Translate

Wednesday, December 16, 2015

FUNGSI DAN POKOK-POKOK KANDUNGAN AL-QUR’AN



FUNGSI DAN POKOK-POKOK KANDUNGAN AL-QUR’AN

 
FUNGSI DAN POKOK-POKOK KANDUNGAN AL-QUR’AN

1.      Fungsi Al-Qur’an
Fungsi utama Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi umat manusia dan mukjizat bagi kerasulan Muhammad saw. Al-Qur’an memberikan aturan-aturan keagamaan yang menjadi petunjuk bagi umat manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Sebagai mukjizat, Al-Qur’an diturunkan oleh Allah untuk menjadi bukti kebenaran kerasulan Muhammad saw terutama bagi para penentang dakwah-dakwah beliau.
Fungsi Al-Qur’an sangat penting bagi kehidupan umat Islam. Ia bukan sekedar kitab bacaan biasa tetapi adalah buku suci yang menjadi pedoman dalam segala urusan kehidupan umat Islam di dunia. Ia menjadi rujukan utama ketika umat Islam ingin membangun formulasi hukum, etika, politik, sosial-kemasyarakatan dan sebagainya.
Untuk lebih mempermudah memahami fungsi-fungsi Al-Qur’an berikut adalah beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan fungsinya bagi kehidupan umat Islam.

·         Sebagai petunjuk dari Allah swt kepada manusia
Allah berfirman:
2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)….”

·         Sebagai bukti (mukjizat) kebenaran risalah Nabi Muhammad saw.
Allah berfirman:
7:203. Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur’an kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

·         Sebagai pemisah antara yang Haq dan yang Bathil\
Allah berfirman:
2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)….”

·         Sebagai obat bagi penyakit-penyakit hati
Allah berfirman:
10:57. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
e.    Sebagai nasihat bagi orang-orang bertaqwa
3:138. (Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

·         Sebagai pembenar kitab-kitab terdahulu
Allah berfirman:
35:31. Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.

2.    Pokok-pokok Kandungan Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan kitab suci agama Islam yang mempunyai fungsi utama sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan di bumi, sebagaimana dalam firman Allah:
2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)….”
Sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia, Ak-Qur’an memuat pesan-pesan yang dapat dijadikan sebagai sandaran bagi manusia dalam segala aspek kehidupannya. secara umum, kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dapat dipetakan menjadi beberapa tema pokok dibawah ini :

a. Aqidah
Salah satu yang menjadi pokok pembahasan ayat-ayat Al-Qur’an adalah masalah aqidah. Aqidah merupakan dasar penting dalam agama Islam. Secara bahasa Aqidah berasal dari bahasa Arab: al-’aqdu (ikatan), at-tautsiq (kepercayaan atau keyakinan yang kuat), al-qhkam (mengukuhkan atau menetapkan) dan ar-rabthu bi quwwah (mengikat dengan kuat). Adapun secara istilah Aqidah dapat didefinisikan sebagai iman yang teguh dan pasti yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya. Jadi dapat dipahami bahwa aqidah merupakan ilmu yang menjarkan kepada manusia mengenai kepercayaan yang wajib diyakini oleh setiap orang. Al-Qur’an mengajarkan aqidah tauhid kepada manusia, yaitu menanamkan keyakinan terhadap keesaan Allah swt.
Selain kepercayaan dan keimanan kepada Allah swt, Al-Qur’an juga mengajarkan manusia hal-hal yang ghaib, para rasul dan kepercayaan terhadap kitab-kitab terdahulu sebagai bagian dari kesempurnaan keimanan seseorang. Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang berbicara mengenai pokok-pokok aqidah yang harus diyakini setiap orang yang beriman. Allah berfirman:
35:3. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?  Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?
2:177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan  (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

b. Ibadah
Tema pokok kandungan Al-Qur’an selanjutnya adalah ibadah. Secara bahasa, ibadah berarti taat, tunduk dan ikut. Dalam bahasa syar’i ibadah diartikan sesuatu yang diperintahkan Allah sebagai syariat, bukan karena adanya keberlangsungan tradisi sebelumnya atau karena tuntutan logika atau akal manusia. Ibadah adalah segala bentuk ketaatan yang dijalankan atau dikerjakan untuk mendapatkan ridha dari Allah swt.
Al-Qur’an menjelaskan bentuk-bentuk ibadah dasar yang harus dikerjakan oleh setiap muslim, seperti mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat lima waktu, membayar zakat, puasa pada bulan suci Ramadhan dan beribadah haji bagi yang telah mampu menjalankannya. Namun Al0Qur’an tidak menjelaskan secara terperinci mengenai tata cara pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut. Al-Qur’an hanya menjelaskan bahwa setiap ibadah harus benar-benar ikhlas ditujukan kepada Allah swt.
Allah berfirman:
6:162. Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,

c. Akhlak
Tema pokok Al-Qur’an selanjutnya adalah mengajarkan akhlak. Dalam bahasa Arab, akhlak bentuk jamak dari khulqu yang artinya perangai, tabiat dan adab. Dalam agama Islam, akhlak merupakan tolak ukur derajat seseorang. Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa keimanan seseorang tidaklah cukup hanya dengan sekedar iman kepada Allah, Malaikat, Nabi-nabi dan lainnya Akan tetapi keimanan harus disertai dengan akhlak dan perilaku yang baik.
Allah berfirman:
6:90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
16:91. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
16:92. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain.  Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu.  Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.

d. Hukum
Salah satu tema yang banyak dibahas dalam ayat-ayat Al-Qur’an adalah hukum. Dalam Al-Qur’an termuat hukum-hukum yang mengatur tentang masalah-masalah yang ada pada seluruh aspek kehidupan manusia, Misalnya, hukuman bagi pembunuh, Allah berfirman :
17:33. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara lalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh.  Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.
Namun tidak semua aturan hukum yang ada dalam Al-Qur’an sudah terperinci. Kadang Al-Qur’an hanya menyebutkan prinsip-prinsip dasarnya saja. Misalnya Allah menyatakan keharaman darah dan bangkai secara mutlak dan umum.
5:3. Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah,…”
Kemudian Nabi saw men-taqyidkan (memberi persyaratan) kemutlakannya dan mentaksiskan (memberi ketentuan khusus) atas keharamannya serta menjelaskan macam-macam bangkai dan darah. Sebagaimana sabda Nabi saw:
“Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Adapun macam bangkai itu adalah bangkai ikan dan bangkai belalang sedang dua macam darah itu adalah hati dan limpa.” (H.R.Ibnu Majah dan Hakim)

e. Tadzkir (Peringatan)
Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk juga berisi peringatan-peringatan kepada manusia. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam salah satu ayatnya :
25:1. Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam
Mengenai isi peringatan-peringatannya, Al-Qur’an misalnya memberikan peringatan berupa ancaman akan siksa neraka bagi mereka yang mendustakan Allah dan utusannya. Allah berfirman :
5:33. Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,
Selain pemberi peringatan Al-Qur’an juga memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepada Allah swt dengan balasan berupa nikmat surga. Allah berfirman :
19:97. Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.

f. Sejarah atau Kisah
Al-Qur’an juga berisi kisah-kisah mengenai orang-orang yang terdahulu baik yang mengalami kebinasaan akibat tidak taat kepada Allah swt ataupun kisah-kisah orang yang mendapatkan kejayaan karena ketaatannya kepada Allah swt. Kisah-kisah tersebut agar bisa menjadi pelajaran bagi orang-orang yang sesudahnya. Allah berfirman :
11:100. Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah.
11:120. Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.
20:99. Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur’an).

Fungsi dan Peran Al-Qur’an (Sebagai petunjuk dan mukjizat)

Fungsi dan Peran Al-Qur’an (Sebagai petunjuk dan mukjizat)
 Pendahuluan.
 Menurut para ahli bahasa Arab, Lafadz Al-Qur’an berasal dari kata qara’- yaqrau’-qur’aanan yang  berarti bacaan. Pendapat ini didasarkan pada dan dikuatkan dengan firman Allah swt dalam Al-Qur’an :
“Apabila kamu telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.” (QS Al-Qiyamah : 18).
Sebagaimana kita saksikan saat ini, bahwa Al-Qur’an memang kitab yang paling sering dibaca umat manusia di dunia ini. Hal ini bisa kita buktikan melalui shalat lima waktu yang dilakukan umat Islam dari waktu ke waktu selama 24 jam. Disamping itu, Al-Qur’an adalah kitab yang paling banyak dihafal umatnya dan dibacanya dari detik ke detik,  menit ke menit dan selanjutnya. Kitab ini sungguh berbeda dengan kitab-kitab lainnya.
Para ulama berbeda pendapat dalam mendifinisikan pengertian Al-Quran. Namun, diantara beberapa difinisi yang paling pas menurut hemat penulis adalah yang dikemukakan seorang ulama bernama Dr. Subhi Shaleh dalam kitabnya, Al-Mabahits fil ilmi Al-Qur’an. Beliau mengatakan :
“Al-Quran adalah kitab mukjizat  yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, tertulis dalam lembaran-lembaran (mashahif) yang dinukiil dengan cara yang mutawatir ( sangat  dipercaya) dan dianggap  sebagai ibadah bagi siapa yang membacanya”.
Bulan ramadhan yang baru saja kita lalui, disamping  disebut  sebagai bulan agung, bulan berkah, bulan  mulia, bulan pendidikan, juga sering  disebut  sebagai bulan Al-Qur’an. Mengapa ia disebut sebagai bulan Al-Qur’an ? Karena di dalam bulan tersebut telah diturunkan Al-Qur’an.  Hal ini didasarkan pada firman Allah swt : Hal ini sesuai dengan firman-NYa :
 “Bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS Al-Baqarah : 185).  
 Mengingat Al-Qur’an yang berarti bacaan, maka sebaiknya umat Islam jangan hanya membaca di bulan suci ramadhan saja. Akan tetapi sebaiknya juga dibaca di 11 bulan lainnnya. Disamping membacanya, kita juga diharapkan  bisa memahami dan mengamalkan isi kandungan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, Al-Qur’an bisa dijadikan sebagai pedoman hidup atau way of life bagi setiap muslim.
Kitab Al-Qur’an memiliki berbagai keistimewaan dan kelebihan yang sangat menakjubkan. Hal ini bisa kita jumpai dalam keterangan dan penjelasan yang disampaikan  oleh Nabi Muhammad saw melalui sunah dan hadits-haditsnya.
Disamping ia memiliki keistimewaan dan kelebihan, Al-Qur’an juga memiliki fungsi dan peran yang sangat penting bagi kehidupan seluruh umat manusia di dunia. Inilah diantara fungsi dan peran Al-Qur’an yang Allah nyatakan melalui firman-firman-Nya.
Fungsi dan Peran Al-Quran.
Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang fungsi dan peranan dirinya bagi kehidupan umat manusia di dunia ini.  Untuk mengetahui fungsi dan peranan tersebut, seorang mukmin dan muslim dituntut memahami isi kandungan Al-Quran. Apabila ingin memahaminya dengan  baik dan benar, maka kita harus mengerti bahasa Arab secara integratif melalui belajar di sekolah, pesantren atau mengaji di  majlis-majlis taklim yang mengajarkan Al-Qur’an dan tafsirnya.
Agar Al-Qur’an itu bisa berfungsi dan berperan dalam kehidupan kita, maka  setiap  mukmin dan muslim harus berupaya dan mewajibakan dirinya untuk membaca, memahami dan mengamalkan ajaran-ajarannya. Atau dengan kata lain, Al-Qur’an  harus bisa  dijadikan sebagai pedoman hidup atau way of life.
Inilah diantara fungsi dan peran Al-Qur’an yang akan kami jelaskan berdasarkan fiman-firman-Nya :
1.     Al-Qur’an sebagai hudan.
Kata “hudan “  di dalam Al-Qur’an memiliki berbagai pengertian. Hudan bisa berarti petunjuk, pedoman, peraturan dan juga bisa bermakna undang-undang. Mengapa bisa demikian ?
Ketika seseorang sedang mengendarai motor atau mobil di jalan raya ia harus mengikuti peraturan dan petunjuk yang berkaitan dengan rambu lalu lintas. Bagaimana jadinya jika ia tidak mau mengikuti peraturan dan pentunjuk tersebut, seperti pada saat melihat rambu lalu lintas berwarna merah, namun ia tetap meneruskan  menjalankan mobilnya  ? Tentu akan terjadi benturan dan tabrakan yang terus menerus. Demikian juga umat manusia, pada saat menjalankan kehidupan yang serba komplek di dunia ini, tentu sangat memerlukan peraturan dan petunjuk agar mereka bisa hidup lebih baik dan tidak terjadi kekacauan.
Allah swt telah menciptakan langit, bumi dan berbagai macam jenis makhluk lainnya. Diantara berbagai macam makhluk tersebut ada yang bisa dilihat dengan panca indra dan ada juga yang tidak bisa dilihat. Dan diantara mereka ada yang bergerak secara dinamis dan ada juga yang tidak bergerak, statis. Seperti gunung, batu, pohon, rumput, sungai, laut bisa dikatagorikan sebagai makhluk yang tidak bergerak, statis. Sedangkan manusia dan binatang ternasuk jenis makhluk yang bergerak dan dinamis. Untuk menjaga keseimbangan dan kelangsungan kehidupan mereka, khususnya manusia dan makhluk hidup lainnya, maka diperlukan adanya petunjuk, pedoman, peraturan, atau undang-undang yang mengatur kehidupan mereka. Untuk inilah, maka Al-Qur’an diturunkan sebagai hudan (petujuk).
1.1.    Al-Qur’an sebagai petunjuk  bagi manusia.
Suatu ketika Allah swt memanggil para malaikat, lalu berkata kepada mereka bahwa Ia hendak menjadikan seorang Khalifah(pemimpin) di muka bumi. Lalu para malaikat itu bertanya : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi, padahal mereka akan membuat kerusakan dan penumpahan darah di dalamnya”.  Keraguan malaikat itu dijawab oleh Allah dengan mengatakan : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”  Dialog ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an :
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak mengetahui.”    (QS Al-Baqarah : 30).
Untuk mengatur kehidupan manusia agar tidak membuat kerusakan dan melakukan penumpahan darah sesama mereka di muka bumi ini, maka perlu adanya pedoman atau undang-undang. Dan disinilah sesungguhnya Allah swt menurukan Al-Qur’an yang  berfungsi dan berperan sebagai hudan linnas (petunjuk bagi manusia). Hal ini sesuai dengan firman-NYa :
Bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS Al-Baqarah : 185
1.2. Al-Quran sebagai hudan lil muslimin, mukminin  dan muttaqin
Dalam surat Al-Baqarah ayat 185 telah dijelaskan bahwa Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Pengertian manusia di dalam Al-Qur’an ini bisa berarti seorang muslim, bisa juga berarti non muslim. Tapi yang jelas, kata manusia masih bersifat umum, siapa saja.  Namun dalam surat dan ayat yang lain Allah swt menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara khusus sebagai petunjuk dan pedoman bagi orang-orang mukmin, muslim dan muttaqin.
Diantara surat dan ayat yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an itu berfungsi dan berperan sebagai hudan (petunjuk) bagi orang mukmin, muslim dan muttaqin adalah sebagai berikut  :
“Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada dalam) dada dan petunjuk (pedoman) serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”(QS Yunus : 57).
Dalam ayat yang lain.
“Dan kami turunkan Al-Kitab(Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri(muslimin).” (QS An-Nahl : 89). Dan dalam ayat yang lain.
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS Al-Baqarah : 2 ).
  • Al-Qur’an sebagai mukjizat.
Al-Qur’an disamping sebagai petunjuk juga berfungsi sebagai mukjizat. Mukjizat berasal dari  kata ‘ajaza – yu’jizu – mu’jizatun  yang berarti  yang melemahkan.  Dengan kata lain bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk melemahkan kafir Quraiys, khususnya  para pembesar dan para ahli syi’ir yang telah membanggakan diri mereka dengan syi’ir-syi’irnya dan juga  kehadirannya  sebagai bukti kebenaran Muhammad saw sebagai Rasulullah.
Banyak dikalangan pemuka kafir quraiys dan para penyairnya yang mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa Rasulullah saw, akan tetapi mereka sangat mengagumi keindahan dan kehalusan susunan bahasa Al-Qur’an.  Diantara pemuka dan penyair kafir Quraiys yang kagum namun mereka mengingkari ajaran Islam adalah  1. Walied bin Mughirah 2. Utbah bin Rabi’ah dan 3. Nadhar bin Harits.
Utbah bin Rabiah adalah seorang pemuda Quraiys yang gagah berani, pandai berpidato, lancar berbicara dan cakap berbantah. Ketika ia diutus oleh para pemuka Quraisy untuk memperdayakan Nabai saw, maka setelah dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an oleh Nabi saw – seketika itu ia berkata : “Cukuplah, cukuplah sekian dulu ya Muhammad dan cukuplah sekian saja. Janganlah engkau teruskan. Aku minta hendaknya engkau menerangkan dan berbicara yang selain itu!”. Dan dalam waktu yang lain ia berkata : “ Demi Allah, aku selama hidup belum pernah mendengar perkataan yang seperti perkataan Muhammad. Perkataannya akan saya anggap syi’ir bukan syi’ir. Lantaran ia memang bukan tukang syi’ir, dan akan saya anggap perkataan tukang tilik, ia bukan tukang tilik, dan saya akan anggap perkataan orang gila, ia bukan orang gila. Lantaran itu, aku tidaklah dapat menjawab perkataan yang diucapkan oleh Muhammad sepatah katapun’.
Diantara ayat-ayat yang menunjukan kemukjizatan Al-Qur’an adalah :
“Katakanlah : “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS Al-Israa : 88)
  “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang kami wahyukan kepadpa hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklalh ajaklah penolongmu selain Allah, jika kamu orang yang benar.” (QS Al-Baqarah : 23).
Saat ini, ada sebagian kelompok yang meragukan kebenaran isi Al-Qur’an. Jika anda berjumpa dengan seseorang atau sekelompok manusia yang meragukan kebenaran dan keontentikan Al-Qur’an, sebaiknya anda 




Ernida Sakina .tombol {

No comments: