MAKALAH
EKONOMI MAKRO ISLAM
ISLAMIC
GENERAL EQUILIBRIUM
D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
SRI
WAHYUNI

UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
FAKULTAS
EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
T.A
2016
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur marilah
kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT.Karena berkat rahmat dan hidayahnya
kami dapat menyelesaikan sebuah makalah yang berjudul “ ISLAMIC GENERAL EQUILIBRIUM”.
Shalawat beserta salam kita curahkan kepada Nabi junjungan alam yakni Nabi
Muhammad SAW. Karena perjuangan beliaulah kita dapat merasakan zaman sekarang
ini, yang dulunya zaman kegelapan menjadi zaman terang menderang seperti yang
kita rasakan pada saat ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masi jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kami sangat berterima kasih atas adanya kritik dan
saran demi kesempurnaan makalah ini. Dan
semoga makalah ini dapat
memberikan pengetahuan bagi siapapun terutama mahasiswa/I UINSU, dan juga
menambah wawasan dan manfaat bagi kita semua.
Medan, 12
oktober 2016
DAFTAR
ISI
Halaman judul…………………………………………………………….i
Kata pengantar……………………………………………………………ii
Daftar isi …………………………………………………………..iii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar
belakang………………………………………………….1
B. Rumusan
masalah………………………………………………2
C. Tujuan
………………………………………………………….3
BAB II PEMBAHASAN
A. Agregat
demand…………………………………………………4
B. Agregat supply………………………………………………….5
C. General
equilibrium……………………………………………..6
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN…………………………………………………7
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Masalah
ekonomi terletak pada persoalan sumber daya ekonomi dengan kebutuhan manusia,
bahwa secara keseluruhan tidak terjadi kesenjangan antara jumlah sumber daya
ekonomi dengan kebutuhan manusia artinya dengan keseimbangan (equilibrium).maka
pada sewaktu-waktu masalah ekonomi tetap akan dihadapi oleh manusia didunia ini.
Hal ini juga selaras dengan firman Allah SWT “dan sungguh akan kami berikan
cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan,kekurangan harta,jiwa dan
buah-buahan.dan berikanlah berita yang gembira bagi orang-orang yang sabar”.
Sementara pada sisi lain keinginan manusia secara relatif juga tidak terbatas,
artinya kalau sudah terpenuhi satu keinginan timbul keinginan lainnya demikian
seterusnya.
B. Rumusan
masalah
Adapun
rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa
yang dimaksud dengan general equilibrium
2. Apa
yang dimaksud dengan aggregate demand
3. Apakah
yang dimaksud dengan aggregate suplly ?
C. Tujuan
Adapaun
tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang:
-
General
equilibrium
-
Aggregate demand
-
Aggregate suplly
BAB II
PEMBAHASAN
A. Aggregat Demand (Permintaan agregat) [1]
Berbeda
dengan kurva agregat supply (AS)yang di turunkan daari keseimbangan di pasar
tenaga kerja, maka kurva AD di turunkan dari keseimbangan di pasar barang dan
pasar uang. Permintaan aggregat (aggregate demand,AD) adalah jumlah barang dan
jasa akhir yang dihasilkan dalam perekonomian yang diminta pada berbagai
tingkat harga.[1]
a. Keseimbangan pasar barang (Kurva IS)
Keseimbangan
di pasar barang terjadi jika uotput yang dihasilkan sama dengan jumlah
permintaan barang-barang konsumsi, investasi, dan juga belanja pemerintah.
Kurva I=S, I adalah Investasi, sedangkan S adalah saving.
Dalam
ekonomi mikro islam telah di jelaskan bahwa pendapatan yang di terima dapat di
gunakan sebagai konsumsi dan sebaagaian lagi dapat disimpan.Berikut adalah
persamaannya :
Y
= C +S
Y = pendapatan
C = konsumsi
S = simpanan
Bila
di asumsikan seluruh simpanan tersebut digunakan untuk investasi, maka:
S
= I
Y
= C + I
Keseimbangan
ini S = I digambarkan dengan kurva ber-slope positf. Bila S=10, I=10, S=50,
maka I=50
B. Aggregat Supply (Penawaran agregat)
Aggregat
Supply (Penawaran agregat) adalah hubungan antara jumlah barang dan jasa yang
ditawarkan dan tingkat harga. Penawaran
agregat meliputi pendapatan nasional atau barang dan jasa yang dikeluarkan di
dalam negeri ditambah dengan barang dan jasa yang diimpor.
Agregate
suplay adalah jumlah output yang akan diproduksi dan dijual oleh kalangan
bisnis pada harga yang berlaku, pada kapasitas produksi tertentu dan dengan
biaya-biaya tertentu. Pada umumnya
kalangan bisnis berkeinginan memproduksi
output potensialnya (bahwa output maksimum yang dapat dihasilkan
perekonomian tanpa menaikan laju inflasi adalah output potensial) namun apabila
tingkat harga dan tingkat pengeluaran rendah, produsen akan menghasilkan barang
dan jasa dalam jumlah yang kecil dari output potensialnya.
Sedangkan
pada periode dimana tingkat harga dan
dan permintaan sangat tinggi ,produsen bisa menghasilkan barang dan jasa yang
lebih besar dari output potensialnya untuk sementara. Bahwa dalam setiap
perekonomian yang merupakan perekonomian terbuka, penawaran agregat meliputi pendapatan nasional atau barang dan
jasa yang dikeluarkan dalam negeri, ditambah dengan barang dan jasa yang di
impor.[3]
a.
Kurva AS ber-slope Positif : Tanpa
Regiditas dan Rigiditas Gaji
Kurva
AS adalah berslope positif, seperti halnya kurva S dalam ekomomi mikro. Asumsi
yang digunakan dalam kurva AS yang berslope positif adalah:
1.
Harga-harga fleksibel, dapat turun atau dapat naik. Dengan kata lain tidak ada
rigiditas harga (kekakuan harga).
2. Gaji-gaji fleksibel, dapat turun atau dapat
naik. Dengan kata lain tidak ada rigiditas gaji (kekakuan).
3.
Perekonomian belum berada pada keadaan kapasitas penuh, sehingga setiap
kenaikan AD dapat dipenuhi oleh kapasitas produksi yang ada.
Pada
kenyataan tidak selamanya ketiga asumsi itu dapat terpenuhi. Alternatif lain
adalah dengan mengasumsikan rigiditas terjadi pada harga, bukan pada gaji.
Secara lengkap asumsi alternatif lain ini adalah:
1.
Pasar barang kompetitif, dan Harga-harga
tidak fleksibel (dapat naik dan dapat turun).
2.
Gaji-gaji tidak fleksibel. Dengan kata
lain ada rigiditas gaji (kekakuan gaji).
b.
Kurva AS ber-slop Horizontal: Rigiditas
Harga
Adapun
alternatif lain dari asumsi keynes adalah dengan mengmsusikan rigiditas pada
harga, bukan pada gaji. Secara lengkap asumsi alternatif ini adalah :
1. Harga-harga tidak fleksibel
2.
Pasar tenaga kerja kompetitif, dan gaji-gaji fleksibel. Dengan kata lain tidak
ada rigiditas gaji (kekuatan gaji).
c.
Kurva AS ber-slop Vertikal: Rigiditas
Output
Adapun
alternatif lain dengan mengasumsikan rigiditas terjadi pada output, bukan pada
gaji atau pada harga. Kurva AS mempunyai slope yang vertikal pada saat seluruh
kapasitas produksi perekonomian telah terpakai. Asumsi yang digunakan dalam
kurva AS yang berslope vertikal adalah :
1.
Perekonomian berada pada keadaan kapasitas penuh. Dengan kata lain, ada
rigiditas output
2.
Harga-harga fleksibel, dapat turun dapat naik. Dengan kata lain tidak ada
rigiditas harga (kekakuan harga).
Kurva
Penawaran agregatif dalam ekonomi Islam menggambarkan volume produk nasional
yang akan diproduksi pada tingkat harga yang berbeda-beda. Oleh karena dalam
ekonomi Islam tidak ada monopoli dalam setiap pasar (dan penguasa harus
memperhatikan hal ini), maka uang atau upah nominal yang harus dibayarkan
kepada pekerja adalah benar-benar sempurna fleksibel dapat bergerak ke atas dan
ke bawah, sebab penentuan apakah mereka bekerja atau tidak, didasarkan
semata-mata kepada upah nyata yang ditawarkan. Kurva penawaran agregatif (AS)
diturunkan dari keseimbangan kurva pasar tenaga kerja.
Dalam
Agregate suplay pasar tenaga kerja adalah keadaan dimana terdapat penawaran
tenaga kerja yang berasal dari angkatan kerja
dan permintaan tenaga kerja yang berasal dari peusahaan. Semakin tinggi
permintaan akan tenaga kerja, sedangkan penawaran tenaga kerja yang terbatas
akan berdampak pada naiknya upah, sebaliknya jika permintaan tenaga kerja
sedikit sedangkan penawaran tenaga kerja meningkat, maka upah akan turun.
Ada
dua hal yang penting dimiliki oleh kurva AS:
1. Output yang meningkat akan meningkatkan
harga. Hubungan ini dapat dilihat dari beberapa langkah, yaitu jika output meningkat, maka Y akan
meningkat. Selanjutnya jika N (tenaga kerja) meningkat maka penganguran akan
turun, selanjutnya akan meningkatkan upah, pada akhirnya meningkatkan tingkat
harga, sehingga secara singkat jika output meningkat maka tingkat harga secara
umum akan meningkat.
2. Harga yang meningkat tidak terlepas dari
adanya ekspektasi harga yang meningkat. Hal ini terjadi karena ekspentasi harga
yang mendorong meningkatnya upah dan akan meningkatkan tingkat harga.
C. General Equilibrium
Pemikiran
ekonomi Islam dari mazhab mainstream inilah yang paling banyak memberikan warna
dalam wacana ilmu ekonomi Islam sekarang karena kebanyakan tokoh-tokohnya dari
Islamic Development Bank (IDB) yang memiliki fasilitas dana dan jaringan
kerjasama dengan berbagai lembaga internasional. Tokoh-tokoh mazhab mainstream
antara lain adalah M. Umar Chapra, M.A Manna, Najatullah Siddiqi, Khurshid
Ahmad, Monzer Kahf. Berbeda dengan pendapat mazhab Baqir As-Sadr dimana mazhab
mainstream bisa membenarkan bahwa masalah ekonomi terletak pada persoalan
kelangkaan (scarcity) sumber daya ekonomi dibandingkan dengan kebutuhan
manusia. Menurut mazhab mainstrem bahwa memang secara keseluruhan tidak terjadi
kesenjangan antara jumlah sumber daya ekonomi dengan kebutuhan manusia artinya
ada keseimbangan (equilibrium). Namun secara relatif pada satu waktu tertentu
dan pada tempat tertentu tetap akan dijumpai persoalan kelangkaan tersebut.
Jadi kesimpulannya bahwa masalah ekonomi tetap dihadapi oleh manusia di dunia
ini. Hal ini juga selaras dengan firman Allah SWT “Dan sungguh akan kami
berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,
jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang
sabar”. Sementara pada sisi lain keinginan manusia secara relatif juga tidak
terbatas artinya kalau sudah terpenuhi satu keinginan timbul keinginan lainnya
demikian seterusnya. Keadaan ini dilukiskan dalam Al-Qur’an Bermegah-megahan
telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu,
kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatan itu) dan janganlah begitu, kelak
kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan
yang yakin niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahiim. Maksud
bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan
seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan. Jadi sampai di sini tidak ada
perbedaan antara ekonomi konvensional dengan ekonomi Islam.[4]
Perbedaannya
terletak pada mekanisme menyelesaikan masalah ekonomi. Menurut pandangan mazhab
mainstream bahwa penyelesaiannya masalah ekonomi tersebut harus merujuk pada
Al-Qur’an dan Assunnah. Sedangkan dalam pandangan kapitalisme klasik melalui
bekerjanya mekanisme pasar dan sosialisme klasik melalui sistem perencanaan
yang sentralistis. Karena sebagian besar dari tokoh mazhab mainstream ini
adalah alumni dari berbagai perguruan tinggi ternama di Amerika dan Eropa, maka
kontribusi yang signifikan dari para tokoh mazhab mainstream adalah mampu
menjelaskan fenomena ekonomi dalam bentuk model-model ekonomi yang canggih
dengan pendekatan ekonometri. Mereka sukses menjelaskan ekonomi Islam dengan
wajah ‘ilmu ekonomi’ sehingga mudah dipelajari dan enak dicerna bagi mereka
yang mempunyai latar belakang pendidikan ekonomi.
Mazhab
mainstream memiliki anggapan bahwa perbedaan utama antara ilmu ekonomi
konvensional dengan ekonomi islam adalah dalam hal cara mencapai tujuan. Mereka
menyetujui tentang pandangan konvensional bahwa masalah ekonomi muncul karena
adanya keterbatasan sumber daya ekonomi untuk memenuhi kebutuhan manusia yang
tidak terbatas. Dengan tetap memberikan pandangan kritis terhadap aspek-aspek
normative dalam ilmu ekonomi, mahzab mainstream memfokuskan pada cara mengelola
sumber daya yang terbatas dan keinginan manusia yangtidak terbatas. Sesuai
dengan namanya, maka mazhab mainstream mendominasi khasanah pemikiran ekonomi
islam dikarenakan pemikiran mereka lebih moderat serta ide-ide mereka banyak
ditampilkan dengan cara-cara ekonomi konvensional sehingga lebih mudah diterima
masyarakat. Selain itu kebanyakan tokoh merupakan staf, peneliti, penasehat,
atau setidaknya memiliki jaringan erat dengan lembaga-lembaga regional dan
internasional yang telah mapan sehingga dapat mensosialisasikan gagasan ekonomi
dengan baik.[5]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Aggregat
Supply (Penawaran agregat) adalah hubungan antara jumlah barang dan jasa yang
ditawarkan dan tingkat harga. Penawaran
agregat meliputi pendapatan nasional atau barang dan jasa yang dikeluarkan di
dalam negeri ditambah dengan barang dan jasa yang diimpor.
Aggregate
demand(Permintaan Agregat) adalah jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan
dalam perekonomian yang diminta pada berbagai tingkat harga.
DAFTAR
PUSTAKA
Huda,
Nurul. Ekonomi Makro Islam: Pendekatan Teoritis. 2008.Jakarta: Kencana
Karim,
adiwarman. Ekonomi Makro Islam. 2014. Jakarta. PT Rajagrafindo Persada
Sukirno,
Sadono. Makroekonomi Teori Pengantar. 2013. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
http://bit.ly/fxzulu,
diakses pada tanggal (13 Mei 2016, pukul
15: 45).
[1]
Adirwan Adiwarman. Ekonomi Makro Islam: Pendekatan Teoritis. (Jakarta: Kencana,
2008), h. 34
[2]
Nurul Huda, Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teorestis, (Jakarta: Kencana,
2009),h. 281
[3]
Nurul Huda, Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teorestis, (Jakarta: Kencana,
2009),h. 290
[4]
http://bit.ly/fxzulu, diakses pada
tanggal (12 Mei 2016, pukul 15: 45).
[5]
Nurul Huda, Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teorestis, (Jakarta: Kencana,
2009),h. 283.
No comments:
Post a Comment