibadah jika membacanya. Al-Qur’an juga di-tadwin-kan di antara dua ujung, yang dimulai dari surat Al-Fatihah, dan ditutup dengan surat Al-Nas, dan sampai kepada Kita secara tertib dalam bentuk tulisan (Mushaf) maupun lisan dalam keadaan utuh atau terpelihara dari perubahan dan pergantian, sekaligus dibenarkan oleh Allah SWT, di dalam firman-Nya.[6][7] Definisi ini selaras dengan apa yang diberikan oleh Ahli Ushul.[7][8]
Dalam Kitab Manna’ul-Qaththan mabahits fi ulumil-Qur’an[8][9], yang dimaksud Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Muhammad SAW dan membacanya adalah ibadah.[9][10]
Definisi lain mengenai Al-Qur’an juga dikemukakan oleh Al-Zarqani. Menurut Al-Zarqani, Al-Qur’an itu adalah lafal yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dari permulaan surat Al-Fatihah sampai akhir surat Al-Naas.[10][11]
Sedangkan Abdul Wahhab Khallaf memberikan definisi mengenai Al-Qur’an, yaitu firman Allah yang diturunkan kepada hati Rasulullah; Muhammad bin Abdullah melalui Al-Ruhul Amin (Jibril As) dengan lafal-lafalnya yang berbahasa Arab dan maknanya yang benar, agar ia menjadi hujjah bagi Rasul, bahwa ia benar-benar Rasulullah, menjadi undang-undang bagi manusia, memberi petunjuk kepada mereka, dan menjadi sarana pendekatan diri dan ibadah kepada Allah dengan membacanya. Al-Qur’an itu terhimpun dalam mushaf, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat Al-Nas, disampaikan kepada kita secara mutawatir[11][12] dari generasi ke generasi secara tulisan maupun lisan. Ia terpelihara dari perubahan atau pergantian.[12][13]
B.       Fungsi Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah dokumen untuk umat manusia. Bahkan kita ini sendiri menamakan dirinya petunjuk bagi manusia.[13][14] Allah SWT berfirman Dalam QS: Al-Baqarah [2]: 185 & 2:
ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ﴿۲
“kitab[14][15] (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan pada isinya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa[15][16]”.  (QS: Al-Baqarah [2]: 2).[16][17]
شَهْرُرَمَضَانَالَّذِيأُنْزِلَفِيهِالْقُرْآنُهُدًىلِلنَّاسِوَبَيِّنَاتٍمِنَالْهُدَىوَالْفُرْقَانِفَمَنْشَهِدَمِنْكُمُالشَّهْرَفَلْيَصُمْهُوَمَنْكَانَمَرِيضًاأَوْعَلَىسَفَرٍفَعِدَّةٌمِنْأَيَّامٍأُخَرَيُرِيدُاللَّهُبِكُمُالْيُسْرَوَلايُرِيدُبِكُمُالْعُسْرَوَلِتُكْمِلُواالْعِدَّةَوَلِتُكَبِّرُوااللَّهَعَلَىمَاهَدَاكُمْوَلَعَلَّكُمْتَشْكُرُونَ﴿۱٨۵
 “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS: Al-Baqarah [2]: 185).
Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk yang didesain sedemikian rupa sehingga jelas bagi umat manusia dengan petunjuk itu manusia bisa membedakan mana yang hak dan bathil. Inilah sesungguhnya fungsi Al-Qur’an, yaitu sebagai pedoman hidup umat manusia. Karena itu bila Al-Qur’an dipelajari dengan benar dan sungguh-sungguh maka isi kandungannya akan membantu Kita menemukan nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman untuk menyelesaikan berbagai problem hidup.[17][18]
Adapun fungsi Al-Qur’an yang lainnya adalah:
1.    Pengganti kedudukan kitab suci sebelumnya yang pernah diturunkan Allah SWT.
2.    Tuntunan serta hukum untuk menempuh kehidupan.
3.    Menjelaskan masalah-masalah yang pernah diperselisihkan oleh umat terdahulu.
4.    Sebagai Obat penawar (syifa’) bagi segala macam penyakit, baik penyakit rohani maupun jasmani. Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Yunus: 57, Al-Isra’: 82, dan Fushilat: 44.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْجَاءَتْكُمْمَوْعِظَةٌمِنْرَبِّكُمْوَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِوَهُدًى وَرَحْمَةٌلِلْمُؤْمِنِينَ﴿۵۷
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57).
وَنُنَزِّلُ مِنَالْقُرْآنِمَاهُوَشِفَاءٌوَرَحْمَةٌلِلْمُؤْمِنِينَوَلا يَزِيدُالظَّالِمِينَ إِلاخَسَارًا﴿٨۲
Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan (Al-Quran itu) tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (QS. Al-Isra' [17]: 82).
وَلَوْجَعَلْنَاهُقُرْآنًاأَعْجَمِيًّالَقَالُوالَوْلافُصِّلَتْآيَاتُهُأَأَعْجَمِيٌّوَعَرَبِيٌّقُلْهُوَلِلَّذِينَآمَنُواهُدًىوَشِفَاءٌوَالَّذِينَلَايُؤْمِنُونَفِيآذَانِهِمْوَقْرٌوَهُوَعَلَيْهِمْعَمًىأُولَئِكَيُنَادَوْنَمِنْمَكَانٍبَعِيدٍ﴿٤٤﴾
“Dan jikalau Kami jadikan Al-Qur’an itu suatu bacaan dalam bahasa lain selain bahasa Arab tentulah Mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?”. Apakah (patut Al-Qur’an) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab?. Katakanlah: “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga Mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi Mereka[18][19]. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang  jauh.” (QS. Fushshilat [41]: 44).
5.    Sebagai pembenar kitab-kitab suci sebelumnya, yakni Taurat, Zabur, dan Injil. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS. Fathir: 31 dan Al-Maidah: 48.
وَالَّذِيأَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌبَصِيرٌ﴿۳۱
“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) adalah Al-Kitab (Al Qur’an) itulah yang benar, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya.” (QS. Fathir: 31).
وَأَنْزَلْنَاإِلَيْكَالْكِتَابَبِالْحَقِّمُصَدِّقًالِمَابَيْنَيَدَيْهِمِنَالْكِتَابِوَمُهَيْمِنًاعَلَيْهِفَاحْكُمْبَيْنَهُمْبِمَاأَنْزَلَاللَّهُوَلاتَتَّبِعْأَهْوَاءَهُمْعَمَّاجَاءَكَمِنَالْحَقِّلِكُلٍّجَعَلْنَامِنْكُمْشِرْعَةًوَمِنْهَاجًاوَلَوْشَاءَاللَّهُلَجَعَلَكُمْأُمَّةًوَاحِدَةًوَلَكِنْلِيَبْلُوَكُمْفِيمَاآتَاكُمْفَاسْتَبِقُواالْخَيْرَاتِإِلَىاللَّهِمَرْجِعُكُمْجَمِيعًافَيُنَبِّئُكُمْبِمَاكُنْتُمْفِيهِتَخْتَلِفُونَ﴿٤٨﴾
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS. Al-Ma’idah: 48).
6.    Sebagai pelajaran dan penerangan. Seperti dalam firman Allah SWT dalam QS. Yasin: 69.
وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ﴿٦۹
“Al Quran itu tidak lain adalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.” (QS. Yaa Siin: 69).
7.    Sebagai pembimbing yang lurus. Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Al-Kahfi: 1-2, Al-An’am: 126 & 153, Al-Isra’: 9, dan Al-Baqarah: 2.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا﴿۱﴾قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا﴿۲
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan[19][20] di dalamnya {1}; Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik {2}.” (QS. Al-Kahfi: 1-2).
وَهَذَاصِرَاطُرَبِّكَمُسْتَقِيمًاقَدْفَصَّلْنَاالآيَاتِلِقَوْمٍيَذَّكَّرُونَ﴿۱۲٦﴾
Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.” (QS. Al-An’am: 126).
وَأَنَّهَذَاصِرَاطِيمُسْتَقِيمًافَاتَّبِعُوهُوَلاتَتَّبِعُواالسُّبُلَفَتَفَرَّقَبِكُمْعَنْسَبِيلِهِذَلِكُمْوَصَّاكُمْبِهِلَعَلَّكُمْتَتَّقُونَ﴿۱۵۳
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[20][21], karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153).
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا﴿۹
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mumin yang mengerjakan amal sholih, bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’: 9).
ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ﴿۲
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 2).
8.    Sebagai pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi yang meyakininya. Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Al Jatsiyah: 20, Ibrahim: 1, Al-hadid: 9, Al-thalaq: 10-11, Al-Maidah: 15-16, dan Al-Ankabut: 51.
هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ﴿۲٠﴾
“Al-Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakininya.” (QS. Al Jatsiyah: 20).
الركِتَابٌأَنْزَلْنَاهُإِلَيْكَلِتُخْرِجَالنَّاسَمِنَالظُّلُمَاتِإِلَىالنُّورِبِإِذْنِرَبِّهِمْإِلَىصِرَاطِالْعَزِيزِالْحَمِيدِ﴿۱
“Alif laam raa[21][22]. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 1).
هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ﴿۹
Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al Qur'an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu.”(QS. Al-Hadid: 9).
أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الألْبَابِ الَّذِينَ آمَنُوا قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا﴿۱٠﴾رَسُولا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا قَدْ أَحْسَنَ اللَّهُ لَهُ رِزْقًا﴿۱۱
Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal, (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu {10}, (Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya {11}.” (QS. Al-Thalaq: 10-11).
يَاأَهْلَالْكِتَابِقَدْجَاءَكُمْرَسُولُنَايُبَيِّنُلَكُمْكَثِيرًامِمَّاكُنْتُمْتُخْفُونَمِنَالْكِتَابِوَيَعْفُوعَنْكَثِيرٍقَدْجَاءَكُمْمِنَاللَّهِنُورٌوَكِتَابٌمُبِينٌ﴿۱۵﴾يَهْدِيبِهِاللَّهُمَنِاتَّبَعَرِضْوَانَهُسُبُلَالسَّلامِوَيُخْرِجُهُمْمِنَالظُّلُمَاتِإِلَىالنُّورِبِإِذْنِهِوَيَهْدِيهِمْإِلَىصِرَاطٍمُسْتَقِيمٍ﴿۱٦﴾
“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan (15). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus (16).” (QS. Al-Maidah: 15-16).
أَوَلَمْيَكْفِهِمْأَنَّاأَنْزَلْنَاعَلَيْكَالْكِتَابَيُتْلَىعَلَيْهِمْإِنَّفِيذَلِكَلَرَحْمَةًوَذِكْرَىلِقَوْمٍيُؤْمِنُونَ﴿۵۱
“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur'an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ankabut: 51).
9.    Sebagai pengajaran. Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Al-Qalam: 52, dan Ali Imran: 138.
وَمَاهُوَإِلاذِكْرٌلِلْعَالَمِينَ﴿۵۲
“Dan tiadalah ia (Al Qur-an), melainkan pengajaran untuk semesta alam.” (QS. AI-Qalam:52).
هَذَابَيَانٌلِلنَّاسِوَهُدًىوَمَوْعِظَةٌلِلْمُتَّقِينَ﴿۱۳٨﴾
“(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali-Imran: 138).
10.  Sebagai petunjuk dan kabar gembira. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS. Al-Nahl: 89.
وَيَوْمَنَبْعَثُفِيكُلِّأُمَّةٍشَهِيدًاعَلَيْهِمْمِنْأَنْفُسِهِمْوَجِئْنَابِكَشَهِيدًاعَلَىهَؤُلاءِوَنَزَّلْنَاعَلَيْكَالْكِتَابَتِبْيَانًالِكُلِّشَيْءٍوَهُدًىوَرَحْمَةًوَبُشْرَىلِلْمُسْلِمِينَ﴿٨۹
“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl: 89).
11.  Sebagai pembanding atau pembeda (Furqan) antara yang haq dan bathil. Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah [2]: 185.
شَهْرُرَمَضَانَالَّذِيأُنْزِلَفِيهِالْقُرْآنُهُدًىلِلنَّاسِوَبَيِّنَاتٍمِنَالْهُدَىوَالْفُرْقَانِفَمَنْشَهِدَمِنْكُمُالشَّهْرَفَلْيَصُمْهُوَمَنْكَانَمَرِيضًاأَوْعَلَىسَفَرٍفَعِدَّةٌمِنْأَيَّامٍأُخَرَيُرِيدُاللَّهُبِكُمُالْيُسْرَوَلايُرِيدُبِكُمُالْعُسْرَوَلِتُكْمِلُواالْعِدَّةَوَلِتُكَبِّرُوااللَّهَعَلَىمَاهَدَاكُمْوَلَعَلَّكُمْتَشْكُرُونَ﴿۱٨۵
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”(QS. Al-Baqarah [2]: 185).
12.    Sebagai pengajaran/pembentang/penjelas (tibyan) segala sesuatu akan ilmu pengetahuan dan rahasia-rahasia alam dunia dan akhirat. Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran: 138, dan QS. Yusuf: 111.
لَقَدْكَانَفِيقَصَصِهِمْعِبْرَةٌلأولِيالألْبَابِمَاكَانَحَدِيثًايُفْتَرَىوَلَكِنْتَصْدِيقَالَّذِيبَيْنَيَدَيْهِوَتَفْصِيلَكُلِّشَيْءٍوَهُدًىوَرَحْمَةًلِقَوْمٍيُؤْمِنُونَ﴿۱۱۱
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
هَذَابَيَانٌلِلنَّاسِوَهُدًىوَمَوْعِظَةٌلِلْمُتَّقِينَ﴿۱۳٨﴾
“(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali-Imran: 138).
13.  Sebagai tali Allah yang harus diikat kuat dan digenggam teguh dalam hati dan kehidupan, khususnya bersama-sama agar tidak bercerai-berai. Seperti dalam Firman Allah SWT dalam QS. Al-Zukhruf: 43, dan Ali Imran: 102-103.
فَاسْتَمْسِكْبِالَّذِي أُوحِيَإِلَيْكَإِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍمُسْتَقِيمٍ﴿٤۳
“Maka berpeganglah teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Al-Zukhruf [43]: 43).
يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوااتَّقُوااللَّهَحَقَّتُقَاتِهِوَلاتَمُوتُنَّإِلاوَأَنْتُمْمُسْلِمُونَ﴿۱۰۲﴾وَاعْتَصِمُوابِحَبْلِاللَّهِجَمِيعًاوَلاتَفَرَّقُواوَاذْكُرُوانِعْمَةَاللَّهِعَلَيْكُمْإِذْكُنْتُمْأَعْدَاءًفَأَلَّفَبَيْنَقُلُوبِكُمْفَأَصْبَحْتُمْبِنِعْمَتِهِإِخْوَانًاوَكُنْتُمْعَلَىشَفَاحُفْرَةٍمِنَالنَّارِفَأَنْقَذَكُمْمِنْهَاكَذَلِكَيُبَيِّنُاللَّهُلَكُمْآيَاتِهِلَعَلَّكُمْتَهْتَدُونَ﴿۱۰۳
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (102). Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk (103). (QS. Ali Imran: 102-103).
14.    Sebagai tadzkirah (peringatan) bagi orang-orang yang takut kepada Allah dan terhadap kepemimpinan Al-Qur’an. Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Thaha: 1-4 & 123-124.
طه﴿۱﴾ مَاأَنْزَلْنَاعَلَيْكَالْقُرْآنَلِتَشْقَى﴿۲﴾ إِلَّاتَذْكِرَةًلِمَنْيَخْشَى﴿۳﴾تَنْزِيلامِمَّنْخَلَقَالأرْضَوَالسَّمَاوَاتِالْعُلاَ﴿٤﴾
“Thaahaa[22][23]{1}. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah {2}; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah) {3}. Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi {4}. (QS. Thaha: 1-4).
قَالَاهْبِطَامِنْهَاجَمِيعًابَعْضُكُمْلِبَعْضٍعَدُوٌّفَإِمَّايَأْتِيَنَّكُمْمِنِّيهُدًىفَمَنِاتَّبَعَهُدَايَفَلايَضِلُّوَلايَشْقَى﴿۱۲۳﴾وَمَنْأَعْرَضَعَنْذِكْرِيفَإِنَّلَهُمَعِيشَةًضَنْكًاوَنَحْشُرُهُيَوْمَالْقِيَامَةِأَعْمَى﴿۱۲٤﴾
Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka (123).” Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta (124). (QS. Thaha: 123-124).
15.  Sebagai pengawas (Muhaiminun) dan penjaga atas kitab-kitab samawi lainnya, tidak hanya membenarkan masalah aqidah, akan tetapi masalah syariat alamiyah juga. Al-Qur’an juga menetapkan sebagian hukum-hukum dari kitab sebelumnya dan mengganti serta mengubah sebagian lainnya.[23][24] Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Al-Maidah: 48.
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آَتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ﴿٤٨﴾
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian[24][25]  terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu,[25][26] Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”. (QS. Al-Maidah: 48).
16.  Sebagai Mukjizat bagi Rasulullah SAW yang bertujuan untuk melemahkan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya yang meragukan kenabian dan kerasulan-Nya.
Selain itu fungsi Al-Qur’an yang tidak kalah penting, adalah sebagai bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW, dan bukti bahwa semua ayatnya benar-benar dari Allah SWT. Sebagai bukti kedua fungsinya yang terakhir paling tidak ada dua aspek dalam Al-Qur’an itu sendiri: 1) Isi/kandungannya yang sangat lengkap dan sempurna; 2) Keindahan bahasa dan ketelitian redaksinya: 3) Kebenaran berita-berita ghaibnya; dan 4) Isyarat-isyarat ilmiahnya.



C.      Tujuan Diturunkannya Al-Qur’an
Sebagai pedoman hidup yang benar, Al-Qur’an niscaya harus memberikan suatu petunjuk hidup yang benar, mendasar dan pasti. Sehingga dapat dijadikan sebagai pegangan yang kokoh dalam menghadapi hidup. Oleh karena itu tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an tidak lain kecuali untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat[26][27]. Adapun petunjuk yang diberikan oleh Al-Qur’an pada pokoknya ada tiga:
1.      Petunjuk aqidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Allah dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.
2.      Petunjuk mengenai akhlaq yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual dan kolektif.
3.      Petunjuk mengenai syari’at dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya.[27][28]

D. Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an
Telah jelas dari pembagian Al-Quran menjadi ayat-ayat Makiyah dan Madaniyah menunjukkan bahwa Al-Quran turun secara berangsur-angsur. Turunnya Al-Quran dengan cara tersebut memiliki hikmah yang banyak, di antaranya:
  1. Pengokohan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla pada surat Al-Furqan, ayat 32—33,
    “Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.”
  2. Memberi kemudahan bagi manusia untuk menghapal, memahami serta mengamalkannya, karena Al-Quran dibacakan kepadanya secara bertahap. Berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat Al-Isra`, ayat 106,
    “Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.”
  3. Memberikan semangat untuk menerima dan melaksanakan apa yang telah diturunkan di dalam Al-Quran karena manusia rindu dan mengharapkan turunnya ayat, terlebih lagi ketika mereka sangat membutuhkannya. Seperti dalam ayat-ayat ‘ifk (berita dusta yang disebarkan sebagian orang tentang Aisyah radhiyallahu ‘anha=) dan li’an.
  4. Penetapan syariat secara bertahap sampai kepada tingkatan yang sempurna.
    Seperti yang terdapat dalam ayat khamr, yang mana manusia pada masa itu hidup dengan khamr dan terbiasa dengan hal tersebut, sehingga sulit jika mereka diperintahkan secara spontan meninggalkannya secara total.
    1. Maka untuk pertama kali turunlah firman Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu, surat Al-Baqarah ayat 219) yang menerangkan keadaan khamr. Ayat ini membentuk kesiapan jiwa-jiwa manusia untuk pada akhirnya mau menerima pengharaman khamr, di mana akal menuntut untuk tidak membiasakan diri dengan sesuatu yang dosanya lebih besar daripada manfaatnya.
      “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfa’at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa’atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.”
    2. Kemudian yang kedua turun firman Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu surat An-Nisaa` ayat 43). dalam ayat tersebut terdapat perintah untuk membiasakan meninggalkan khamr pada keadaan-keadaan tertentu yaitu waktu shalat.
      “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.”
    3. Kemudian tahap ketiga turun firman Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu surat Al-Ma-idah ayat 90–92). Dalam ayat tersebut terdapat larangan meminum khamr dalam semua keadaan, hal itu sempurna setelah melalui tahap pembentukan kesiapan jiwa-jiwa manusia, kemudian diperintah untuk membiasakan diri meninggalkan khamr pada keadaan tertentu.
      “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan ta’atlah kamu kepada Allah dan ta’atlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”



wahyu Amri