Translate

Monday, November 23, 2015

PENDEKATAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI DALAM ISLAM



BAB I
Pendahuluan
          Secara sederhana sosiologi dipahami sebagai suatu disiplin ilmu tentang keadaan masyarakat lengakap dengan struktur, lapisan, serta berbagai gejala social yang saling berhubungan. Dalam sejarah perkembangannya maka sosiologi termasuk kedalam disiplin ilmu yang masih muda usianya (dalam perspektif barat)[1]
                      Berawal dari Ibn Khaldun, dengan konsep pemikirannya yang sudah mengurus kepada pemahaman terhadap gejala social yang berkembang di daerah Arab dan beberapa daerah lain sekitarnya, menyusul kemudian comte dengan objek pengamatan yang sama(yaitu, masyarakat), dan diteliti dengan metode ilmiah. Akhirnya di tangan comte lahir suatu cabang ilmu yang diperkenalkannya dengan nama “sosiologi”.
          Dalam buku Seven Theories of Religion, Daniel L. Pals[2] menyatakan bahwa pada awalnya orang Eropa menolak anggapan adanya kemungkinan meneliti agama, sebab antara ilmu dan nilai, antara ilmu dan agama tidak bisa disinkronkan. Kasus seperti ini juga terjadi di Indonesia pada awal tahun 70-an, di mana penelitian agama masih dianggap sesuatu yang tabu. Kebanyakan orang berkata: mengapa agama yang sudah begitu mapan mau diteliti, agama adalah wahyu Allah yang tidak bisa diutak-atik lagi.
          Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya, Al-Quran dan Al-Hadis, tampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti-feodalistik, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia dan bersikap positif lainnya.


BAB II
Pembahasan
1.      Pendekatan Sosiologi

          Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yamng menguasai hidupnya. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara yang terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup itu serta pula kepercayaannya, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan hidup manusia.
          Yang dimaksud dengan pendekatan disini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hubungan ini, Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa agama dapat diteliti dengan menggunakan berbagai paradigma. Realitas keagamaan yang diungkapkan mempunyai realitas kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya. Karena itu, tidak ada persoalan apakah penelitian agama itu penelitian ilmu sosial, penelitian legalistik atau penelitian filosofis.[3]
          Harus ditegaskan disini bahwa orang yang pertama kali menggagas sekaligus memperaktikkan sosiologi sebagai sebuah disiplin ilmu baru yang mandiri adalah Ibn Khaldun. Namun, sebagian besar sosiolog memandang kontribusi Ibn Khaldun begitu kecil dalam sosiologi. Mereka lebih mengakui Karl Max dan August Comte sebagai seorang yang yang paling berjasa bagi disiplin ilmu sosiologi[4].
          Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Ungkapan ini dipublikasikan diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul "Cours De Philosophie Positive" karangan August Comte (1798-1857). Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial yakni mengandung cara-cara bertindak, berfikir, berperasaan yang berada di luar  individu. Walaupun banyak definisi tentang sosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Sosiologi mempelajari masyarakat meliputi gejala-gejala social, struktur sosial, perubahan sosial dan jaringan hubungan atau interaksi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.

          Pendekatan sosiologis dibedakan dari pendekatan studi agama lainnya karena fokus perhatiannya pada interaksi antara agama dan masyarakat. Teori sosiologis tentang watak agama serta kedudukan dan signifikansinya dalam dunia sosial, mendorong di tetapkannya serangkaian kategori-kategori sosiologis, meliputi:
a.              Stratifikasi sosial, seperti kelas dan etnisitas
b.              Kategori bisosial, seperti seks, gender perkawinan, keluarga masa kanak-kanak dan usia
c.              Pola organisasi sosial, meliputi politik, produksi ekonomis, sistem-sistem pertukaran dan birokrasi.
d.             Proses sosial, seperti formasi batas, relasi intergroup, interaksi personal, penyimpangan, dan globalisasi[5].
Dalam Al-Quran terdapat tuntunan yang banyak membicarakan realitas tertinggi yang menunjukkan bahwa ia, secara filosofis, tidak menerima selainnya. Namun disisi lain (sosiologis), ia juga dengan sangat toleran menerima kehadiran keyakinan lain (lakum dinukum waliya din)[6].

Contoh Penelitian yang Menggunakan Pendekatan Sosiologi
Satu contoh penelitian yang menggunakan pendekatan sosiologi, seperti yang dijelaskan Atho Mudzhar tentang Mesjid dan Bakul Keramat: Konflik dan Integrasi dalam Masyarakat Bugis Amparita. Judul tersebut diteliti dengan menggunakan metode grounded research. Penelitian ini mempelajari bagaimana tiga kelompok keagamaan di mana orang-orang Islam, orang-orang Towano Tolitang, dan orang-orang Tolitang Benteng di desa Amparita Sulawesi Selatan, berinteraksi satu sama lain, kadang dalam bentuk konflik, terkadang kerjasama, dan terkadang juga dalam bentuk integrasi[7].
          Selanjutnya, sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama, hal dimikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi. Dalam agama islam dapat dijumpai peristiwa nabi yusuf yang dahulu budak lalu akhirnya bisa jadi penguasa di mesir. Mengapa dalam melaksanakan tugasnya Nabi Musa harus dibantu oleh Nabi harun, dan masih banyak lagi contoh yang lain.
Beberapa peristiwa tersebut baru dapat dijawab dan sekaligus dapat ditemukan hikmahnya dengan bantuan ilmu social. Tanpa ilmu social peristiwa peristiwa tersebut sulit dijelaskan dan sulit pula dipahami maksudnya. Disinilah letaknya sosiologi sebagai salah satu alat dalam memahami ajaran agama.
Pentingnya pendekatan sosiologi dalam memahami agama sebagai mana disebutkan di atas, dapat dipahami, karena banyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah social. Besarnya perhatian agama terhadap masalah social ini selanjutnya mendorong kaum agama memahami ilmu-ilmu social sebagai alat untuk memahami agamanya. Dalam bukunya berjudul islam Alternatif, Jalaludin Rahmat telah menunjukkan betapa besarnya perhatian agama yang dalam hal ini islam terhadap masalah social, dengan mengajukan Lima alasan sebagai berikut[8]:

1.         Dalam Alqur'an atau kitab-kitab hadits, proporsi terbesar kedua sumber hukum islam itu berkenaan dengan urusan mu'amalah. Menurut Ayatullah Khomaeni dalm bukunya Al-Hukumah Al Islamiyah yang di kutip Jalaluddin Rahmat, dikemukakan bahwa perbandingan antara ayat-ayat  ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan social adalah satu berbanding seratus untuk satu ayat ibadah, ada seratus ayat mu'amalah (masalah social). Cirri-ciri orang mukmin sebagaimana disebutkan dalam surat Al Mukminun ayat 1-9 misalnya adalah orang yang salatnya khusyu' menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat, menjaga amanat dan janjiannya dan dapat menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat.

2.         Bahwa ditekannya masalah muamalah (social) dalam islam ialah adanya kenyataan bahwa bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan (tentu bukan ditinggalkan), melainkan dengan tetap dikerjakan sebagaimana mestinya.
3.               Bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar dari pada ibadah yang bersifat perseorangan. Karena itu sholat yang dilakukan secara berjamaah dinilai lebih tinggi nilainya dari pada salat yang dikerjakan sendirian (munfarid) dengan ukuran satu berbanding dua puluh derajat.

4.              Dalam islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka kifaratnya (tebusannya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah social. Bila puasa tidak mampu dilakukan misalnya, jalan keluarnya adalah dengan membayar fidyah dalam bentuk memberi makan bagi orang miskin. Dalam hadis qudsi dinyatakan bahwa salah satu tanda orang yang diterima salatnya ialah orang yang menyantuni orang-orang yang lemah, menyayangi orang miskin, anak yatim,janda dan yang mendapat musibah.
5.              Dalam islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar dari pada ibadah sunnah. Dalam hubungan ini kita misalnya membaca hadist yang artinya sebagai berikut:
·  orang yang bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang miskin, adalah seperti pejuang dijalan Allah (atau aku kira beliau berkata) dan seperti orang yang terus menerus salat malam dan terus menerus berpuasa (HR Bukhori Dan Muslim)
·  Dalam hadistnya yang lain, Rasulullah Saw. Menyatakan sebagai berikut: " Maukah kamu aku beritahukan derajat apa yang lebih utama dari pada salat, puasa dan Shodaqah (sahabat menjawab), tentu. Yaitu mendamaikan dua pihak yang bertengkar." (HR Abu Daud Turmudzi dan Ibnu Hibban)
          Melalui pendekatan sosiologis agama akan dapat dipahami dengan mudah, karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan social. Dalam al qur'an misalnya kita jumpai ayat-ayat berkenaan dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya, sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kemakmuran suatu bangsa dan sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kesengsaraan. Semua itu jelas baru dapat dijelaskan apabila yang memahaminya mengetahui sejarah social pada saat ajaran agama itu diturunkan.[9]

A.            Bidang Kajian Sosiologi Pendidikan Islam

Masalah-masalah yang diselidiki sosiologi pendidikan atau bidang kajian sosiologi pendidikan meliputi pokok-pokok antara lain:
1.      Hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat,yang meliputi:
·         Fungsi pendidikan dalam kebudayaan
·         Hubungan antara sistem pendidikan dengan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan
·         Fungsi sistem pendidikan dalam proses perubahan sosial dan kultural, atau usaha mempertahankan status quo
·         Hubungan pendidikan dengan sistem tingkat/status sosial
·         Fungsi sistem pendidikan formal bertalian dengan kelompok rasial, kultural, dan sebagainya

2.      Hubungan antar manusia di dalam sekolah, dalam hal ini yang menjadi kajian yaitu menganalisis   struktur sosial di dalam sekolah. Pola kebudayaan di dalam sistem sekolah berbeda dengan apa yang terdapat di dalam masyarakat di luar sekolah. Bidang yang dapat dipelajari antara lain:
·         Hakikat kebudayaan sekolah, sejauh ada perbedaannya dengan kebudayaan di luar sekolah
·         Pola interaksi sosial atau struktur masyarakat sekolah, yang meliputi berbagai hubungan antara berbagai unsur di sekolah, kepemimpinan dan hubungan kekuasaan, stratifikasi sosial dan pola interaksi informal                                                                                                       
.Pengaruh sekolah terhadap kelakuan dan kepribadian semua pihak di sekolah, jadi yang diutamakan adalah aspek proses pendidikan itu sendiri, bagaimana pengaruh sekolah terhadap murid. Seperti peranan sosial guru, hakikat kepribadian guru, pengaruh kepribadian guru terhadap kelakuan anak, dan fungsi sekolah dalam sosialisasi murid.
3.      Sekolah dalam masyarakat, yaitu menganalisis pola interaksi sekolah dengan kelompok sosial dalam masyarakat di sekitarnya, meliputi:
·         Pengaruh masyarakat atas organisasi sekolah
·         Analisis proses pendidikan yang terdapat dalam sistem-sistem sosial dalam masyarakat luar sekolah    
·         Hubungan antara sekolah dan masyarakat dalam pelaksanaan pendidikan
·         Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam masyarakat yang bertalian dengan organisasi sekolah, yang perlu untuk memahami sistem pendidikan dalam masyarakat serta integrasinya di dalam keseluruhan kehidupan masyarakat.[10]

B.            Pendekatan dalam Kajian Sosiologi Pendidikan Islam
Dalam kajian Sosiologi Pendidikan, kita akan menggunakan beberapa pendekatan (Approach) yaitu:
1.              Pendekatan Indvidu (The Individu Approach)
            Yaitu pendekatan yang memperhatikan faktor individu secara utuh meliputi watak, intelegensi, psikologi, dan kemampun psikomotorik. Untuk dapat mengerti tata kehidupan masyarakat (kelompok) perlu dibahas tata kehidupan individu yang menjadi pembentuk mayarakat itu, jikalau kita dapat memahami tingkah laku individu satu persatu bagaimana cara berfikirnya, perasaannya, kemampuannya, perbuatnnya, sikapnya dan sebagainya atau tegasnya watak individu, bagaimana mefasilitasi individu, begitulah seterusnya. Maka akhirnya dapat dimengerti bagaimana kelompok (masyarakat), dilihat dari tingkah laku masyarakat seluruhnya sampai pada tingkah laku Negara ( misalnya kepribadian Negara).
Individu sebagai titik tolak ditentukan atau di pengaruhi oleh dua macam faktor intern dan extern. Faktor intern meliputi faktor-faktor biologis dan psikologis, sedangkan faktor extern mencakup faktor-faktor lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Maka didalam approach individu menitik beratkan kepada faktor-faktor biologis dan psikologis yang mendeterminir tingkah laku seseorang. Kedua faktor itulah yang primer sedangkan faktor lingkungan sekitar fisik dan sosial merupakan faktor sekunder.

2.              Pedekatan Sosial (The Sosial Approach)

          Yaitu pendekatan yang memperhatikan faktor lingkungan sebagai lingkungan tinggal induvidu dalam perkembangannya. Titik pangkal dari Approach Sosial ialah masyarakat dengan berbagai lembaganya, kelompok-kelompok dengan berbagai aktivitas. Secara konkrit Approach Sosial ini membahas aspek-aspek atau komponen dari pada kebudayaan manusia, misalnya keluarga, tradisi, adat istiadat, moralitas, norma-norma sosialnya dan sebagainya. Tingkah laku individu dapat dipahami dengan memahami tingkah laku masyarakatnya. Misalnya, pada waktu lahir dengan pertolongan bidan, atau dukun bayi, upacara-upacara yang dilakukan untuk si bayi, apabila anak sudah mulai bicara diajar tatakrama keluarga dan masyarakat. Misalnya bagimana cara makan dan minum, bagaimana cara berpakain dan sebagainya. Semua menjalankan bahwa generasi muda harus bertingkah laku sesuai dengan pola tingkah laku yang dikehendaki oleh masyrakat atau dengan perkataan lain di kondisikan oleh kebudayaan masyarakat. Jadi kalau masyarakat mengizinkan perkawinan poligami maka individu-individunya juga berpoligami.
          Approach Sosial tentulah mempunyai kelemahan, sebab betapapun homogennya suatu masyarakat, betapa kuatnya tata cara di situ masih juga kita dapati individualitas jadi anggota masyarakat, artinya ciri-ciri tingkah laku manusia perseorangan masih dapat dilihat juga. Mengapa demikian karena tiap-tiap individu mempunyai watak dan kepribadiannya masing-masing, individualitas manusia tetap masih ada tidak jarang juga kesegeraman tingkah laku pada masyarakat-masyarakat yang kuat tata caranya dianggap sebagai paksaan terhadap individu-individunya, mereka merasa kurang bebas, mereka ingin keluar dari belenggu adat istiadat masyarakat.
Jadi pendekatan sosial ini titik beratnya terletak pada masyarakat dan pengaruh geografis jadi tingkah laku manusia itu ditentukan oleh faktor fisik dan kultural. Jadi dengan demikian, maka bertitik pangkal kepada berbagai individu yang berinteraksi, dan dengan interksi sosial itu akan menunjukkan segi sosialnya makluk manusia, sudah barang tentu dalam hal ini manusia selalu mengadakan penyesuain diri dengan lingkungannya.



3.              Pendekatan Interksi (The Intraction approach)

          Yaitu pendekatan dengan memperhatikan pola hubungan antara individu dalam lingkungannya. Di dalam pendekatan interaksional kita memperhatikan faktor-faktor individu dan sosial. Dimana individu dan masyarakat saling mempengaruhi dalam hubungan timbal balik antara individu dan masyarakat. Yang mana interaksi yang terjadi mempunyai kekuatan saling membentuk dan mempengaruhi dalam rangka saling menyempurnakan. Approach Individu memberi dasar adanya individualitas watak dan kepribadian individu-individu perseorangan sedangkan approach sosial terutama dengan studi sosiologinya memberi landasan arah dan perkembanagan watak dan kepribadian individu-individu dalam kontak dengan individu individu lainya, kontak antara masyarakat satu dengan yang lain, kontak antara negara satu dengan negara yang lain. Studi Sosiologi menegaskan setiap individu itu dilahirkan dan dibesarkan oleh masyarakat serta individu-individu itu dalam hidupnya di masyarakat selalu mengidentifikasikan dirinya dengan pola tingkah laku dan kebudayaan masyarakat.
Dan situasi Interaksi adalah situasi hubungan sosial. Maka dapat dikatakan bahwa manusia itu memasyarakatkan diri, atau dengan perkataan lain manusia membudayakan diri, dan permasyarakatan pembudayaan ini tidak akan habis-habisnya sampai akhir zaman.
Macam-macam Interaksi Sosial:
1.              Dilihat dari sudut subjeknya, ada tiga macam Interaksi Sosial yaitu:
·  Interaksi antara orang perorangan
·  Interaksi antar orang dengan kelompoknya dan sebaiknya
·  Interaksi antar kelompok
2.              Dilihat dari segi caranya, ada dua macam interksi sosial:
·  Interksi langsung (Dirrect Interction) yaitu interaksi fisik, seperi berkelahi, hubungan seks/kelamin dan sebagainya.
·  Interksi simbolik (Symbolik Interaction), yaitu interakasi dengan mempergunakan bahasa (lisan/tertulis) dan simbol-simbol lain (isyarat) dan lain sebagainya.
3.              Menurut bentuknya, Selo Sumardjan membagi interaksi menjadi empat, yaitu:
·  Kerjasama (coopertion)
·  Persaingan (competition)
·   Pertikaian (conflict)
·   Akomodasi (accomodation) yaitu bentuk penyelesaian dari pertikaian           
Masyarakat indonesia termasuk tipe masyarakat kooperatif, dengan cirinya yang khas yaitu “Gotong Royong”.
4.              Kontribusi Sosiologi Terhadap Pendidikan Agama Islam……………..
          Pendidikan agama Islam merupakan hal yang mesti ada dalam masyarakat, secara umum pendidikan mempersiapkan peserta didik agar menjadi pribadi yang baik sehingga mempunyai kemampuan untuk terjun mengamalkan ilmu yang diperolehnya ketika kelak terjun di masyarakat. Pendidikan mempunyai peran aktif dalam menciptakan generasi yang mampu berinteraksi sosial dengan baik, sebaliknya sosiologi memberikan informasi ke dalam dunia pendidikan tentang nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Pendidikan Agama Islam mengenalkan kepada peserta didik tentang nilai-nilai yang terdapat dalam Agama Islam agar kelak ilmu yang dimiliki dan kemudian diamalkan mempunyai dasar keagamaan, dengan kata lain ilmu bisa dimanfaatkan sesuai dengan koridor agama dan tidak menyimpang
           Pendidikan bisa dianggap berhasil ketika peserta didik mempunyai kemampuan dan potensi untuk dimanfaatkan oleh dirinya, masyarakat, agama, bangsa, dan negara. Di sinilah letak hubungan fungsionalitas antar pendidikan dengan sosiologi, karena sosiologi membahas tentang interaksi sosial di masyarakat. Keberhasilan dalam pendidikan agama Islam tidak hanya bisa ditentukan dengan struktur (nilai ulangan harian, UTS, UAS, dll) melainkan lebih ditentukan oleh kehidupan interaksi social sehari-hari yang terjadi di sekolah, baik antar masyarakat sekolah (guru, peserta didik, karyawan, dll) maupun antara sekolah dengan masyarakat sekitar
              Keberhasilan pendidikan terkadang lebih ditentukan kreativitas dari masing-masing aktor dalam masyarakat. Kebiasaan yang dilakukan. Komunitas yang digelutinya. Aktivitas yang ditekuni seseorang. Karenanya, ‘sukses’ melalui pendidikan menjadi sangat relatif, ukurannya tidak hanya sebatas dilihat dari nilai yang bagus. Pendidikan membawa pengaruh positif ketika peserta didik ingin bermasyarakat, sebagaimana lingkungan sosial menjadi faktor penting dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan. Demikian juga halnya dengan pendidikan Agama Islam, sukses belajar agama Islam bukan dilihat dari nilai-nilai struktural, akan tetapi sejauh mana agama Islam diamalkan dalam kehidupan sehari-hari ketika peserta didik terjun ke kehidupan nyata di masyarakat.
…… Selama hidup, kita senantiasa berinteraksi dengan orang lain dan dalam berinteraksi itu kadang-kadang timbul konflik. Oleh karena itu, sosiologi sebenarnya berbicara mengenai kita dan masyarakat dimana kita hidup dan berinteraksi.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kontribusi sosiologi terhadap pendidikan agama Islam sebagai berikut:
a.    Mengenalkan kepada peserta didik sebagai sosok individu muslim yang hidup di tengah-tengah masyarakat.
b.    Sosiologi mengenalkan kepada peserta didik muslim tentang masyarakat prural yang ada di masyarakat, bahwa terdapat kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda dengan agama yang dianut.
c.    Sosiologi mengajarkan peserta didik bahwa dengan perbedaan itu bukan pemicu konflik, melainkan keragaman budaya yang mesti ada, dengan keragaman budaya tersebut justru menjadi pemicu untuk mengembangkan potensi yang ada. Dengan bantuan sosiologi, kita akan semakin memahami pula norma, tradisi, keyakinan, pranata sosial dan nilai-nilai keagamaan yang dianut oleh masyarakat lain dan memahami perbedaan-perbedaan yang ada tanpa hal itu menjadi alasan untuk timbulnya konflik diantara anggota masyarakat yang berbeda.
d.   Sebagai generasi penerus bangsa dan pemeluk agama Islam yang taat, maka peserta didik dituntut untuk lebih peka terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat, kritis terhadap gejala sosial yang dewasa ini makin pelik, serta mampu mengambil langkah dan tindakan yang tepat untuk pemecahan masalah. Hal ini akan sulit tercapai jika kita hanya mempelajari agama tanpa mempelajari keadaan sosial masyarakat.
e.    Dengan mempelajari sosiologi maka kita bisa mencari solusi-solusi tepat agar agama dapat di terima oleh masyarakat.
f.  Kebijakan-kebijakan pemerintah tentang agama haruslah berdasarkan data sosial yang ada untuk kemudian menjadi salah satu bahan referensi utama dalam pembuatan kurikulum pendidikan Agama Islam.
          Dalam pengertian sederhana, sosiologi pendidikan memuat analisis-analisis ilmiah tentang proses interaksi sosial yang terkait dengan aktivitas pendidikan baik dari lingkup keluarga, kehidupan sosio-kultur masyarakat maupun di tingkat nasional. Sehingga dari sini bisa di dapat sebuah gambaran objektif tentang relasi-relasi sosial yang menyusun konstruksi total realitas pendidikan di negara kita. Sampai pada pemahaman tersebut segala bentuk wawasan dan pengetahuan sosiologis guna membedah tubuh pendidikan kita menjadi perlu untuk dibahas agar proses-proses pengajaran tidak bisa ke arah yang kurang relevan dengan kebutuhan bangsa.
            Di sisi lain, jika perhatian kita tertuju pada lembaran sejarah perkembangan pendidikan masyarakat Indonesia, produk kemajuan sosial, meningkatnya taraf hidup rakyat, akselerasi perkembangan ilmu pengetahuan dan penerapan inovasi teknologi merupakan bagian dari prestasi gemilang hasil jerih payah lembaga pendidikan kita dalam upaya memajukan kehidupan bangsa Indonesia. Meningkatnya jumlah kaum terpelajar telah menjadi bahan bakar lajunya lokomotif kemajuan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Akan tetapi, beberapa kendala yang melingkari dunia pendidikan dalam kaitan dengan menurunnya kualitas output pendidikan kita menjadi bukti bahwa dunia pendidikan di Indonesia telah mengalami banyak perbaikan.
               Sosiologi pendidikan didasarkan atas landasan teoritis disiplin induknya yang berubah-ubah. Sosiologi pendidikan yang baik akan mencerminkan tiga aspek yaitu pertama“ imajinasi sosiologis” yaitu historis, struktural dan biografis yang oleh Mills diidentifikasikan sebagai bagian terpenting dari suatu imu sosial. Faktor kedua, perkembangan studi “akademik” pendidikan, dan dengan demikian tumbuhlah ilmu-ilmu sosial dasar yang menopangnya, yakni sosiologi, psikologi, filsaafat, dan sejarah. Dari sini lahirlah permintaan-permintaan akan tenaga sosiolog untuk ikut mengajar pada program-program studi akademis ini, selanjutnya perkembangan ini merangsang pula departemen-departemen pendidikan di universitas-universitas untuk menyelenggarakan program-program diploma dan program gelar lainnya yang lebih tinggi guna menghasilkan tenaga-tenaga yang dibutuhkan.
           Faktor ketiga, merupakan akibat dari perubahan suasana mental (mood). contohnya perencanaan pendidikan di penghujung tahun-tahun 1960-an dari “optimisme” ke “pesimisme”. Pertengahan tahun-tahun 1960-an merupakan tahun-tahun perkembangan yang luar biasa, para mahasiswa melimpah-ruah, perekonomian melaju naik dan pembaruan dianggap dapat diraih melalui proses politik yang ada.



2.      Pendekatan Antropologi

             Pendekatan ini dapat diartikan sebagai salah satu upaya dalam memahamai agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui perndekatan ini agama tampak lebih akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. 1.    Pengertian antropologi
Antropologi berasal dari kata anthropos yang berarti "manusia", dan logos yang berarti ilmu.  Kata antropologi dalam bahasa Inggris yaitu anthropology” yang didefinisikan sebagai the social science that studies the origins and social relationships of human beings atau the science of the structure and functions of the human body.[11] yaitu (ilmu sosial yang mempelajari asal-usul dan hubungan sosial manusia atau Ilmu tentang struktur dan fungsi tubuh manusia). Antropologi juga bisa diartikan sebagai ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau. Menurut Koentjaraningrat antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan. Dari beberapa pengertian seperti yang telah dikemukakan, dapat disusun suatu pengertian yang sederhana bahwa antropologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkannya, sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.
Islam adalah agama samawi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Islam tidak hanya diperuntukkan kepada Nabi Saw, tetapi juga untuk umatnya (manusia). Supaya Islam dapat diterima dan ajarannya dipahami serta dilaksanakan oleh umat manusia, maka didalam penyampaiannya harus menggunakan pendekatan atau metodologi yang pas dan sesuai. Jika tidak, maka dikhawatirkan dalam waktu yang tidak lama Islam hanya tinggal namanya saja.  Hal ini perlu disadari oleh para ilmuwan muslim. Dan karena agama itu sangat erat hubungannya dengan manusia, maka pendekatan antropologi sangat penting untuk diterapkan didalam studi Islam.
Pendekatan antropologi dapat diartikan sebagai suatu sudut pandang atau cara melihat dan memperlakukan sesuatu gejala yang menjadi per­hatian terkait bentuk fisik dan kebudayaan sebagai hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia.

Dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik golongan masyarakat yang kurang mampu pada umumnya lebih tertarik kepada gerakan-gerakan keagamaan yang mesianis, yang menjanjikan perubahan tatanan sosial masyarakat. Sedangkan golongan orang yang kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi lantaran tatanan itu menguntungkan pihaknya.
Melalui pendekatan antropologi sosok agama yang berada pada daratan empiric akan dapat dilihat serat-seratnya dan latar belakang mengapa ajaran agama tersebut muncul dan dirumuskan. Antropologi berupaya melihat hubungan antara agama dengan berbagai pranata yang terjadi dimasyarakat[12].
Dalam pendekatan ini kita melihat bahwa agama ternyata berkorelasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini, jika ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang maka dapat dilakukan dengan cara mengubah pandangan keagamaan. Selanjutnya melalui pendekatan antropologis ini, kita dapat melihat agama dalam hubungannya dengan mekanisme pengorganisasian.

A.    Obyek kajian dalam Pendekatan antropologi
Ditinjau dari pengertian antropologi tersebut, obyek kajian dalam antropologi mencakup 2 (dua) hal yaitu :
1.        Keanekaragaman bentuk fisik manusia.
2.        Keanekaragaman budaya/kebudayaan sebagai hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia.

          Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang mengatakan bahwa secara umum obyek kajian antropologi dapat dibagi menjadi dua bidang, yaitu antropologi fisik yang mengkaji makhluk manusia sebagai organisme biologis, dan antropologi budaya dengan tiga cabangnya: arkeologi, linguistik dan etnografi. Meski antropologi fisik menyibukan diri dalam usahanya melacak asal usul nenek moyang manusia serta memusatkan studi terhadap variasi umat manusia, tetapi pekerjaan para ahli di bidang ini sesungguhnya menyediakan kerangka yang diperlukan oleh antropologi budaya. Sebab tidak ada kebudayaan tanpa manusia.
Jika budaya tersebut dikaitkan dengan agama, maka agama yang dipelajari adalah agama sebagai fenomena budaya, bukan ajaran agama yang datang dari Allah. Antropologi tidak membahas salah benarnya suatu agama dan segenap perangkatnya, seperti kepercayaan, ritual dan kepercayaan kepada yang sakral,[13]  wilayah antropologi hanya terbatas pada kajian terhadap fenomena yang muncul. Menurut Atho Mudzhar, ada lima fenomena agama yang dapat dikaji, yaitu:
1.        Scripture atau naskah atau sumber ajaran dan simbol agama.
   2.        Para penganut atau pemimpin atau pemuka agama, yakni sikap, perilaku dan penghayatan
           para penganutnya.
3.        Ritus, lembaga dan ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan dan waris.
4.        Alat-alat seperti masjid, gereja, lonceng, peci dan semacamnya.
5.        Organisasi keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan berperan, seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Gereja Protestan, Syi’ah dan lain-lain.
Kelima obyek di atas dapat dikaji dengan pendekatan antropologi, karena kelima obyek tersebut memiliki unsur budaya dari hasil pikiran dan kreasi manusia.

B.     Pendekatan antropologi dalam studi Islam (agama)
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama nampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan dalam disiplin ilmu agama. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Dawam Raharjo, lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif. Dari sini timbul kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya induktif yang mengimbangi pendekatan deduktif sebagaimana digunakan dalam pengamatan sosiologis. Penelitian antropologis yang induktif dan grounded, yaitu turun ke lapangan tanpa berpijak pada, atau setidak-tidaknya dengan upaya membebaskan diri dari kungkungan teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak sebagaimana yang dilakukan di bidang sosiologi dan lebih-lebih ekonomi yang menggunakan model-model matematis, banyak juga memberi sumbangan kepada penelitian historis.
Penelitian antropologi agama harus dibedakan dari pendekatan-pendekatan lain. Para peneliti antropologi harus melakukan atau menawarkan sesuatu yang lain dari yang lain. Ia harus menimbulkan pertanyaan sendiri yang spesifik, berasal dari perspektif sendiri yang spesifik, dan mempraktekkan metode sendiri yang spesifik pula. Antropologi dapat dianggap sebagai ilmu keragaman manusia, dalam tubuh mereka dan perilaku mereka. Dengan demikian, antropologi agama akan menjadi penyelidikan scientific keragaman agama manusia. Sebagaimana ungkapan yang berbunyi :
The anthropological study of religion must be distinguished and  distinguishable from  these  other approaches in some meaningful ways; it must do or offer something that the others do not. It must raise its own specific questions, come  from its own specific perspective, and practice its own specific  method. Anthropology can best be thought of as the science  of the diversity of humans, in their bodies  and their behavior. Thus, the anthropology of religion will be the scien-tific investigation of the  diversity of human religions
Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya.

          Dengan demikian memahami Islam yang telah berproses dalam sejarah dan budaya tidak akan lengkap tanpa memahami manusia. Karena realitas keagamaan sesungguhnya adalah realitas kemanusiaan yang mengejawantah dalam dunia nyata. Terlebih dari itu, makna hakiki dari keberagamaan adalah terletak pada interpretasi dan pengamalan agama. Oleh karena itu, antropologi sangat diperlukan untuk memahami Islam, sebagai alat untuk memahami realitas kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikkan-Islam that is practised-yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagamaan manusia. Karena begitu pentingnya penggunaan pendekatan antropologi dalam studi Islam (agama), maka Amin Abdullah mengemukakan 4 ciri fundamental cara kerja pendekatan antropologi terhadap agama, yaitu :
1.        Bercorak descriptive, bukannya normative.
2.        Yang terpokok dilihat oleh pendekatan antropologi  adalah local practices , yaitu praktik konkrit dan nyata di lapangan.
3.        Antropologi selalu mencari keterhubungan dan keterkaitan antar berbagai domain kehidupan  secara lebih utuh (connections across social domains).
4.        Comparative, artinya studi dan pendekatan antropologi memerlukan perbandingan dari berbagai tradisi, sosial, budaya dan agama-agama.[14]

1.    Bercorak descriptive, bukannya normative.
          Pendekatan antropologi  bermula dan diawali dari kerja lapangan  (field work),  berhubungan  dengan orang, masyarakat, kelompok  setempat yang diamati  dan diobservasi dalam jangka waktu yang lama dan mendalam.  Inilah yang biasa disebut dengan  thick description (pengamatan dan observasi di lapangan yang dilakukan secara serius, terstuktur, mendalam dan berkesinambungan). 
Thick description dilakukan  dengan cara antara lain Living in , yaitu  hidup bersama masyarakat yang diteliti, mengikuti  ritme dan pola hidup sehari-hari mereka dalam waktu yang cukup lama. Bisa berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bisa bertahun-tahun, jika ingin memperoleh hasil yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkansecara akademik.  John R Bowen, misalnya, melakukan penelitian antropologi  masyrakat muslim Gayo,di  Sumatra, selama bertahun-tahun. Begitu juga dilakukan oleh para antropolog kenamaan yang lain, seperti Clifford Geertz.  Field note research (penelitian melalui pengumpulan catatan  lapangan) dan bukannya  studi teks atau pilologi seperti yang biasa dilakukan oleh para orientalis adalah andalan utama antropolog.

2.    Yang terpokok dilihat oleh pendekatan antropologi  adalah local practices , yaitu praktik konkrit dan nyata di lapangan.
Praktik hidup yang dilakukan sehari-hari,  agenda mingguan, bulanan dan tahunan, lebih -lebih ketika manusia melewati hari-hari  atau peristiwa-peristiwa penting dalam menjalani  kehidupan. Ritus-ritus atau amalan-amalan apa saja yang dilakukan untuk melewati peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan tersebut  (rites de pessages) ? Persitiwa  kelahiran, perkawinan, kematian, penguburan .  Apa yang dilakukan oleh manusia ketika menghadapi dan menjalani ritme kehidupan yang sangat penting tersebut?

3.              Antropologi selalu mencari keterhubungan dan keterkaitan antar berbagai domain kehidupan  secara lebih utuh (connections across social domains).
Bagaimana hubungan antara wilayah  ekonomi,  sosial, agama, budaya dan politik.  Kehidupan tidak dapat dipisah-pisah. Keutuhan dan kesalingterkaitan antar berbagai domain kehidupan manusia. Hampir-hampir tidak ada satu domain wilayah kehidupan yang dapat berdiri sendiri, terlepas dan  tanpa terkait dan terhubung dengan lainnya.

4.               Comparative
Studi dan pendekatan antropologi memerlukan perbandingan dari berbagai tradisi, sosial, budaya dan agama-agama.  Talal Asad menegaskan lagi disini bahwa “What is distinctive about modern anthropology is the comparisons of embedded concepts (representation) between societies differently located in time or space. The important thing in this comparative analysis is not their origin (Western or non-Western), but the forms of life that articulate them, the power they release or disable.” Setidaknya,  Cliffort Geertz pernah memberi contoh bagaimana dia membandingkan kehidupan Islam di Indonesia dan Marokko.  Bukan sekedar untuk mencari kesamaan dan perbedaan, tetapi yang terpokok adalah untuk memperkaya perspektif  dan memperdalam bobot kajian.  Dalam dunia global seperti saat sekarang ini, studi komparatif sangat membantu memberi perspektif baru  baik dari kalangan outsider maupun insider.
C.            Contoh Rancangan Penelitian yang Menggunakan Pendekatan Antropologi
Salah satu contoh penelitian yang akan dikemukakan pada bagian ini adalah runtuhnya Daulat Bani Umayah dan bangkitnya Daulat Bani Abasiyah. Untuk membahas topik ini, M. Atho Mudzhar menyarankan sedikitnya ada empat hal yang harus diperhatikan dan diperjelas dalam rancangan penelitian, yaitu: rumusan masalah, arti penting penelitian, metode penelitian dan literatur yang digunakan. Keempat hal tersebut akan dirincikan secara singkat sebagai berikut:
Pertama: rumusan masalahnya adalah faktor-faktor apa saja yang menyebabkan jatuhnya Bani Umayah dan bangkitnya Bani Abasiyah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, harus dirumuskan faktor penyebab runtuh atau bangkitnya dinasti, dan aspek apa saja yang akan dilihat.
Kedua: menjelaskan signifikasi penelitian, seperti menjelaskan maksud penelitian (sesuatu yang belum pernah diteliti atau dibahas sebelumnya) dan kontribusi apa yang diperoleh dari hasil penelitian setelah dilakukan nantinya.
Ketiga: metode yang akan digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian dengan merinci hal-hal seperti: bentuk dan sumber informasi serta cara mendapatkannya, memahami dan menganalisa informasi serta cara pemaparannya.
Keempat: melakukan telaah pustaka dan membuat rangkuman dari teori yang telah dipaparkan. Setelah itu, seorang peneliti harus mengetahui apa saja yang belum dibicarakan, dan dari sinilah akan diperoleh kontribusi dari hasil penemuan penelitian.

D.            Signifikasi Antropologi Sebagai Pendekatan Studi Islam
Dengan menggunakan pendekatan antropologis dalam memahami agama, ternyata banyak diketahui keterkaitan antara agama dan berbagai hal yang menyangkut manusia. Hal ini banyak diungkapkan oleh Abuddin Nata,[15] yaitu :
1.        Ditemukan adanya hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik, yang mana golongan masyarakat yang kurang mampu atau miskin lebih tertarik kepada gerakan-gerakan keagamaan yang bersifat mesianis yang menjanjikan perubahan tatanan sosial kemasyarakatan. Sedangkan golongan orang kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi lantaran tatanan itu menguntungkan pihaknya.
2.        Agama ternyata berkorelasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat.
3.        Agama mempunyai hubungan dengan mekanisme pengorganisasian dalam masyarakat, seperti penelitian yang dilakukan oleh Clifford Geert dalam bukunya The Religion of Java yang membagi klasifikasi sosial masyarakat Muslim di Jawa menjadi 3 yaitu santri, priyayi dan abangan.
4.        Melalui pendekatan antropologis fenomenologis terlihat adanya hubungan antara agama dan negara (state and religion). Seperti terjadi di Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam, tetapi menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal.
5.        Adanya keterkaitan antara agama dengan psikoterapi, seperti pendapat Segmund Freud yang menghubungkan agama dengan Oedipus Complex, yakni pengalaman infantil seorang anak yang tidak berdaya di hadapan kekuatan dan kekuasaan bapaknya.
Jadi jelas bahwa agama memang banyak berhubungan dengan berbagai masalah kehidupan manusia dan untuk mengetahui itu semua dibutuhkan pendekatan antropologi. Termasuk juga dibutuhkan dalam memahami ajaran agama, karena dalam ajaran agama banyak informasi dan uraian yang dapat dijelaskan melalui ilmu antropologi dengan cabang-cabangnya.


BAB III
Penutup
Kesimpulan
Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari manusia dan interaksi manusia dengan manusia lain,  interaksi seseorang induvidu dengan individu  yang  lain, atau individu dengan kelompok masyarakat, masyarakat dengan masyarakat, pemimpin dengan rakyat, rakyat dengan rakyat, organisasi dengan organisasi.
Melalui pendekatan ini kita dapat memahami bahwa agama islam mengatur segala berbagai hubungan, baik hubungan dengan Pencipta dan hubungan dengan sesama makhluk. Menjadikan sebuah tatakrama yang baik dan mengetahui bahwa gama islam diturunkan bukan hanya sekedar untuk menyembah Allah tetapi juga bagaimana kita berhubungan dengan sesama makhluk menjadi lebih baik.
Antropologi didefinisikan sebagai sebuah ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna, bentuk fisik, adat istiadat dan kepercayaannya pada masa lampau. Antropologi sebagai sebuah ilmu kemanusiaan sangat berguna untuk memberikan ruang studi yang lebih elegan dan luas. Sehingga nilai-nilai dan pesan keagamaan bisa disampaikan pada masyarakat yang heterogen.
a.              Antropologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkannya, sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.
b.              Ada 5 fenomena agama yang menjadi obyek kajian dalam Pendekatan antropologi, yaitu :
1)             Scripture atau naskah atau sumber ajaran dan simbol agama.
2)             Para penganut atau pemimpin atau pemuka agama, yakni sikap, perilaku dan penghayatan para penganutnya.
3)             Ritus, lembaga dan ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan dan waris.
4)             Alat-alat seperti masjid, gereja, lonceng, peci dan semacamnya.
5)             Organisasi keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan berperan, seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Gereja Protestan, Syi’ah dan lain-lain.
c.              Ada 4 ciri fundamental cara kerja pendekatan antropologi terhadap agama, yaitu :
1.              Bercorak descriptive, bukannya normative.
2.              Yang terpokok dilihat oleh pendekatan antropologi  adalah local practices , yaitu praktik konkrit dan nyata di lapangan.
3.              Antropologi selalu mencari keterhubungan dan keterkaitan antar berbagai domain kehidupan  secara lebih utuh (connections across social domains).
4.              , artinya studi dan pendekatan antropologi memerlukan perbandingan dari berbagai tradisi, sosial, budaya dan agama-agama.
d.             Ada empat hal yang harus diperhatikan dan diperjelas dalam rancangan penelitian dengan menggunakan pendekatan antropologi, yaitu: rumusan masalah, arti penting penelitian, metode penelitian dan literatur yang digunakan.
e.              Pendekatan antropologi sangat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama, karena dalam ajaran agama banyak informasi dan uraian yang dapat dijelaskan melalui ilmu antropologi dengan cabang-cabangnya.
  



[1] Dr. Faisar Ananda Arfa, Ma dkk, Metode studi islam, jalan tengah memahami islam,(depok : Rajawali pers, agustus 2015) hal 153
[2] Daniel L. Pals (ed), Seven Theories of Religion, (New York: Oxford University Press, 1996), hlm. 1.
[3] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Ed. Revisi, (Jakarta: Rajawali Pres, 2012), h. 27-28.
[4] Muhyar Fanani, Metode Studi Islam, Aplikasi Sosiologi Pengetahuan Sebagai Cara Pandang,   (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008) hlm.20
[5] Peter Conolly,  Aneka Pendekatan Studi Agama, (Yogyakarta: Lkis, 2002). hlm  283
[6] Atang  Abd.Hakim & DR. Jaih Mubarok. Metode Studi Islam.(Bandung: Remaja  Rosda Karya 2009). hlm 5
[7] Lihat lebih lengkapnya dalam M. Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam… hlm. 127-228.
[8] Wawan, Definisi antropologi, lihat di http://wawan-satu.blogspot.com/2011/11/definisi-antropologi.html, diakses tanggal 11 November 2015 jam 10.00
[9] M. Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998).

[10] Abd. Shomad dalam M. Amin Abdullah, dkk., Metodologi Penelitian Agama, Pendekatan Multidisipliner, (Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga, 2006).
[11] Artikata.com,Definisi'antropologi', lihat di http://www.artikata.com/arti-319317-antropologi.html, diakses tanggal senin, 8 November 2015 jam 12.30

[12] Abbudin  Nata, Metode Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada 2004) hlm.391
[13] M. Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), h. 15.

[14] Akbar S. Ahmad, Kearah Antropologi Islam, (Jakarta: Media Da’wah). Hal, 13

[15] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Ed. Revisi, (Jakarta: Rajawali Pres, 2012).hal 109

No comments: