BAB I
Pendahuluan
Secara sederhana
sosiologi dipahami sebagai suatu disiplin ilmu tentang keadaan masyarakat
lengakap dengan struktur, lapisan, serta berbagai gejala social yang saling
berhubungan. Dalam sejarah perkembangannya maka sosiologi termasuk kedalam
disiplin ilmu yang masih muda usianya (dalam perspektif barat)[1]
Berawal dari Ibn Khaldun,
dengan konsep pemikirannya yang sudah mengurus kepada pemahaman terhadap gejala
social yang berkembang di daerah Arab dan beberapa daerah lain sekitarnya,
menyusul kemudian comte dengan objek pengamatan yang sama(yaitu, masyarakat),
dan diteliti dengan metode ilmiah. Akhirnya di tangan comte
lahir suatu cabang ilmu yang diperkenalkannya dengan nama “sosiologi”.
Dalam buku Seven
Theories of Religion, Daniel L. Pals[2]
menyatakan bahwa pada awalnya orang Eropa menolak anggapan adanya kemungkinan
meneliti agama, sebab antara ilmu dan nilai, antara ilmu dan agama tidak bisa
disinkronkan. Kasus seperti ini juga terjadi di Indonesia pada awal tahun
70-an, di mana penelitian agama masih dianggap sesuatu yang tabu. Kebanyakan
orang berkata: mengapa agama yang sudah begitu mapan mau diteliti, agama adalah
wahyu Allah yang tidak bisa diutak-atik lagi.
Kehadiran agama Islam yang dibawa
Nabi Muhammad Saw diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang
sejahtera lahir dan batin. Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan
manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya, Al-Quran dan Al-Hadis,
tampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan
progresif, menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual,
senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka,
demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti-feodalistik,
mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia dan bersikap
positif lainnya.
BAB
II
Pembahasan
1.
Pendekatan Sosiologi
Sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki
ikatan-ikatan antara manusia yamng menguasai hidupnya. Sosiologi mencoba
mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara yang terbentuk dan tumbuh serta
berubahnya perserikatan-perserikatan hidup itu serta pula kepercayaannya,
keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam
tiap persekutuan hidup manusia.
Yang dimaksud
dengan pendekatan disini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam
suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam
hubungan ini, Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa agama dapat diteliti dengan
menggunakan berbagai paradigma. Realitas keagamaan yang diungkapkan mempunyai
realitas kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya. Karena itu, tidak ada
persoalan apakah penelitian agama itu penelitian ilmu sosial, penelitian
legalistik atau penelitian filosofis.[3]
Harus
ditegaskan disini bahwa orang yang pertama kali menggagas sekaligus memperaktikkan
sosiologi sebagai sebuah disiplin ilmu baru yang mandiri adalah Ibn Khaldun. Namun, sebagian besar sosiolog
memandang kontribusi Ibn Khaldun begitu kecil dalam sosiologi. Mereka lebih mengakui Karl Max dan August
Comte sebagai seorang yang yang paling berjasa bagi disiplin ilmu sosiologi[4].
Sosiologi
berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan
Logos berarti ilmu pengetahuan. Ungkapan ini dipublikasikan diungkapkan pertama
kalinya dalam buku yang berjudul "Cours De Philosophie Positive" karangan
August Comte (1798-1857). Sosiologi adalah ilmu yang
mempelajari fakta-fakta sosial yakni mengandung cara-cara bertindak, berfikir,
berperasaan yang berada di luar individu. Walaupun banyak definisi tentang sosiologi
namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat.
Sosiologi mempelajari masyarakat meliputi gejala-gejala social, struktur
sosial, perubahan sosial dan jaringan hubungan atau interaksi manusia sebagai
makhluk individu dan makhluk sosial.
Pendekatan sosiologis dibedakan dari
pendekatan studi agama lainnya karena fokus perhatiannya pada interaksi antara agama dan
masyarakat. Teori sosiologis tentang watak agama serta kedudukan dan
signifikansinya dalam dunia sosial, mendorong di tetapkannya serangkaian
kategori-kategori sosiologis, meliputi:
a.
Stratifikasi
sosial, seperti kelas dan etnisitas
b.
Kategori
bisosial, seperti seks, gender perkawinan, keluarga masa kanak-kanak dan usia
c.
Pola
organisasi sosial, meliputi politik, produksi ekonomis, sistem-sistem
pertukaran dan birokrasi.
d.
Proses
sosial, seperti formasi batas, relasi intergroup, interaksi personal,
penyimpangan, dan globalisasi[5].
Dalam
Al-Quran terdapat tuntunan yang banyak membicarakan realitas tertinggi yang
menunjukkan bahwa ia, secara filosofis, tidak menerima selainnya. Namun disisi
lain (sosiologis), ia juga dengan sangat toleran menerima kehadiran keyakinan
lain (lakum dinukum waliya din)[6].
Contoh Penelitian yang Menggunakan Pendekatan Sosiologi
Satu contoh penelitian yang menggunakan pendekatan sosiologi,
seperti yang dijelaskan Atho Mudzhar tentang Mesjid dan Bakul Keramat: Konflik
dan Integrasi dalam Masyarakat Bugis Amparita. Judul tersebut diteliti dengan
menggunakan metode grounded research. Penelitian ini mempelajari
bagaimana tiga kelompok keagamaan di mana orang-orang Islam, orang-orang Towano
Tolitang, dan orang-orang Tolitang Benteng di desa Amparita Sulawesi Selatan,
berinteraksi satu sama lain, kadang dalam bentuk konflik, terkadang kerjasama,
dan terkadang juga dalam bentuk integrasi[7].
Selanjutnya, sosiologi dapat
digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama, hal dimikian
dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami
secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu
sosiologi. Dalam agama islam dapat dijumpai peristiwa nabi yusuf yang dahulu
budak lalu akhirnya bisa jadi penguasa di mesir. Mengapa dalam melaksanakan tugasnya Nabi Musa
harus dibantu oleh Nabi harun, dan masih banyak lagi contoh yang lain.
Beberapa peristiwa tersebut baru dapat dijawab
dan sekaligus dapat ditemukan hikmahnya dengan bantuan ilmu social. Tanpa ilmu
social peristiwa peristiwa tersebut sulit dijelaskan dan sulit pula dipahami
maksudnya. Disinilah letaknya sosiologi sebagai salah satu alat dalam memahami
ajaran agama.
Pentingnya pendekatan sosiologi dalam memahami
agama sebagai mana disebutkan di atas, dapat dipahami, karena banyak sekali
ajaran agama yang berkaitan dengan masalah social. Besarnya perhatian agama
terhadap masalah social ini selanjutnya mendorong kaum agama memahami ilmu-ilmu
social sebagai alat untuk memahami agamanya. Dalam bukunya berjudul islam
Alternatif, Jalaludin Rahmat telah menunjukkan betapa besarnya perhatian
agama yang dalam hal ini islam terhadap masalah social, dengan mengajukan Lima
alasan sebagai berikut[8]:
1.
Dalam Alqur'an atau kitab-kitab hadits,
proporsi terbesar kedua sumber hukum islam itu berkenaan dengan urusan mu'amalah.
Menurut Ayatullah Khomaeni dalm bukunya Al-Hukumah Al Islamiyah yang di
kutip Jalaluddin Rahmat, dikemukakan bahwa perbandingan antara ayat-ayat
ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan social adalah satu berbanding
seratus untuk satu ayat ibadah, ada seratus ayat mu'amalah (masalah
social). Cirri-ciri orang mukmin sebagaimana disebutkan dalam surat Al Mukminun
ayat 1-9 misalnya adalah orang yang salatnya khusyu' menghindarkan diri dari
perbuatan yang tidak bermanfaat, menjaga amanat dan janjiannya dan dapat
menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat.
2.
Bahwa ditekannya masalah muamalah (social)
dalam islam ialah adanya kenyataan bahwa bila urusan ibadah bersamaan waktunya
dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau
ditangguhkan (tentu bukan ditinggalkan), melainkan dengan tetap dikerjakan
sebagaimana mestinya.
3.
Bahwa ibadah
yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar dari pada
ibadah yang bersifat perseorangan. Karena itu sholat yang dilakukan secara
berjamaah dinilai lebih tinggi nilainya dari pada salat yang dikerjakan
sendirian (munfarid) dengan ukuran satu berbanding dua puluh derajat.
4.
Dalam islam terdapat ketentuan bila urusan
ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan
tertentu, maka kifaratnya (tebusannya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan
dengan masalah social. Bila puasa tidak mampu dilakukan misalnya, jalan
keluarnya adalah dengan membayar fidyah dalam bentuk memberi makan bagi orang
miskin. Dalam hadis qudsi dinyatakan bahwa salah satu tanda orang yang diterima
salatnya ialah orang yang menyantuni orang-orang yang lemah, menyayangi orang
miskin, anak yatim,janda dan yang mendapat musibah.
5.
Dalam islam terdapat ajaran bahwa amal baik
dalam bidang kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar dari pada ibadah
sunnah. Dalam hubungan ini kita misalnya membaca hadist yang artinya sebagai
berikut:
· orang yang
bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang miskin, adalah seperti pejuang
dijalan Allah (atau aku kira beliau berkata) dan seperti orang yang terus
menerus salat malam dan terus menerus berpuasa (HR Bukhori Dan Muslim)
· Dalam hadistnya
yang lain, Rasulullah Saw. Menyatakan sebagai berikut: " Maukah kamu aku
beritahukan derajat apa yang lebih utama dari pada salat, puasa dan Shodaqah
(sahabat menjawab), tentu. Yaitu mendamaikan dua pihak yang bertengkar."
(HR Abu Daud Turmudzi dan Ibnu Hibban)
Melalui
pendekatan sosiologis agama akan dapat dipahami dengan mudah, karena agama itu
sendiri diturunkan untuk kepentingan social. Dalam al qur'an misalnya kita
jumpai ayat-ayat berkenaan dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya,
sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kemakmuran suatu bangsa dan sebab-sebab
yang menyebabkan terjadinya kesengsaraan. Semua itu jelas baru dapat dijelaskan
apabila yang memahaminya mengetahui sejarah social pada saat ajaran agama itu
diturunkan.[9]
A.
Bidang Kajian Sosiologi Pendidikan Islam
Masalah-masalah yang diselidiki sosiologi
pendidikan atau bidang kajian sosiologi pendidikan meliputi pokok-pokok antara
lain:
1. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek
lain dalam masyarakat,yang meliputi:
·
Fungsi
pendidikan dalam kebudayaan
· Hubungan antara
sistem pendidikan dengan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan
· Fungsi sistem
pendidikan dalam proses perubahan sosial dan kultural, atau usaha
mempertahankan status quo
· Hubungan
pendidikan dengan sistem tingkat/status sosial
· Fungsi sistem
pendidikan formal bertalian dengan kelompok rasial, kultural, dan sebagainya
2. Hubungan antar manusia di dalam sekolah, dalam
hal ini yang menjadi kajian yaitu menganalisis struktur sosial di
dalam sekolah. Pola kebudayaan di dalam sistem sekolah berbeda dengan apa yang
terdapat di dalam masyarakat di luar sekolah. Bidang yang dapat dipelajari
antara lain:
· Hakikat
kebudayaan sekolah, sejauh ada perbedaannya dengan kebudayaan di luar sekolah
· Pola interaksi
sosial atau struktur masyarakat sekolah, yang meliputi berbagai hubungan antara
berbagai unsur di sekolah, kepemimpinan dan hubungan kekuasaan, stratifikasi
sosial dan pola interaksi
informal
.Pengaruh
sekolah terhadap kelakuan dan kepribadian semua pihak di sekolah, jadi yang
diutamakan adalah aspek proses pendidikan itu sendiri, bagaimana pengaruh
sekolah terhadap murid. Seperti peranan sosial guru, hakikat kepribadian guru,
pengaruh kepribadian guru terhadap kelakuan anak, dan fungsi sekolah dalam
sosialisasi murid.
3.
Sekolah dalam
masyarakat, yaitu menganalisis pola interaksi sekolah dengan kelompok sosial
dalam masyarakat di sekitarnya, meliputi:
· Pengaruh
masyarakat atas organisasi sekolah
·
Analisis proses
pendidikan yang terdapat dalam sistem-sistem sosial dalam masyarakat luar
sekolah
·
Hubungan antara
sekolah dan masyarakat dalam
pelaksanaan pendidikan
·
Faktor-faktor
demografi dan ekologi dalam masyarakat yang bertalian dengan organisasi
sekolah, yang perlu untuk memahami sistem pendidikan dalam masyarakat serta
integrasinya di dalam keseluruhan kehidupan masyarakat.[10]
B.
Pendekatan dalam Kajian Sosiologi Pendidikan
Islam
Dalam kajian Sosiologi Pendidikan, kita akan
menggunakan beberapa pendekatan (Approach) yaitu:
1.
Pendekatan Indvidu (The Individu Approach)
Yaitu pendekatan yang memperhatikan
faktor individu secara utuh meliputi watak, intelegensi, psikologi, dan
kemampun psikomotorik. Untuk dapat mengerti tata kehidupan masyarakat
(kelompok) perlu dibahas tata kehidupan individu yang menjadi pembentuk
mayarakat itu, jikalau kita dapat memahami tingkah laku individu satu persatu
bagaimana cara berfikirnya, perasaannya, kemampuannya, perbuatnnya, sikapnya
dan sebagainya atau tegasnya watak individu, bagaimana mefasilitasi individu,
begitulah seterusnya. Maka akhirnya dapat dimengerti bagaimana kelompok
(masyarakat), dilihat dari tingkah laku masyarakat seluruhnya sampai pada
tingkah laku Negara ( misalnya kepribadian Negara).
Individu
sebagai titik tolak ditentukan atau di pengaruhi oleh dua macam faktor intern
dan extern. Faktor intern meliputi faktor-faktor biologis dan psikologis,
sedangkan faktor extern mencakup faktor-faktor lingkungan fisik dan lingkungan
sosial. Maka didalam approach individu menitik beratkan kepada
faktor-faktor biologis dan psikologis yang mendeterminir tingkah laku
seseorang. Kedua faktor itulah yang primer sedangkan faktor lingkungan sekitar
fisik dan sosial merupakan faktor sekunder.
2.
Pedekatan Sosial (The Sosial Approach)
Yaitu
pendekatan yang memperhatikan faktor lingkungan sebagai lingkungan tinggal
induvidu dalam perkembangannya. Titik pangkal dari Approach
Sosial ialah masyarakat dengan berbagai lembaganya,
kelompok-kelompok dengan berbagai aktivitas. Secara konkrit Approach
Sosial ini membahas aspek-aspek atau komponen dari pada kebudayaan
manusia, misalnya keluarga, tradisi, adat istiadat, moralitas, norma-norma
sosialnya dan sebagainya. Tingkah laku individu dapat dipahami dengan memahami
tingkah laku masyarakatnya. Misalnya, pada waktu lahir dengan pertolongan
bidan, atau dukun bayi, upacara-upacara yang dilakukan untuk si bayi, apabila
anak sudah mulai bicara diajar tatakrama keluarga dan masyarakat. Misalnya
bagimana cara makan dan minum, bagaimana cara berpakain dan sebagainya. Semua
menjalankan bahwa generasi muda harus bertingkah laku sesuai dengan pola
tingkah laku yang dikehendaki oleh masyrakat atau dengan perkataan lain di
kondisikan oleh kebudayaan masyarakat. Jadi kalau masyarakat mengizinkan
perkawinan poligami maka individu-individunya juga berpoligami.
Approach
Sosial tentulah mempunyai
kelemahan, sebab betapapun homogennya suatu masyarakat, betapa kuatnya tata
cara di situ masih juga kita dapati individualitas jadi anggota masyarakat,
artinya ciri-ciri tingkah laku manusia perseorangan masih dapat dilihat juga. Mengapa
demikian karena tiap-tiap individu mempunyai watak dan kepribadiannya
masing-masing, individualitas manusia tetap masih ada tidak jarang juga
kesegeraman tingkah laku pada masyarakat-masyarakat yang kuat tata caranya
dianggap sebagai paksaan terhadap individu-individunya, mereka merasa kurang
bebas, mereka ingin keluar dari belenggu adat istiadat masyarakat.
Jadi pendekatan
sosial ini titik beratnya terletak pada masyarakat dan pengaruh geografis jadi
tingkah laku manusia itu ditentukan oleh faktor fisik dan kultural. Jadi dengan
demikian, maka bertitik pangkal kepada berbagai individu yang berinteraksi, dan
dengan interksi sosial itu akan menunjukkan segi sosialnya makluk manusia,
sudah barang tentu dalam hal ini manusia selalu mengadakan penyesuain diri
dengan lingkungannya.
3.
Pendekatan Interksi (The Intraction approach)
Yaitu
pendekatan dengan memperhatikan pola hubungan antara individu dalam
lingkungannya. Di dalam pendekatan interaksional kita memperhatikan
faktor-faktor individu dan sosial. Dimana individu dan masyarakat saling
mempengaruhi dalam hubungan timbal balik antara individu dan masyarakat. Yang
mana interaksi yang terjadi mempunyai kekuatan saling membentuk dan mempengaruhi
dalam rangka saling menyempurnakan. Approach Individu memberi
dasar adanya individualitas watak dan kepribadian individu-individu
perseorangan sedangkan approach sosial terutama dengan studi sosiologinya
memberi landasan arah dan perkembanagan watak dan kepribadian individu-individu
dalam kontak dengan individu individu lainya, kontak antara masyarakat satu
dengan yang lain, kontak antara negara satu dengan negara yang lain. Studi
Sosiologi menegaskan setiap individu itu dilahirkan dan dibesarkan oleh
masyarakat serta individu-individu itu dalam hidupnya di masyarakat selalu
mengidentifikasikan dirinya dengan pola tingkah laku dan kebudayaan masyarakat.
Dan situasi
Interaksi adalah situasi hubungan sosial. Maka dapat dikatakan bahwa manusia
itu memasyarakatkan diri, atau dengan perkataan lain manusia membudayakan diri,
dan permasyarakatan pembudayaan ini tidak akan habis-habisnya sampai akhir
zaman.
Macam-macam
Interaksi Sosial:
1.
Dilihat dari sudut subjeknya, ada tiga macam
Interaksi Sosial yaitu:
·
Interaksi antara orang perorangan
·
Interaksi antar orang dengan kelompoknya dan
sebaiknya
·
Interaksi antar kelompok
2.
Dilihat dari segi caranya, ada dua macam interksi
sosial:
·
Interksi langsung (Dirrect Interction)
yaitu interaksi fisik, seperi berkelahi, hubungan seks/kelamin dan sebagainya.
·
Interksi simbolik (Symbolik Interaction),
yaitu interakasi dengan mempergunakan bahasa (lisan/tertulis) dan simbol-simbol
lain (isyarat) dan lain sebagainya.
3.
Menurut bentuknya, Selo Sumardjan membagi
interaksi menjadi empat, yaitu:
·
Kerjasama (coopertion)
·
Persaingan (competition)
·
Pertikaian (conflict)
·
Akomodasi (accomodation) yaitu bentuk
penyelesaian dari pertikaian
Masyarakat
indonesia termasuk tipe masyarakat kooperatif, dengan cirinya yang khas yaitu
“Gotong Royong”.
4.
Kontribusi Sosiologi Terhadap Pendidikan Agama
Islam……………..
Pendidikan agama Islam merupakan hal yang mesti ada dalam masyarakat, secara
umum pendidikan mempersiapkan peserta didik agar menjadi pribadi yang baik
sehingga mempunyai kemampuan untuk terjun mengamalkan ilmu yang diperolehnya
ketika kelak terjun di masyarakat. Pendidikan mempunyai peran aktif dalam
menciptakan generasi yang mampu berinteraksi sosial dengan baik, sebaliknya
sosiologi memberikan informasi ke dalam dunia pendidikan tentang nilai-nilai
yang berlaku di masyarakat. Pendidikan Agama Islam mengenalkan kepada peserta
didik tentang nilai-nilai yang terdapat dalam Agama Islam agar kelak ilmu yang
dimiliki dan kemudian diamalkan mempunyai dasar keagamaan, dengan kata lain
ilmu bisa dimanfaatkan sesuai dengan koridor agama dan tidak menyimpang…
Pendidikan
bisa dianggap berhasil ketika peserta didik mempunyai kemampuan dan potensi
untuk dimanfaatkan oleh dirinya, masyarakat, agama, bangsa, dan negara. Di sinilah
letak hubungan fungsionalitas antar pendidikan dengan sosiologi, karena
sosiologi membahas tentang interaksi sosial di masyarakat. Keberhasilan dalam
pendidikan agama Islam tidak hanya bisa ditentukan dengan struktur (nilai
ulangan harian, UTS, UAS, dll) melainkan lebih ditentukan oleh kehidupan
interaksi social sehari-hari yang terjadi di sekolah, baik antar masyarakat
sekolah (guru, peserta didik, karyawan, dll) maupun antara sekolah dengan
masyarakat sekitar…
Keberhasilan pendidikan terkadang lebih ditentukan kreativitas dari
masing-masing aktor dalam masyarakat. Kebiasaan yang dilakukan. Komunitas yang
digelutinya. Aktivitas yang ditekuni seseorang. Karenanya, ‘sukses’ melalui
pendidikan menjadi sangat relatif, ukurannya tidak hanya sebatas dilihat dari
nilai yang bagus. Pendidikan membawa
pengaruh positif ketika peserta didik ingin bermasyarakat, sebagaimana
lingkungan sosial menjadi faktor penting dalam mewujudkan keberhasilan
pendidikan. Demikian juga halnya dengan pendidikan Agama Islam, sukses belajar
agama Islam bukan dilihat dari nilai-nilai struktural, akan tetapi sejauh mana
agama Islam diamalkan dalam kehidupan sehari-hari ketika peserta didik terjun
ke kehidupan nyata di masyarakat.
…… Selama hidup,
kita senantiasa berinteraksi dengan orang lain dan dalam berinteraksi itu
kadang-kadang timbul konflik. Oleh karena itu, sosiologi sebenarnya berbicara
mengenai kita dan masyarakat dimana kita hidup dan berinteraksi.Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa kontribusi sosiologi terhadap pendidikan agama Islam
sebagai berikut:
a. Mengenalkan
kepada peserta didik sebagai sosok individu muslim yang hidup di tengah-tengah
masyarakat.
b. Sosiologi
mengenalkan kepada peserta didik muslim tentang masyarakat prural yang ada di
masyarakat, bahwa terdapat kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda dengan
agama yang dianut.
c. Sosiologi
mengajarkan peserta didik bahwa dengan perbedaan itu bukan pemicu konflik,
melainkan keragaman budaya yang mesti ada, dengan keragaman budaya tersebut
justru menjadi pemicu untuk mengembangkan potensi yang ada. Dengan bantuan
sosiologi, kita akan semakin memahami pula norma, tradisi, keyakinan, pranata
sosial dan nilai-nilai keagamaan yang dianut oleh masyarakat lain dan memahami
perbedaan-perbedaan yang ada tanpa hal itu menjadi alasan untuk timbulnya
konflik diantara anggota masyarakat yang berbeda.
d. Sebagai
generasi penerus bangsa dan pemeluk agama Islam yang taat, maka peserta didik
dituntut untuk lebih peka terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat, kritis
terhadap gejala sosial yang dewasa ini makin pelik, serta mampu mengambil
langkah dan tindakan yang tepat untuk pemecahan masalah. Hal ini akan sulit
tercapai jika kita hanya mempelajari agama tanpa mempelajari keadaan sosial
masyarakat.
e. Dengan
mempelajari sosiologi maka kita bisa mencari solusi-solusi tepat agar agama
dapat di terima oleh masyarakat.
f. Kebijakan-kebijakan pemerintah tentang agama
haruslah berdasarkan data sosial yang ada untuk kemudian menjadi salah satu
bahan referensi utama dalam pembuatan kurikulum pendidikan Agama Islam.
Dalam pengertian sederhana, sosiologi pendidikan memuat analisis-analisis
ilmiah tentang proses interaksi sosial yang terkait dengan aktivitas pendidikan
baik dari lingkup keluarga, kehidupan sosio-kultur masyarakat maupun di tingkat
nasional. Sehingga dari sini bisa di dapat sebuah gambaran objektif tentang
relasi-relasi sosial yang menyusun konstruksi total realitas pendidikan di
negara kita. Sampai pada pemahaman tersebut segala bentuk wawasan dan
pengetahuan sosiologis guna membedah tubuh pendidikan kita menjadi perlu untuk
dibahas agar proses-proses pengajaran tidak bisa ke arah yang kurang relevan
dengan kebutuhan bangsa.
Di sisi lain, jika perhatian kita tertuju pada lembaran sejarah perkembangan
pendidikan masyarakat Indonesia, produk kemajuan sosial, meningkatnya taraf
hidup rakyat, akselerasi perkembangan ilmu pengetahuan dan penerapan inovasi
teknologi merupakan bagian dari prestasi gemilang hasil jerih payah lembaga
pendidikan kita dalam upaya memajukan kehidupan bangsa Indonesia. Meningkatnya
jumlah kaum terpelajar telah menjadi bahan bakar lajunya lokomotif kemajuan dan
kesejahteraan rakyat Indonesia. Akan tetapi, beberapa kendala yang melingkari
dunia pendidikan dalam kaitan dengan menurunnya kualitas output pendidikan kita
menjadi bukti bahwa dunia pendidikan di Indonesia telah mengalami banyak
perbaikan.
Sosiologi pendidikan didasarkan atas landasan teoritis disiplin induknya yang
berubah-ubah. Sosiologi pendidikan yang baik akan mencerminkan tiga aspek yaitu
pertama“ imajinasi sosiologis” yaitu historis, struktural dan biografis yang
oleh Mills diidentifikasikan sebagai bagian terpenting dari suatu imu sosial.
Faktor kedua, perkembangan studi “akademik” pendidikan, dan dengan demikian
tumbuhlah ilmu-ilmu sosial dasar yang menopangnya, yakni sosiologi, psikologi,
filsaafat, dan sejarah. Dari sini lahirlah permintaan-permintaan akan tenaga
sosiolog untuk ikut mengajar pada program-program studi akademis ini,
selanjutnya perkembangan ini merangsang pula departemen-departemen pendidikan
di universitas-universitas untuk menyelenggarakan program-program diploma dan
program gelar lainnya yang lebih tinggi guna menghasilkan tenaga-tenaga yang
dibutuhkan.
Faktor ketiga, merupakan akibat dari perubahan suasana mental (mood). contohnya
perencanaan pendidikan di penghujung tahun-tahun 1960-an dari “optimisme” ke
“pesimisme”. Pertengahan tahun-tahun 1960-an merupakan tahun-tahun perkembangan
yang luar biasa, para mahasiswa melimpah-ruah, perekonomian melaju naik dan
pembaruan dianggap dapat diraih melalui proses politik yang ada.
2.
Pendekatan Antropologi
Pendekatan ini dapat diartikan sebagai
salah satu upaya dalam memahamai agama dengan cara melihat wujud praktik
keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui perndekatan ini
agama tampak lebih akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia
dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. 1. Pengertian antropologi
Antropologi berasal dari kata anthropos yang berarti
"manusia", dan logos yang berarti ilmu. Kata antropologi dalam bahasa Inggris yaitu “anthropology” yang didefinisikan sebagai the social science that studies the origins and
social relationships of human beings atau the science of
the structure and functions of the human body.[11] yaitu (ilmu sosial yang mempelajari asal-usul dan
hubungan sosial manusia atau Ilmu tentang
struktur dan fungsi tubuh manusia). Antropologi juga bisa
diartikan sebagai ilmu tentang manusia,
khususnya tentang asal-usul,
aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau. Menurut Koentjaraningrat antropologi adalah ilmu
yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna,
bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan. Dari beberapa
pengertian seperti yang telah dikemukakan, dapat disusun suatu pengertian yang
sederhana bahwa antropologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang manusia
dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku,
tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkannya, sehingga setiap manusia yang
satu dengan yang lainnya berbeda-beda.
Islam adalah
agama samawi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril.
Islam tidak hanya diperuntukkan kepada Nabi Saw, tetapi juga untuk umatnya
(manusia). Supaya Islam dapat diterima dan ajarannya dipahami serta
dilaksanakan oleh umat manusia, maka didalam penyampaiannya harus menggunakan
pendekatan atau metodologi yang pas dan sesuai. Jika tidak, maka dikhawatirkan
dalam waktu yang tidak lama Islam hanya tinggal namanya saja. Hal ini
perlu disadari oleh para ilmuwan muslim. Dan karena agama itu sangat erat
hubungannya dengan manusia, maka pendekatan antropologi sangat penting untuk
diterapkan didalam studi Islam.
Pendekatan
antropologi dapat diartikan sebagai suatu sudut pandang atau cara melihat dan
memperlakukan sesuatu gejala yang menjadi perhatian terkait bentuk fisik dan
kebudayaan sebagai hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia.
Dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan
adanya hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan
politik golongan masyarakat yang kurang mampu pada umumnya lebih tertarik
kepada gerakan-gerakan keagamaan yang mesianis, yang menjanjikan perubahan
tatanan sosial masyarakat. Sedangkan golongan orang yang kaya lebih cenderung
untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi
lantaran tatanan itu menguntungkan pihaknya.
Melalui
pendekatan antropologi sosok agama yang berada pada daratan empiric akan dapat
dilihat serat-seratnya dan latar belakang mengapa ajaran agama tersebut muncul
dan dirumuskan. Antropologi berupaya melihat hubungan antara agama dengan
berbagai pranata yang terjadi dimasyarakat[12].
Dalam
pendekatan ini kita melihat bahwa agama ternyata berkorelasi dengan etos kerja
dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini, jika ingin
mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang maka dapat dilakukan dengan
cara mengubah pandangan keagamaan. Selanjutnya melalui pendekatan antropologis
ini, kita dapat melihat agama dalam hubungannya dengan mekanisme
pengorganisasian.
A.
Obyek kajian
dalam Pendekatan antropologi
Ditinjau dari
pengertian antropologi tersebut, obyek kajian dalam antropologi mencakup 2
(dua) hal yaitu :
1. Keanekaragaman bentuk fisik manusia.
2. Keanekaragaman budaya/kebudayaan sebagai hasil dari cipta, karsa dan rasa
manusia.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat
yang mengatakan bahwa secara umum obyek kajian
antropologi dapat dibagi menjadi dua bidang, yaitu antropologi fisik yang
mengkaji makhluk manusia sebagai organisme biologis, dan antropologi budaya
dengan tiga cabangnya: arkeologi, linguistik dan etnografi.
Meski antropologi fisik menyibukan diri dalam usahanya melacak asal usul nenek
moyang manusia serta memusatkan studi terhadap variasi umat manusia, tetapi
pekerjaan para ahli di bidang ini sesungguhnya menyediakan kerangka yang
diperlukan oleh antropologi budaya. Sebab tidak ada kebudayaan tanpa manusia.
Jika budaya tersebut
dikaitkan dengan agama, maka agama yang dipelajari adalah agama sebagai
fenomena budaya, bukan ajaran agama yang datang dari Allah. Antropologi
tidak membahas salah benarnya suatu agama dan segenap perangkatnya, seperti
kepercayaan, ritual dan kepercayaan kepada yang sakral,[13] wilayah
antropologi hanya terbatas pada kajian terhadap fenomena yang muncul. Menurut
Atho Mudzhar, ada lima fenomena agama yang dapat dikaji, yaitu:
1. Scripture atau naskah
atau sumber ajaran dan simbol agama.
2. Para penganut
atau pemimpin atau pemuka agama, yakni sikap, perilaku dan penghayatan
para penganutnya.
3. Ritus, lembaga
dan ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan dan waris.
4. Alat-alat
seperti masjid, gereja, lonceng, peci dan semacamnya.
5. Organisasi
keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan berperan, seperti Nahdatul
Ulama, Muhammadiyah, Persis, Gereja Protestan, Syi’ah dan lain-lain.
Kelima
obyek di atas dapat dikaji dengan pendekatan antropologi, karena kelima obyek
tersebut memiliki unsur budaya dari hasil pikiran dan kreasi manusia.
B.
Pendekatan
antropologi dalam studi Islam (agama)
Pendekatan antropologis
dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama
dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam
masyarakat. Melalui
pendekatan ini agama nampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang
dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan
jawabannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu
antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan dalam disiplin ilmu
agama. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Dawam Raharjo, lebih
mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif. Dari sini
timbul kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya induktif yang mengimbangi pendekatan
deduktif sebagaimana digunakan dalam pengamatan sosiologis. Penelitian
antropologis yang induktif dan grounded, yaitu turun ke lapangan tanpa berpijak
pada, atau setidak-tidaknya dengan upaya membebaskan diri dari kungkungan
teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak sebagaimana yang dilakukan
di bidang sosiologi dan lebih-lebih ekonomi yang menggunakan model-model
matematis, banyak juga memberi sumbangan kepada penelitian historis.
Penelitian antropologi agama harus dibedakan dari pendekatan-pendekatan
lain. Para peneliti antropologi harus melakukan atau menawarkan sesuatu yang
lain dari yang lain. Ia harus menimbulkan pertanyaan sendiri yang spesifik,
berasal dari perspektif sendiri yang spesifik, dan mempraktekkan metode sendiri
yang spesifik pula. Antropologi dapat dianggap sebagai ilmu keragaman manusia,
dalam tubuh mereka dan perilaku mereka. Dengan demikian, antropologi agama akan
menjadi penyelidikan scientific keragaman agama manusia. Sebagaimana ungkapan
yang berbunyi :
“The
anthropological study of religion must be distinguished and distinguishable from these
other approaches in some meaningful ways; it must do or offer something
that the others
do not. It must raise its own specific
questions, come from
its own specific perspective, and practice
its own specific method. Anthropology can best be thought of as the science
of the diversity of humans, in their
bodies and their behavior. Thus, the anthropology of religion will be the scien-tific investigation of the
diversity of human religions”
Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari
manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari
tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan
kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen
antropologi akan pemahaman tentang manusia,
maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari
agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya.
Dengan demikian memahami Islam yang
telah berproses dalam sejarah dan budaya tidak akan lengkap tanpa memahami
manusia. Karena realitas keagamaan sesungguhnya adalah realitas kemanusiaan
yang mengejawantah dalam dunia nyata. Terlebih dari itu, makna hakiki dari
keberagamaan adalah terletak pada interpretasi dan pengamalan agama. Oleh
karena itu, antropologi sangat diperlukan untuk memahami Islam, sebagai alat
untuk memahami realitas kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikkan-Islam
that is practised-yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagamaan manusia. Karena begitu pentingnya penggunaan pendekatan antropologi dalam studi
Islam (agama), maka Amin Abdullah mengemukakan 4 ciri fundamental cara kerja pendekatan antropologi terhadap agama, yaitu
:
1. Bercorak descriptive,
bukannya normative.
2. Yang terpokok dilihat oleh pendekatan antropologi adalah local practices
, yaitu praktik konkrit dan nyata di lapangan.
3. Antropologi selalu
mencari keterhubungan dan keterkaitan antar berbagai domain kehidupan
secara lebih utuh (connections across social domains).
4. Comparative, artinya studi dan pendekatan
antropologi memerlukan perbandingan dari berbagai tradisi, sosial, budaya dan agama-agama.[14]
1.
Bercorak descriptive, bukannya normative.
Pendekatan
antropologi bermula dan diawali dari kerja lapangan (field work),
berhubungan dengan orang, masyarakat, kelompok setempat yang
diamati dan diobservasi dalam jangka waktu yang lama dan mendalam.
Inilah yang biasa disebut dengan thick description (pengamatan
dan observasi di lapangan yang dilakukan secara serius, terstuktur, mendalam dan berkesinambungan).
Thick description dilakukan dengan cara antara lain Living in ,
yaitu hidup bersama masyarakat yang diteliti, mengikuti ritme dan
pola hidup sehari-hari mereka dalam waktu yang cukup lama. Bisa berhari-hari,
berbulan-bulan, bahkan bisa bertahun-tahun, jika ingin memperoleh hasil yang
akurat dan dapat dipertanggungjawabkansecara akademik. John R Bowen,
misalnya, melakukan penelitian antropologi masyrakat muslim Gayo,di
Sumatra, selama bertahun-tahun. Begitu juga dilakukan oleh para antropolog
kenamaan yang lain, seperti Clifford Geertz. Field note research
(penelitian melalui pengumpulan catatan lapangan) dan bukannya
studi teks atau pilologi seperti yang biasa dilakukan oleh para orientalis
adalah andalan utama antropolog.
2.
Yang terpokok dilihat
oleh pendekatan antropologi adalah local practices , yaitu
praktik konkrit dan nyata di lapangan.
Praktik hidup yang
dilakukan sehari-hari, agenda mingguan, bulanan dan tahunan, lebih -lebih ketika manusia
melewati hari-hari atau peristiwa-peristiwa penting dalam menjalani
kehidupan. Ritus-ritus atau amalan-amalan apa saja yang dilakukan untuk
melewati peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan tersebut (rites
de pessages) ? Persitiwa kelahiran, perkawinan, kematian, penguburan
. Apa yang dilakukan oleh manusia ketika menghadapi dan menjalani ritme
kehidupan yang sangat penting tersebut?
3.
Antropologi selalu mencari keterhubungan dan keterkaitan antar berbagai
domain kehidupan secara lebih utuh (connections across social
domains).
Bagaimana hubungan
antara wilayah ekonomi, sosial, agama, budaya dan politik.
Kehidupan tidak dapat dipisah-pisah. Keutuhan dan kesalingterkaitan antar
berbagai domain kehidupan manusia. Hampir-hampir tidak ada satu domain wilayah
kehidupan yang dapat berdiri sendiri, terlepas dan tanpa terkait dan
terhubung dengan lainnya.
4.
Comparative
Studi dan pendekatan antropologi memerlukan
perbandingan dari berbagai tradisi, sosial, budaya dan agama-agama. Talal
Asad menegaskan lagi disini bahwa “What is distinctive about modern
anthropology is the comparisons of embedded concepts (representation)
between societies differently located in time or space. The important thing
in this comparative analysis is not their origin (Western or non-Western), but the
forms of life that articulate them, the power they release or disable.”
Setidaknya, Cliffort Geertz pernah memberi contoh bagaimana dia
membandingkan kehidupan Islam di Indonesia dan Marokko. Bukan sekedar
untuk mencari kesamaan dan perbedaan, tetapi yang terpokok adalah untuk
memperkaya perspektif dan memperdalam bobot kajian. Dalam dunia
global seperti saat sekarang ini, studi komparatif sangat membantu memberi
perspektif baru baik dari kalangan outsider maupun insider.
C.
Contoh Rancangan Penelitian yang
Menggunakan Pendekatan Antropologi
Salah satu
contoh penelitian yang akan dikemukakan pada bagian ini adalah runtuhnya Daulat
Bani Umayah dan bangkitnya Daulat Bani Abasiyah. Untuk membahas topik ini, M.
Atho Mudzhar menyarankan sedikitnya ada empat hal yang harus diperhatikan dan
diperjelas dalam rancangan penelitian, yaitu: rumusan masalah, arti penting
penelitian, metode penelitian dan literatur yang digunakan. Keempat hal
tersebut akan dirincikan secara singkat sebagai berikut:
Pertama: rumusan masalahnya adalah
faktor-faktor apa saja yang menyebabkan jatuhnya Bani Umayah dan bangkitnya
Bani Abasiyah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, harus dirumuskan faktor
penyebab runtuh atau bangkitnya dinasti, dan aspek apa saja yang akan dilihat.
Kedua: menjelaskan signifikasi
penelitian, seperti menjelaskan maksud penelitian (sesuatu yang belum pernah
diteliti atau dibahas sebelumnya) dan kontribusi apa yang diperoleh dari hasil
penelitian setelah dilakukan nantinya.
Ketiga: metode yang akan digunakan untuk
menjawab pertanyaan penelitian dengan merinci hal-hal seperti: bentuk dan
sumber informasi serta cara mendapatkannya, memahami dan menganalisa informasi
serta cara pemaparannya.
Keempat: melakukan telaah pustaka dan
membuat rangkuman dari teori yang telah dipaparkan. Setelah itu, seorang
peneliti harus mengetahui apa saja yang belum dibicarakan, dan dari sinilah
akan diperoleh kontribusi dari hasil penemuan penelitian.
D.
Signifikasi Antropologi
Sebagai Pendekatan Studi Islam
Dengan
menggunakan pendekatan antropologis dalam memahami agama, ternyata banyak diketahui keterkaitan antara
agama dan berbagai hal yang menyangkut manusia. Hal ini banyak diungkapkan oleh
Abuddin Nata,[15] yaitu :
1. Ditemukan adanya hubungan positif antara
kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik, yang mana golongan
masyarakat yang kurang mampu atau miskin lebih tertarik kepada gerakan-gerakan
keagamaan yang bersifat mesianis yang menjanjikan perubahan tatanan sosial
kemasyarakatan. Sedangkan golongan orang kaya lebih cenderung untuk
mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi lantaran
tatanan itu menguntungkan pihaknya.
2.
Agama ternyata berkorelasi dengan etos kerja dan
perkembangan ekonomi suatu masyarakat.
3. Agama mempunyai hubungan dengan mekanisme
pengorganisasian dalam masyarakat, seperti penelitian yang dilakukan oleh
Clifford Geert dalam bukunya The Religion of Java yang membagi klasifikasi
sosial masyarakat Muslim di Jawa menjadi 3 yaitu santri, priyayi dan abangan.
4.
Melalui
pendekatan antropologis fenomenologis terlihat adanya hubungan antara agama dan
negara (state and religion). Seperti terjadi di Indonesia yang penduduknya
mayoritas beragama Islam, tetapi menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal.
5.
Adanya keterkaitan antara agama dengan psikoterapi,
seperti pendapat Segmund Freud yang menghubungkan agama dengan Oedipus Complex,
yakni pengalaman infantil seorang anak yang tidak berdaya di hadapan kekuatan
dan kekuasaan bapaknya.
Jadi
jelas bahwa agama memang banyak berhubungan dengan berbagai masalah kehidupan
manusia dan untuk mengetahui itu semua dibutuhkan pendekatan antropologi.
Termasuk juga dibutuhkan dalam memahami ajaran agama, karena dalam ajaran agama
banyak informasi dan uraian yang dapat dijelaskan melalui ilmu antropologi
dengan cabang-cabangnya.
BAB III
Penutup
Kesimpulan
Sosiologi
adalah Ilmu yang mempelajari manusia dan interaksi manusia dengan manusia lain,
interaksi seseorang induvidu dengan individu yang lain, atau
individu dengan kelompok masyarakat, masyarakat dengan masyarakat, pemimpin
dengan rakyat, rakyat dengan rakyat, organisasi dengan organisasi.
Melalui
pendekatan ini kita dapat
memahami bahwa agama islam mengatur segala berbagai hubungan, baik hubungan
dengan Pencipta dan hubungan dengan sesama makhluk. Menjadikan sebuah
tatakrama yang baik dan mengetahui bahwa gama islam diturunkan bukan hanya
sekedar untuk menyembah Allah tetapi juga bagaimana kita berhubungan dengan
sesama makhluk menjadi lebih baik.
Antropologi
didefinisikan sebagai sebuah ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul,
aneka warna, bentuk fisik, adat istiadat dan kepercayaannya pada masa lampau.
Antropologi sebagai sebuah ilmu kemanusiaan sangat berguna untuk memberikan
ruang studi yang lebih elegan dan luas. Sehingga nilai-nilai dan pesan
keagamaan bisa disampaikan pada masyarakat yang heterogen.
a.
Antropologi
adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang manusia dari segi
keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi,
nilai-nilai) yang dihasilkannya, sehingga setiap manusia yang satu dengan yang
lainnya berbeda-beda.
b.
Ada 5 fenomena
agama yang menjadi obyek kajian dalam Pendekatan antropologi, yaitu :
1)
Scripture atau naskah atau sumber ajaran dan simbol
agama.
2)
Para penganut atau pemimpin atau pemuka agama,
yakni sikap, perilaku dan penghayatan para penganutnya.
3)
Ritus, lembaga dan ibadat, seperti shalat, haji,
puasa, perkawinan dan waris.
4)
Alat-alat seperti masjid, gereja, lonceng, peci
dan semacamnya.
5)
Organisasi keagamaan tempat para penganut agama
berkumpul dan berperan, seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Gereja
Protestan, Syi’ah dan lain-lain.
c.
Ada 4 ciri
fundamental cara kerja pendekatan antropologi terhadap agama, yaitu :
1.
Bercorak descriptive, bukannya normative.
2.
Yang terpokok dilihat
oleh pendekatan antropologi adalah local practices , yaitu
praktik konkrit dan nyata di lapangan.
3.
Antropologi selalu mencari keterhubungan dan keterkaitan antar berbagai
domain kehidupan secara lebih utuh (connections across social
domains).
4.
, artinya studi dan pendekatan antropologi memerlukan perbandingan dari berbagai
tradisi, sosial, budaya dan agama-agama.
d.
Ada empat hal yang harus diperhatikan dan
diperjelas dalam rancangan penelitian dengan menggunakan
pendekatan antropologi, yaitu: rumusan masalah, arti penting
penelitian, metode penelitian dan literatur yang digunakan.
e.
Pendekatan
antropologi sangat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama, karena dalam ajaran
agama banyak informasi dan uraian yang dapat dijelaskan melalui ilmu
antropologi dengan cabang-cabangnya.
[1]
Dr. Faisar Ananda Arfa, Ma dkk, Metode studi islam, jalan tengah memahami
islam,(depok : Rajawali pers, agustus 2015) hal 153
[2]
Daniel L. Pals (ed), Seven
Theories of Religion, (New York: Oxford University Press, 1996), hlm. 1.
[3]
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Ed. Revisi, (Jakarta: Rajawali
Pres, 2012), h. 27-28.
[4]
Muhyar Fanani, Metode
Studi Islam, Aplikasi Sosiologi Pengetahuan Sebagai Cara Pandang, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008) hlm.20
[6] Atang Abd.Hakim & DR. Jaih
Mubarok. Metode Studi Islam.(Bandung: Remaja Rosda Karya 2009). hlm 5
[8]
Wawan, Definisi
antropologi, lihat di http://wawan-satu.blogspot.com/2011/11/definisi-antropologi.html, diakses tanggal 11 November 2015 jam 10.00
[9] M. Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam
dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998).
[10]
Abd. Shomad dalam M. Amin Abdullah, dkk., Metodologi
Penelitian Agama, Pendekatan Multidisipliner, (Yogyakarta: Lembaga
Penelitian UIN Sunan Kalijaga, 2006).
[11] Artikata.com,Definisi'antropologi', lihat di http://www.artikata.com/arti-319317-antropologi.html, diakses tanggal senin, 8 November 2015 jam 12.30
[13] M. Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam
dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), h. 15.
No comments:
Post a Comment