Translate

Monday, September 25, 2017

makalah ekonomi mikro islam (islamic general eguilibrium)

MAKALAH EKONOMI MAKRO ISLAM
ISLAMIC GENERAL EQUILIBRIUM
D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
SRI WAHYUNI

uinsu.jpg
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
T.A 2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur marilah kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT.Karena berkat rahmat dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan sebuah makalah yang berjudul “ ISLAMIC GENERAL EQUILIBRIUM”. Shalawat beserta salam kita curahkan kepada Nabi junjungan alam yakni Nabi Muhammad SAW. Karena perjuangan beliaulah kita dapat merasakan zaman sekarang ini, yang dulunya zaman kegelapan menjadi zaman terang menderang seperti yang kita rasakan pada saat ini.
            Kami menyadari bahwa makalah ini masi jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami sangat berterima kasih atas adanya kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Dan      semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan bagi siapapun terutama mahasiswa/I UINSU, dan juga menambah wawasan dan manfaat bagi kita semua.




                                                            Medan, 12 oktober 2016
                                               










DAFTAR ISI
Halaman judul…………………………………………………………….i
Kata pengantar……………………………………………………………ii
Daftar isi         …………………………………………………………..iii
BAB 1 PENDAHULUAN
A.   Latar belakang………………………………………………….1
B.   Rumusan masalah………………………………………………2
C.   Tujuan ………………………………………………………….3
BAB II PEMBAHASAN
A.   Agregat demand…………………………………………………4
B.   Agregat  supply………………………………………………….5
C.   General equilibrium……………………………………………..6
BAB III PENUTUP
A.   KESIMPULAN…………………………………………………7
DAFTAR PUSTAKA








BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang

Masalah ekonomi terletak pada persoalan sumber daya ekonomi dengan kebutuhan manusia, bahwa secara keseluruhan tidak terjadi kesenjangan antara jumlah sumber daya ekonomi dengan kebutuhan manusia artinya dengan keseimbangan (equilibrium).maka pada sewaktu-waktu masalah ekonomi tetap akan dihadapi oleh manusia didunia ini. Hal ini juga selaras dengan firman Allah SWT “dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan,kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan.dan berikanlah berita yang gembira bagi orang-orang yang sabar”. Sementara pada sisi lain keinginan manusia secara relatif juga tidak terbatas, artinya kalau sudah terpenuhi satu keinginan timbul keinginan lainnya demikian seterusnya.

B.   Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.      Apa yang dimaksud dengan general equilibrium
2.      Apa yang dimaksud dengan aggregate demand
3.      Apakah yang dimaksud dengan aggregate suplly ?

C.   Tujuan
Adapaun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang:
-          General equilibrium
-          Aggregate demand
-          Aggregate suplly










  BAB II                     
      PEMBAHASAN 


A.    Aggregat Demand (Permintaan agregat) [1]
Berbeda dengan kurva agregat supply (AS)yang di turunkan daari keseimbangan di pasar tenaga kerja, maka kurva AD di turunkan dari keseimbangan di pasar barang dan pasar uang. Permintaan aggregat (aggregate demand,AD) adalah jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dalam perekonomian yang diminta pada berbagai tingkat harga.[1]
a.       Keseimbangan pasar barang (Kurva IS)
Keseimbangan di pasar barang terjadi jika uotput yang dihasilkan sama dengan jumlah permintaan barang-barang konsumsi, investasi, dan juga belanja pemerintah. Kurva I=S, I adalah Investasi, sedangkan S adalah saving.
Dalam ekonomi mikro islam telah di jelaskan bahwa pendapatan yang di terima dapat di gunakan sebagai konsumsi dan sebaagaian lagi dapat disimpan.Berikut adalah persamaannya :
Y = C +S
                 Y = pendapatan
                 C = konsumsi
                 S = simpanan
Bila di asumsikan seluruh simpanan tersebut digunakan untuk investasi, maka:
S = I
Y = C + I
Keseimbangan ini S = I digambarkan dengan kurva ber-slope positf. Bila S=10, I=10, S=50, maka I=50


B.      Aggregat Supply (Penawaran agregat)
Aggregat Supply (Penawaran agregat) adalah hubungan antara jumlah barang dan jasa yang ditawarkan  dan tingkat harga. Penawaran agregat meliputi pendapatan nasional atau barang dan jasa yang dikeluarkan di dalam negeri ditambah dengan barang dan jasa yang diimpor.
Agregate suplay adalah jumlah output yang akan diproduksi dan dijual oleh kalangan bisnis pada harga yang berlaku, pada kapasitas produksi tertentu dan dengan biaya-biaya tertentu.  Pada umumnya kalangan bisnis berkeinginan memproduksi  output potensialnya (bahwa output maksimum yang dapat dihasilkan perekonomian tanpa menaikan laju inflasi adalah output potensial) namun apabila tingkat harga dan tingkat pengeluaran rendah, produsen akan menghasilkan barang dan jasa dalam jumlah yang kecil dari output potensialnya.
Sedangkan pada periode dimana  tingkat harga dan dan permintaan sangat tinggi ,produsen bisa menghasilkan barang dan jasa yang lebih besar dari output potensialnya untuk sementara. Bahwa dalam setiap perekonomian yang merupakan perekonomian terbuka, penawaran agregat  meliputi pendapatan nasional atau barang dan jasa yang dikeluarkan dalam negeri, ditambah dengan barang dan jasa yang di impor.[3]
a.  Kurva AS ber-slope Positif : Tanpa Regiditas dan Rigiditas Gaji
Kurva AS adalah berslope positif, seperti halnya kurva S dalam ekomomi mikro. Asumsi yang digunakan dalam kurva AS yang berslope positif adalah:
1. Harga-harga fleksibel, dapat turun atau dapat naik. Dengan kata lain tidak ada rigiditas harga (kekakuan harga).
2.  Gaji-gaji fleksibel, dapat turun atau dapat naik. Dengan kata lain tidak ada rigiditas gaji (kekakuan).
3. Perekonomian belum berada pada keadaan kapasitas penuh, sehingga setiap kenaikan AD dapat dipenuhi oleh kapasitas produksi yang ada.
Pada kenyataan tidak selamanya ketiga asumsi itu dapat terpenuhi. Alternatif lain adalah dengan mengasumsikan rigiditas terjadi pada harga, bukan pada gaji. Secara lengkap asumsi alternatif lain ini adalah:
1.  Pasar barang kompetitif, dan Harga-harga tidak fleksibel (dapat naik dan dapat turun).
2.  Gaji-gaji tidak fleksibel. Dengan kata lain ada rigiditas gaji (kekakuan gaji).
b.  Kurva AS ber-slop Horizontal: Rigiditas Harga
Adapun alternatif lain dari asumsi keynes adalah dengan mengmsusikan rigiditas pada harga, bukan pada gaji. Secara lengkap asumsi alternatif ini adalah :
1.  Harga-harga tidak fleksibel
2. Pasar tenaga kerja kompetitif, dan gaji-gaji fleksibel. Dengan kata lain tidak ada rigiditas gaji (kekuatan gaji).
c.  Kurva AS ber-slop Vertikal: Rigiditas Output
Adapun alternatif lain dengan mengasumsikan rigiditas terjadi pada output, bukan pada gaji atau pada harga. Kurva AS mempunyai slope yang vertikal pada saat seluruh kapasitas produksi perekonomian telah terpakai. Asumsi yang digunakan dalam kurva AS yang berslope vertikal adalah :
1. Perekonomian berada pada keadaan kapasitas penuh. Dengan kata lain, ada rigiditas output
2. Harga-harga fleksibel, dapat turun dapat naik. Dengan kata lain tidak ada rigiditas harga (kekakuan harga).
Kurva Penawaran agregatif dalam ekonomi Islam menggambarkan volume produk nasional yang akan diproduksi pada tingkat harga yang berbeda-beda. Oleh karena dalam ekonomi Islam tidak ada monopoli dalam setiap pasar (dan penguasa harus memperhatikan hal ini), maka uang atau upah nominal yang harus dibayarkan kepada pekerja adalah benar-benar sempurna fleksibel dapat bergerak ke atas dan ke bawah, sebab penentuan apakah mereka bekerja atau tidak, didasarkan semata-mata kepada upah nyata yang ditawarkan. Kurva penawaran agregatif (AS) diturunkan dari keseimbangan kurva pasar tenaga kerja.
Dalam Agregate suplay pasar tenaga kerja adalah keadaan dimana terdapat penawaran tenaga kerja yang berasal dari angkatan kerja  dan permintaan tenaga kerja yang berasal dari peusahaan. Semakin tinggi permintaan akan tenaga kerja, sedangkan penawaran tenaga kerja yang terbatas akan berdampak pada naiknya upah, sebaliknya jika permintaan tenaga kerja sedikit sedangkan penawaran tenaga kerja meningkat, maka upah akan turun.
Ada dua hal yang penting dimiliki oleh kurva AS:
1.      Output yang meningkat akan meningkatkan harga. Hubungan ini dapat dilihat dari beberapa langkah,   yaitu jika output meningkat, maka Y akan meningkat. Selanjutnya jika N (tenaga kerja) meningkat maka penganguran akan turun, selanjutnya akan meningkatkan upah, pada akhirnya meningkatkan tingkat harga, sehingga secara singkat jika output meningkat maka tingkat harga secara umum akan meningkat.
2.      Harga yang meningkat tidak terlepas dari adanya ekspektasi harga yang meningkat. Hal ini terjadi karena ekspentasi harga yang mendorong meningkatnya upah dan akan meningkatkan tingkat harga.

           
C.    General Equilibrium
Pemikiran ekonomi Islam dari mazhab mainstream inilah yang paling banyak memberikan warna dalam wacana ilmu ekonomi Islam sekarang karena kebanyakan tokoh-tokohnya dari Islamic Development Bank (IDB) yang memiliki fasilitas dana dan jaringan kerjasama dengan berbagai lembaga internasional. Tokoh-tokoh mazhab mainstream antara lain adalah M. Umar Chapra, M.A Manna, Najatullah Siddiqi, Khurshid Ahmad, Monzer Kahf. Berbeda dengan pendapat mazhab Baqir As-Sadr dimana mazhab mainstream bisa membenarkan bahwa masalah ekonomi terletak pada persoalan kelangkaan (scarcity) sumber daya ekonomi dibandingkan dengan kebutuhan manusia. Menurut mazhab mainstrem bahwa memang secara keseluruhan tidak terjadi kesenjangan antara jumlah sumber daya ekonomi dengan kebutuhan manusia artinya ada keseimbangan (equilibrium). Namun secara relatif pada satu waktu tertentu dan pada tempat tertentu tetap akan dijumpai persoalan kelangkaan tersebut. Jadi kesimpulannya bahwa masalah ekonomi tetap dihadapi oleh manusia di dunia ini. Hal ini juga selaras dengan firman Allah SWT “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. Sementara pada sisi lain keinginan manusia secara relatif juga tidak terbatas artinya kalau sudah terpenuhi satu keinginan timbul keinginan lainnya demikian seterusnya. Keadaan ini dilukiskan dalam Al-Qur’an Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatan itu) dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahiim. Maksud bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan. Jadi sampai di sini tidak ada perbedaan antara ekonomi konvensional dengan ekonomi Islam.[4]
Perbedaannya terletak pada mekanisme menyelesaikan masalah ekonomi. Menurut pandangan mazhab mainstream bahwa penyelesaiannya masalah ekonomi tersebut harus merujuk pada Al-Qur’an dan Assunnah. Sedangkan dalam pandangan kapitalisme klasik melalui bekerjanya mekanisme pasar dan sosialisme klasik melalui sistem perencanaan yang sentralistis. Karena sebagian besar dari tokoh mazhab mainstream ini adalah alumni dari berbagai perguruan tinggi ternama di Amerika dan Eropa, maka kontribusi yang signifikan dari para tokoh mazhab mainstream adalah mampu menjelaskan fenomena ekonomi dalam bentuk model-model ekonomi yang canggih dengan pendekatan ekonometri. Mereka sukses menjelaskan ekonomi Islam dengan wajah ‘ilmu ekonomi’ sehingga mudah dipelajari dan enak dicerna bagi mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan ekonomi.
Mazhab mainstream memiliki anggapan bahwa perbedaan utama antara ilmu ekonomi konvensional dengan ekonomi islam adalah dalam hal cara mencapai tujuan. Mereka menyetujui tentang pandangan konvensional bahwa masalah ekonomi muncul karena adanya keterbatasan sumber daya ekonomi untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Dengan tetap memberikan pandangan kritis terhadap aspek-aspek normative dalam ilmu ekonomi, mahzab mainstream memfokuskan pada cara mengelola sumber daya yang terbatas dan keinginan manusia yangtidak terbatas. Sesuai dengan namanya, maka mazhab mainstream mendominasi khasanah pemikiran ekonomi islam dikarenakan pemikiran mereka lebih moderat serta ide-ide mereka banyak ditampilkan dengan cara-cara ekonomi konvensional sehingga lebih mudah diterima masyarakat. Selain itu kebanyakan tokoh merupakan staf, peneliti, penasehat, atau setidaknya memiliki jaringan erat dengan lembaga-lembaga regional dan internasional yang telah mapan sehingga dapat mensosialisasikan gagasan ekonomi dengan baik.[5]










BAB III
         PENUTUP

A.    Kesimpulan
Aggregat Supply (Penawaran agregat) adalah hubungan antara jumlah barang dan jasa yang ditawarkan  dan tingkat harga. Penawaran agregat meliputi pendapatan nasional atau barang dan jasa yang dikeluarkan di dalam negeri ditambah dengan barang dan jasa yang diimpor.
Aggregate demand(Permintaan Agregat) adalah jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dalam perekonomian yang diminta pada berbagai tingkat harga.








DAFTAR PUSTAKA


Huda, Nurul. Ekonomi Makro Islam: Pendekatan Teoritis. 2008.Jakarta: Kencana
Karim, adiwarman. Ekonomi Makro Islam. 2014. Jakarta. PT Rajagrafindo Persada
Sukirno, Sadono. Makroekonomi Teori Pengantar. 2013. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
http://bit.ly/fxzulu, diakses pada  tanggal (13 Mei 2016, pukul 15: 45).


[1] Adirwan Adiwarman. Ekonomi Makro Islam: Pendekatan Teoritis. (Jakarta: Kencana, 2008), h. 34
[2] Nurul Huda, Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teorestis, (Jakarta: Kencana, 2009),h. 281
[3] Nurul Huda, Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teorestis, (Jakarta: Kencana, 2009),h. 290
[4] http://bit.ly/fxzulu, diakses pada  tanggal (12 Mei 2016, pukul 15: 45).
[5] Nurul Huda, Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teorestis, (Jakarta: Kencana, 2009),h. 283.
                       






[1] http:// mypeniapriani.blogspot.com/2016/05/  Islamic general equilibrium

No comments: