BAB I
PENDAHULUAN
1.
LATAR
BELAKANG
Sebenerya. sebelum kta mempelajari Hadis terlebih dulu kita belajar Ulumul Hadis kenpa saya mengatakan
sedemikian karna, Ulumul Hadis merupakan
salah satu disiplin ilmu agama yang sangat penting terutama sekali untuk
mempelajari dan menguasai hadis secara baik dan tepat, dilihat dari fungsinya, Ulumul Hadis mempuyai peran penting
terhadap Hadis, seperti halnya kedudukan Ulumul
Qur’an terhaadap Al-Qur’an. dengan
demikian Hadis dengan Ulumul Hadis sangat erat hubungan keduanya
Secara terminologis, para ulama, baik muhaditsin,
fuquha, ataupun ulama-ulama, merumuskan pengertian Hadis secara berbeda-beda.
Perbedaan pendapat atau pandangan tersebut lebih di sebabkan oleh terbatas dan
luasnya objek tinjauan masing-masing, yang tentu saja mengandung kecenderungan
pada aliran ilmu di dalamnya
Perbedaan pandangan trsebut kemudian
memelihara dua macam pengertian Hadis, yakni pengertian terbatas dan pengertian
luas. Dengan demikian, menurut ulama Hadis, esensi Hadis adalah segla berita
yang berkenaan dengan sabbda, perbuatan, taqrir,dan hal ikhwal Nabi Muhammad
SAW. Yang di maksut ikhwl adalah segala sifat dan keadaan peribadi Nabi
Muhammad SAW.
Kehadiran
agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw. diyakini dapat menjamin terwujudnya
kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Petunjuk-petunjuk agama
mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber
ajarannya, Alquran dan Hadis, tampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan
kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi
kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial,
menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas,
egaliter, kemitraan, anti-feodalistik, mencintai kebersihan, mengutamakan
persaudaraan, berakhlak mulia dan bersikap positif lainnya.
Begitu
pentingnya aqidah ini, sehingga Nabi Muhammad Saw, penutup para Nabi dan Rasul
membimbing umatnya selama 13 tahun ketika berada di Makkah dengan menekankan
masalah aqidah ini, karena aqidah adalah landasan semua tindakan, bahkan
merupakan landasan bangunan Islam. Oleh karena itu, maka para dai dan para
pelurus agama dalam setiap masa selalu memulai dakwah mereka dengan tauhid dan
pelurusan aqidah dan mengajak kepada kebaika.
2.
Rumusan masalah
Disini ada dua pokok masalah yang saling berkaitan
satu sama lain yaitu
a. Apa itu Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
b. Dan keutamaan mengajak kepada
kebaikan
3.
Tujuan
penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah memberikan
penjelasan mengenai hubungan antara, Amar ma’ruf Nahi Mungkar dan keutamaan mengajak kepada
kebaikan, dan memberi penjelasan kepada teman-teman semua.
BAB II
PEMBAHASAN
1. AJAKAN KEPADA
YANG MA’RUF DAN MENJAUHI YANG MUNGKAR.
عن حذ يفة رضي الله عن النبي صل الله
عليه وسلم : والدى نفس بيده لتا مرن با لمعروف و لتنهون عن المنكر او ليوشكن الله
ان يبعث عليكم عقا با منه ثم تد عونه فلا يستخا ب لكم
(
رواه الترمذي. وقل: حديش حسن (
Artinya
“ Huzaifah berkata bahwa Nabi SAW.
Bersabda, “ Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, kamu harus
menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, atau kalau tidak, pasti kalau
tidak Allah akan menurunkan siksa kepada kamu, kemudian kamu berdoa, maka tidak
diterima doa kamu”
( H.R. At-Tarmizi, dan menurutnya
hadis ini hasan)
Didalam hadis diatas terkandung pengajaran
sebagai berikut:
a.
Adanya kewajiban untuk
menyuruh orang berbuat ma’ruf dan melarang berbuat
mungkar.
b.
Jika ada lagi yang
menyeru dan tidak mau untuk berbuat ma’ruf dan melarang berbuat
munkar,maka Allah akan menurunkan siksa ,dan doanya tidak akan dikabulkan.
Islam mengajarkan agar umatnya selalu peduli
dengan lingkungan dan sesamanya. Pengetahuan tentang kebenaran tidak boleh
hanya dimiliki dan dikuasai oleh seseorang sementara orang lain berada didalam
kejahilan. Islam mengharuskan adanya penyebarluasan kebaiakan dan pengetahuan
serta memberantas dan membasmi kejahilian dan kemungkaran. Ajaran tentang hal
ini dikenal dengan Amar Ma’ruf Nahyi
Munkar. Oleh sebab itu Allah menjanjikan kebaikan dan keberuntungan kepada
orang-orang yang mengajak kebaikan. Sebagai mana firman Allah dalam Al-Qur’an:
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããôt n<Î) Îösø:$# tbrããBù'tur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztur Ç`tã Ìs3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd cqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ
Artinya
“Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar,[1] merekalah orang-orang yang
beruntung.”
(Q.S. Al-Imran. 104)
Dengan
demikian, amar ma’ruf dan nahyi munkar yang dibebankan kepada setiap
muslim, jika ia telah menjalankannya, sedangakan orang yang diperingatkan tidak
melaksanakannya, maka pemberi peringatan telah terlepas dari tuntunan. Sebab ia
hanya diperintah menjalankan amar ma’ruf dan nahyi munkar, tidak sampai harus
sampai bisa diterima oleh yang diberi peringatan.
Kemudian, amar ma’ruf dan nahyi munkar
merukan perbuatan wajib Kifayah, sehingga jika telah ada yang
menjalankan nya, maka yang lain insya Allah terbebas dari kewajiban itu, tapi jika
semua orang meninggalkannya, maka berdosalah semua orang yang mampu
melaksanakannya, terkecuali yang ada uzur atau halangan untuk menyampaikan
permasalahan ini. Kemudian, permasalah seperti ini ada kalanya menjadi wajib ‘Ain bagi
seseorang.misalnya, jika disuatu tempat tidak ada orang lain yang mengetahui
kemungkaran itu selain dia, atau kemungkaran itu hanya bisa dicegah oleh dia sendiri,
maka ia dibebankan untuk menanganinya.
Tanggung jawab amar ma’ruf dan
nahy munkar itu tidaklah terlepas dari diri seorang hanya karena ia
beranggapan bahawa peringatannnya tidak akan diterima, dalam keadaan demikian
ia tetap saja wajib menjalankannya, dalam kaitan ini Allah berfirman dalm
Al-Qura’n :
tbqãZÏB÷sßJø9$#ur àM»oYÏB÷sßJø9$#ur
öNßgàÒ÷èt/
âä!$uÏ9÷rr&
<Ù÷èt/
4 crâßDù't
Å$rã÷èyJø9$$Î/
tböqyg÷Ztur
Ç`tã
Ìs3ZßJø9$#
cqßJÉ)ãur
no4qn=¢Á9$#
cqè?÷sãur
no4qx.¨9$#
cqãèÏÜãur
©!$#
ÿ¼ã&s!qßuur
4 y7Í´¯»s9'ré&
ãNßgçHxq÷zy
ª!$#
3 ¨bÎ)
©!$#
îÍtã
ÒOÅ3ym
ÇÐÊÈ
“ Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan
perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang
lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar,
mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya.
mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.”
Telah disebutkan diatas bahawa setiap orang
berkewajiban melakukan amar ma’ruf nahyi munkar,tetapi tidak diwajibkan sampai
peringatannya itu diterima.
Orang yang menyampaiakan amar ma’ruf
nahyi munkar tidaklah diharuskan dirinya telah sempurna melakasanakan semua
yang menjadi perintah agama dan meninggalkan semua yang menjadi larangannya.
Imam al-Qurthubi mengutip pendapat ulama
terdahulu mengatakan bahawa tanggung jawab utama mengemban amar ma’ruf nahyi
munkar berada ditangan ulama dan umara .merekalah yang berprofesi sebagai
penegak panji-panji ini.sebab,merekalah yang tahu hakikat kebenaran agama islam
,bukan berada pada setiap orang.
Tugas amar ma’ruf dan nahyi munkar tidak hanaya menjadi kewajiban para
penguasa,tetapi tugas setiap muslim.yang diperintahkan melakukan amar ma’ruf
nahyi munkar adalah orang mengetahui tentang apa yang dinilai sebagai hal yang
ma’ruf atau munkar.Bila berkaitan dengan hal-hal yang jelas
,seperti shalat,puasa,zina,minum khamar,dan semacam nya,maka setiap
muslim wajib mencegahnya karena ia sudah mengetahui hal ini.
Bagi
orang yang melakukan amar ma’ruf nahyi munkar seyogyanya dilakukan dengan sikap santun agar dapat
lebih mendekatkan kepada tujuan.”Imam asy-syafi’I berkata “’’Orang yang
menasihati saudaranya dengan cara tertutup,maka orang itu telah benar-benar
menasihatinya dan berbuat baik kepadanya.
Orang yang melakukan amar ma’ruf dan nahyi
munkar tidaklah punya hak untuk mencari-cari,mengontrol,memata-matai,dan
menyebarkan prasangka,tetapi jika ia menyaksikan orang lain berbuat
munkar,hendaklah ia mencegahnya.”Al-mawardi berkata”*Orang yang melakukan
amar ma’ruf nahyi munkar tidaklah punya hak untuk menyebarkan praduga atau
mematai-matai ,kecuali memberitahukan kepada orang yang bisa dipercaya.
Menurut
Al-faqih Abu Laits Samarqandi, ada lima syarat dalam melakukan amar ma’ruf
nahi mungkar, yaitu :[2]
1. Berilmu
Karna
masyarakat umumnya belum mengerti mana yang ma’ruf, mana yang mungkar. Maka
dari itu kita yang sudah mengetahui itu semua seharusnya mengajak mereka kepada
kebaikn dan melarang kepada keburukan.
2. Ikhlas
semata
Ihklas
disini hanya karna Allah semata tidak Ada paksaan dari orang lain, dan hanya
ingin mencari ridanya Allah SWT. Dalam menegakan agama islam ini.
3.
Menyampaikan
Menyampaikan
permasalahan seperti ini harus mengunakan metode yan baik, penuh kasih sayang
terhadap objek (orang yang dinasehati), karta-kata lunak, sikap ramah-tamah.
Sebagai mana pesan Allah kepada Nabi Musa dan Harun A.S. ketika menghadapi
Fir’aun.
4.
Sabar dan tenang
Firman Allah dalam Al-Qur’an
¢Óo_ç6»t
ÉOÏ%r&
no4qn=¢Á9$#
öãBù&ur
Å$rã÷èyJø9$$Î/
tm÷R$#ur
Ç`tã
Ìs3ZßJø9$#
÷É9ô¹$#ur
4n?tã
!$tB
y7t/$|¹r&
( ¨bÎ)
y7Ï9ºs
ô`ÏB
ÇP÷tã
ÍqãBW{$#
ÇÊÐÈ
Artinya
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah
(manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang
mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang
demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
(Q.S.
Lukman: 17)
5.
Melakukan hal yang di
perintahkan
Maksutnya
adalah menyesuaikan ucapan dan perbuatan, agar terhindar dari ejekan masyarakat
dan ancaman.
Allah berfirman dalam Al-Qura’an
* tbrâßDù's?r& }¨$¨Y9$# ÎhÉ9ø9$$Î/ tböq|¡Ys?ur öNä3|¡àÿRr& öNçFRr&ur tbqè=÷Gs? |=»tGÅ3ø9$# 4 xsùr& tbqè=É)÷ès? ÇÍÍÈ
Artinya
“Mengapa kamu suruh orang lain
(mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri,
Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”
(Q.S.
Al-Baqarah)
Namun demikian, yang
paling penting adalah keinginan dan usaha untuk melakukanya Amar ma’ruf Nahi
mungkar. Jika tidak ada usaha dari umat islam untuk melakukan Amar
ma’ruf Nahi mungkar , maksutnya membiarkan orang-orang yang melakukan kemungkaran
bebas berkeliaran tampa ada usaha untuk mencegahnya atau mengajak mereka agar
tidak melakukan kemaksiatan dan kemungkinan tersebut , Allah SWT. Akan
menurunkan azab-Nya dan dia tidak akan menerima doa kaum muslimin yang ada di
tempat itu
Naudzubillah
oleh sebab itu, setiap
orang harus berusaha sesuai dengan kemampuanya untuk melakukan Amar ma’ruf
Nahi mungkar, terutama dari pihak penguasa yang memiliki kewenangan untuk
itu semua.
2.
KEUTAMAAN MENGAJAK
KEPADA KEBAIKAN .
عن اب هر يرة رضى الله عنه قا ل: قا
ل رسول الله صلى الله عليه وسلم :من دعا الى هد ى كان له من ا لا جر مثل اجور من
تبعه لا ينقص ذلك من اجور هم شيا ومن دعا الىضلا لة كا ن عليه من الاءثم مثل اثا
من تبعه لا ينقص دلك من اثا مهم شيا
(رواه مسلم ومالك وابو داود والتمدى)
“Abu
Hurairah r.a berkata, Rasulullah
SAW. Bersabda ”Barang
siapa yang mengajak kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala
orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dari mereka sedikit pun dan
barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa sebagaimana
dosanyaorang yang mengikutinya tanpa dikurangi dari mereka sedikit pun”
(H.R. Muslim,Malik,Abu
Dawud dan Tirmidzi)
Hadis diatas menjelaskan bahawa orang
yang mengajak kepada kebaikan akan mendapat pahala sebasar pahala orang yang
mengerjakannya tanpa ada dikurangi
sedikitpun pahalanya. Begitu pula orang yang mengajak kepada kesesatan
akan mendapat dosa sebesar dosa orang yang mengerjakan kesesatan itudan tanpa
ada dikurangi sedikit pun dosanya.
Tidak diragukan lagi bahwa hadis tersebut
merupakan berita gembira bagi mereka yang suka mengajak orang lain untuk
menegerjakan kebaikan Allah Swt. memberikan penghargaan tinggi bagi mereka yang
suka mengajak kepada kebaikan. tentu saja bila ajakan tersebut didasari
keikhlasan, bukan untuk mencari, materi atau keuntungan dunia.
Nabi Swa mengajarkan kepada kita bahwa
mengajak kepada kebaikan dan mencegah melakukan kemungkaran merupakan prilaku
yang sangat menguntungkan. Oleh sebab itu,
kaum Muslim selalu antusias untk menyebarkan dakwah amar ma’ruf nahyi
munkar. Diantara keutamaan melakuakan amar ma’,ruf nahyi munkar tersebut
adalah:
Penyeru
Agama allah adalah orang yang terbaik perkataannya.
Sebagian factor yang membuat manusia
bersungguh-sungguh melakukan dakwah kepada agama Allah karena Allah mengangkat
derajat para pendai itu ke tempat yang tinggi, yakni, Allah menjadikan mereka
sebagai manusia yang terbaik perkataannya.
Syaikh Jamaluddin al-Qasimi menyatakan didalam
tafsirnya :
“Tidak
ada seorang pun yang lebih baik perkataannya dari pada orang-orang yang menyeru
manusia untuk mengabdi kepada Allah taala, ia tergolong sebagai orang-orang
yang salih yang mengikuti perintah Allah dan sebagai orang yang menundukkan
wajah mereka kepada Allah Taala didalam mentauhidkan-Nya.”
Doa Nabi yang mulia saw. Bagi
orang-orang yang menyampaikan perkataannya.
Faktor lain yang membuat kaum muslim
antusias menyampaikan agama Allah kepada manusia disebabkan adanya doa Nabi
saw.bagi orang-orang yang menyampaikan
perkataannya kepada orang lain.
Pahala yang besar bagi orang yang
disebabkan usahanya orang lain mendapat petunjuk.
Jika ada orang lain mendapat petunjuk
disebabkan usahanya,Allah menjanjikan pahala yang besar bagi orang
tersebut.Imam al-Bukhari meriwayatkan dari sahal bin sa’ad ra.bahwa Rasulullah
saw.menjelaskan tentang pahala yang besar.
Para Dai mendapat pahala seperti
pahala orang yang mengikut ajakannya.
Nabi saw.menjelaskan bahwa siapa yang
menunjukkan (jalan) kebaikan kepada orang lain maka ia menerima pahala seperti
pahala orang yang melakukannya.sungguh,Muslim telah meriyatkan dari IbnMas’ud
ra.ia berkata, “Rasulullah saw.bersabda, ‘siapa yang menunjukkan ( jalan
)kebaikan (kepada orang lain)maka ia menerima pahala seperti pahala orang yang
melakukannya.
Allah
Taala dan segala makhluk dilangit dan bumi bershalawat kepada para pengajar
kebaikan kepada manusia.
Rasul saw.menceritakan kabar gembira
ini kepada para pengajar kebaikan bagi manusia bahwa Allah Taala, malaikat, segala
makhluk yang ada di langitdan bumi bershalawat kepadanya.
Kesinambungan
pahala para dai setelah kematiannya.
Nabi yang mulia saw menceritakan bahwa
diantara manfaat ilmu bagi manusia yaitu pahalanya berkesinambungan hingga
setelah berpindahnya ia kepada tuhanny Nya.
“Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah
saw.bersabda”Apabila manusia mati maka terputuslah amalnya kecua litiga
ahal,yaitu sedekah jariah,ilmu yang bermamfaat,atau anak shalih yang
mendoakannya.”
Pahala
kebaikan dicatat dan dilipati gandakan Allah
Ath-Thabari berkata pembatalan
niatseseorang dalam melakukan kebaikan atau keburukan tetap dicatat oleh
malaikat,asalkan dia menyadari apa yang diniatkan itu.ia membantah pendapat
yang beranggapan bahwa malaikat hanya mencatat pembatalan pada
perbuatan-perbuatan yang zhahir atau sesuatau yang dapat didengar.ini berarti
dua malaikat yang ditugasi mengawasi manusia mengetahui apa yang diniatkan oleh
seseorang.
BAB
III
Kesimpulan
Islam mengajarkan agar umat nya selalu peduli dengan lingkungan
dan sesamanya.Pengetahuan tentang kebenaran tidak boleh hanya dimiliki dan
dikuasai oleh seseorang sementara orang lain berada didalam kejahilan .islam
mengharuskan adanya penyebarluasan kebaikan
dan pengetahuan serta memberantas dan membasmi kejahilan dan kemungkaran.
Demikianlah isi dari makalah
ini.dan saya sangat menyadari bahwa dalam penulisan maupun penyusunan makalah
ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan.Untuk itu,saya sangat mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca demi perbaikan
makalah ini agar menjadi lebih baik kedepannya.
Akhirnya
,saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan kata-kata,dan kepada
semua pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini saya
ucapkan “Sekian dan terimah kasih”
Wassalamu Alaikum
Wr.Wb
No comments:
Post a Comment